Kamis, 04 Februari 2016

Profil Puji Astuti Awalnya Usaha Jualan Sate Kelinci

Kisah Pengusaha Nyentrik



Awalnya, Puji Astuti hanya karyawan biasa sebuah perusahaan farmasi obat- obatan. Pekerjaan itu memang sesuai atar belakang pendidikannya sebagai lulusan sekolah menengah atas farmasi. Hanya saja bukan dari sini cerita kesuksesan itu berasalnya.

Ia dan suaminya, Achmad Sutarli, sama- sama bekerja di sana. Setelah menikah lalu Puji memilih keluar dari perusahaan farmasi tersebut.

Di tahun 2008 -an, seorang petugas penyuluhan lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) Dukupuntang datang memperkenalkan cara beternak kelinci kepada Puji. Dia jujur tidak memiliki latar belakang beternak kelinci, apa dilakukan Puji? Berbagai cara dilakukan mencari tau tentang kelinci.

Dia sangat berantusias sampai mencari berbagai sumber. Dia mulai keluar masuk berbagai perpustakaan atau mengikuti beberapa seminar tentang kelinci. Kesimpulan Puji sendiri bahwa kelinci seperti kelapa. "Kelinci itu seperti kelapa, semuanya bermanfaat," terang Puji.

Ia baru tau kalau kelinci mempunyai berbagai manfaat kesehatan. Daging kelinci ternyata memiliki manfaat menjadi obat beberapa jenis penyakit. Aneka penyakit itu antara lain seperti asma, infeksi tenggorokan, liver, dan asam urat. Daging kelinci, lanjut Puji, memiliki kadar lemak rendah, memiliki nilai protein serta kalsium tinggi.

Puji menerima tawaran ini bermodal Rp.200.000. Dia membeli lima kelinci. Setengah tahu telah berselang, kelincinya berkembang biak cepat dan banyak.

"Rata- rata seekor kelinci melahirkan lima ekor anak kelinci," terangnya.

Ide sate kelinci


Bernak- pinak membuat kandang kelinci penuh. Puji segera memutar otak agar kelinci tersebut laku terjual habis. Jadilah terbesit ide membuka warung makan sate kelinci. Puji mengaku paham berkat belajar dari tiga rekan pernah gagal berbisnis sate kelinci.

"Masalah utamanya adalah jumlah persediaan daging kelinci," terangnya.

Untuk itulah Puji segera saja ikut bergabung organisasi peternak kelinci, Cirebon Rabbit Association (CRA), dimana beranggotakan sekitar 50 orang.

Di antara rekan satu organisasi, Puji dikenal paling banyak memiliki kelinci. Dia memiliki setidaknya 150 ekor sedangkan teman Puji rata- rata hanya 10 ekor. Ini memang telah menjadi passion seorang Puji Astuti. Coba kamu bayangkan satu ekor kelinci bisa melahirkan lima ekor anak.

Setiap pekan, Puji memerlukan paling sedikit 50 ekor kelinci pedaging siap olah. Untuk memenuhi kebutuhan warung, ia mulai mengambil kelinci peternak lain dari wilayah Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Dari berjualan sate kelinci tiap harinya warung miliknya menghasilkan Rp.500.000 hingga Rp.1 juta.

Puji menikmati berbisnis sate kelinci tapi juga aktif mengerjakan bisnis lain. Dia bersama sang suami mampu mengolah kulit kelinci menjadi berbagai kerajinan. Puji Astuti mengembangkan abon daging kelinci sebagai varian produk olahan. "Sekitar 5 kali gagal tapi sejauh ini 100 toples atau 50 kilogram abon kelinci bisa saya olah," katanya.

Menurut Puji, hasil olahan usahanya itu pernah diikutkan pameran Kredit Usaha Mikro dan Kecil (UMKM) dearah Bandung. Selain Bandung, produknya sudah masuk  Kota Semarang, Jawa Tengah. Satu toplesnya berisi setengah kilogram abon kelinci dihargai Rp.20.000. Puji juga menitipkan sebagian produk abon kelinci ke sebuah toko makanan di Cirebon.

Menurutnya, tujuan pembuatan abon kelinci yakni memperkenalkan produk olahan daging kelinci kepada masyarakat. Puji berharap lebih banyak lagi ibu- ibu rumah tangga mau beternak kelinci. Menurut Puji dihitung- hitung lima ekor kelinci bisa setara satu ekor sapi atau dua ekor kelinci setara seekor kambing atau domba.

Untuk itulah dia membuka peluang lewat kelompok wanita Tani Srikandi Melati. 

Artikel Terbaru Kami