Selasa, 02 Februari 2016

Membangun UD Pengekspor Arang Sampai Korea

Profil Pengusaha Ana Riswati 


 
Lulus Diploma 3 Akuntansi membuatnya selalu berhitung pasti. Termasuk menghitung jalannya berwirausaha kelak. Sayangnya, seperti halnya pengusaha lain, sebaik apapun hitungan mu pastilah kegagalan terpampang nyata. Tinggal bagaimana kita menghadapi, seperti hal Ana Riswati yang sukses berbisnis arang sampai ke luar negeri.

Ana, perempuan 35 tahun ini ketika ditemui oleh pewarta Detik.com, bercerita asal muasal bisnis batu arang. Dia berkisah semua karena hasratnya berwirausaha. Jadi jatuh bangun sudah menjadi hal biasa. Ini sudah masuk dalam hitungan perempuan berambut sebahu ini.

"Beberapa kali jatuh bangun," ucapnya getir. Kisah awal Ana bermula ketika seorang kawan mengeluh susah mencari arang. Seketika pikirannya masuk bagaimana kalau berbisnis arang. Bagaimana kalau dia memulai membuat arang yang katanya langka.

Tetapi tidak semudah dibayangkan teman- teman. Penyebabnya adalah salah perhitungan disaat memulai. Awal dia cukup membeli arang jadi lantas dijual kembali. Usaha dagang tersebut malahan merugi melulu. Ya tanpa mempunyai pengalaman apapun. Ana lantas berniat memproduksi sendiri komoditas berbahan kayu tersebut.

Sambil berproduksi sambi mempelajari seluk beluk arang. Termasuk belajar membuat dari sentra arang agar lebih tajam. Dia mulai menjadi pengepul mengumpulkan arang warga. Lama- lama usahanya jadi membesar berkat ketekunan. Ana resmi mendirikan UD Sri Bintang, mulai menyeleksi arang berkualitas untuk dijual kembali.

Permintaan pun naik drastis memasuki pasar lokal. Seperti perhitungan awal meski agak meleset dibelakang tidak masalah. Dari pasar lokal nama UD Sri Bintang naik menjajal luar daerah. Bahkan dia tidak perlu turun gunung menawarkan produk -orderan datang sendiri. Sampai Ana sendiri khawalahan melayani pesanan.

Memang arang buatan Ana berbeda dari sebelumnya. Dia bekerja sama bersama warga meningkatakan dari segi kualitas. Karena sadar akan kesalahan hitung, ia pun belajar langsung ke orang yang sudah sukses dulu di bisnis arang. Total empat nama dijadikan guru olehnya sebelum terjun berbisnis kembali.

Ia tidak membocorkan namanya. Tetapi Ana menyebut sebagian besar merupakan orang Yogyakarta. Inilah kenapa pengusaha harus selalu belajar. Ilmu tersebut dipadukan dengan hasrat Ana berbisnis. Ia mengutak- atik formula pembuatan arang sendiri.

Pasar ekspor


Memenuhi pasar dalam negeri sudah biasa. Kini Ana telah merambah pasar luar negeri hingga Korea bahkan Arab Saudi. Tidak ada rahasia sukses khusus dibagikan dia. Cuma ketekunan dimiliki perempuan sederhana yang jauh dari polesan bedak. Rahasia sukses, dengan tersipu malu, bahwa itu berkat kualitas produknya.

"Kunci kepercayaan konsumen adalah jika kita dapat mempertahankan kualitas," ujar Ana. Perusahaan saat ini menjual arang dikemas apik bersama pematik api. Tujuan utama ekspor arang UD Sri Bintang adalah Korea Selatan serta beberapa negara asal Timur Tengah; Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon.

Produk buatan Ana sudah dikenal oleh banyak orang. Perempuan kelahiran Maret 1977 ini tetap menjaga mutu produksi. Inovasi selalu dihadirkan oleh Ana ditengah perjalanan. Sebut saja pemanfaatan bermacam teknologi untuk pengeringan misalnya.

Perusahaan Ana sudah menggunakan oven untuk mengeringkan 70% produksi. Oleh karenanya kadar air di dalam arang relatif lebih rendah. Karena dioven maka arang buatan Ana lebih berat dibanding dibakar. Ia mengakui roda kehidupan tidak selamanya diatas. Berbagai kendala dihadapi bahkan harian, seperti datang musim hujan.

Untunglah dia memanfaatkan oven sebagai pembakar. Hanya, masalah lain muncul, kerap jalanan menjadi licin hingga pengiriman terganggu. Kendaraan pengangkut terkadang tidak mampu menembus medan tempat bahan baku utama.

Usaha sederhana menghasilkan omzet Rp.240 juta. Merupakan sandaran hidup keluarga Ana serta para karyawan berjumlah 26 orang. Mereka sebagian perempuan yang sudah bekerja sejak 2008. Obsesi besar Ana adalah bagaimana membangun pabrik arang bertungku besar. Secara rasional dia mengaku berpikir untung besar.

"...tapi buat saya ada yang tidak kalah penting," lanjut Ana. Baginya menjaga perusahaan agar tetap berjalan merupakan hal terpenting. Dia tidak memaksa berekspansi segera. Pekerja harus tetap bisa bekerja dan juga mendapatkan pendapatan setiap bulan.

Artikel Terbaru Kami