Kamis, 04 Februari 2016

Daftar Pengrajin Bonggol Bambu Maju

Kisah Sukses Pengusaha Perajin 


 
Mulai orang biasa sampai Sarjana bisa berusaha. Menjadi wirausaha bukan sekedar penyaluran hobi. Ini tentang bagaimana kita mengambil kesempatan. Contohnya pengusaha- pengusaha berikut sukses mengambil kesempatan. Jika bambu berharga mahal maka bonggolnya seperti terbuang, maka ditangan mereka berjaya.

Mungkin buat kamu pembaca setia, kami pernah menulis kisah pengusaha bonggo jati disini. Kali ini kami menulis tidak cuma satu pengusaha tetapi tiga. Kisah mereka memang secuil tetapi patut kita apresiasi. Maka jadikanlah apa yang dikerjakan mereka tirulah. 

Ingatlah pepatah amati, tiru, dan modifikasi hasilnya agar lebih baik. Berikut pengusaha bonggo bambu buat kamu pengusaha pemula.

1. Bangkit Praminto Nugroho, 21 tahun

Warga asli Kalipancur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, adalah pemuda yang menyulap bonggo bambu menjadi usaha. Sukses Bangkit berbekal bambu bekas tebangan warga. Daya imajinasinya dituang ke setiap ukiran. Memang bambu menjadi salah satu komoditis andalan wilayah tersebu tetapi belum optimal.

Menjadi pemuda harapan bangsa memberikan efek positif. Terutama bagi warga Kabupaten Pekalongan itu sendiri. Sosok yang juga ketua Pemuda Dharma Putra Desa Kalipancur ini, mengatakan bahwa bukan cuma dirinya menjadi pengarajin disini. Tetapi sudah banyak pemuda lain memproduksi asbak, celengan ataupun bolpoin.

Untuk menjaring lebih banyak peminat, pemuda Kalipancur ini mengikuti aneka pamerena termasuk di stand Pameran Kajen Expo 2014 silam. "Untuk saat ini, pemasaran kerajinan bonggo bambu masih terbatas," aku dia.

Produk mereka sudah dipasarkan lewat blog: ikadaput.blogspot.com. Mereka juga punya Facebook khusus pemuda dharma putra. Bangkit mengaku belum banyak tanggapan diterima. Pesanan produk masih sebatas dari teman- teman sanggar. "...selain melalui pameran," tuturnya. Aneka pamerena dijadikan andalan promosi bagi mereka.

Jumlah produksi bisa mencapai 60 buah jikalau permintaan banyak. Produk utama mereka meliputi asbak kecil seharga Rp.20.000, asbak ukuran sedang Rp.30.000, sampai ukuran besar sampai Rp.50.000. Lalu ada celengan berbentuk hewan dipatok seharga Rp.10.000 sampai Rp.15.000. Untuk harga bolpoin seharga Rp.7.000 sampai Rp.8.000.

2. Warsito, 40 tahun

Sarjana ekonomi satu ini sudah menggeluti bisnis bonggol bambu sudah 10 tahun. Di tempatnya Kelaten, memang berdiri banyak industri kreatif, termasuk pembuatan bebek berbahan akar bambu. Sarjana salah satu Universitas di Yogyakarta ini, mengaku memulai sejak 2002, karena minat akan kewirausahaan.

Sejak lulus kuliah dia ingin bekerja sesuai minat. Meski lulusan ekonomi dia merupakan seoranga artis, jiwa seni itu mengalir kental mulai kesenian lukis dan seni pahat. Dasar itulah yang membawanya ingin berkuliah di institusi seni. Hanya akhirnya pelihan jatuh malah di jurusan manajemen, tetapi jiwa seninya belum kandas.

Disela berkuliah kegiatan Warsito antara lain melukis atau membuat patung. Berjalannya waktu ide mengenai kewirausahaan tumbuh. Habis lulus kuliah dilanjutkan belajar kembali yakni seni ukir bonggo bambu. Dia lalu menggunakan ilmu manajemannya untuk memasarkan produk bambu.

Warsito mengaku pertama kali membuat aneka prabot bambu asli. Soal harga jual memang tinggi hanya saja perputaran barang lama. Maksudnya dibuat sekarang belum tentu akan laku besok. Warsito butuh produk cepat laku dijual. Hal lain adalah bahan baku sukar didapat. Lalu kalau mau prabot unik butuh bambu yang unik.

Ia mulai mencari tau produk apa yang mudah bahan baku. Suatu waktu dia melihat kentongan tetangga yang terbuat bahan bonggo bambu. Warsito lantas mencari dimana dia mendapat bonggol bambu. Pertama kalinya ia membuat kentongan bonggol kayu. Ketika ditaruh dipojok, eh, dia berpikir kok bentuk bambu itu mirip bebek.

Dilihat terus ternyata memang berbentuk bebek. Dia tingga menaruh kaki serta kepala berbahan kayu. Inilah awal usaha patung bebek khas Warsito. Tidak puas imajinasinya melalang ke angsa, bangau, babi sampai ke wajah manusia. Usaha ini dijalankan dari bengkel rumahnya. Kemudian eksportir asal Yogya, Solo dan Bali memesan.

Guna memenuhi pemesanan maka dibutuhkan karyawan. Tidak jarang Warsito memanfaatkan tenaga lepas untuk menggarap. Omzetnya sendiri masih belum stabil tetapi sangat menjajikan. Perbulan pesanan belum tentu akan sama. Harga bebek tidak difinishing atau masih asli dihargai Rp.25 ribu.

"Kalau pas ramai ya lumayan besar, sebulan bisa Rp.40 juta," jelasnya.

Rahasia sukses menurut Warsito mudah kok teman: (1). Dia cukup fokus di usaha berdasarkan passion atau minat, (2). dia selalu menjaga kualitas produk, termasuk kualitas barang yang akan dikirim .Warsito punya standar mutu tertentu, (3) Kalau barang tidak sesuai maka akan segera diperbaiki, atau dia akan mengganti dengan baru.

Meski sering dikomplain harga lebih mahal dibanding perajin lain. Ketika mereka menyadari bahwa murah itu malah kualitas jelek maka mereka kembali ke Warsito.

3. Jumaro Joko Pratomo, 44 tahun

Ia spesialis dalam hal membentuk wajah manusia. Ketrampilan bapak dua anak ini memang sudah tidak asing dimata masyarakat. Pasalnya sejak muda, semasa duduk di SD Negeri Jati 1, Joko kecil dikenal pandai soal menggambar. Dia bahkan dikenal selalu memenangi lomba menggambar ketika sekolah.

Jiwa wirausaha pun sudah dimiliki sejak kecil. Jika anak lain jualan donat, maka Joko kecil menjual lukisan buatan sendiri untuk biaya sekolah. Sempat bekerja menjadi pegawai pengolaha kayu di Sumatera. Tahun 1990 -an, ia memutuskan keluar dan memulai usaha kayu sendiri, mencoba mengandu nasib berbisnis kayu.

Joko pindah ke Malang tahun 1996, lantas menikahi seorang wanita bernama Catur Widiati. Yang kemudian bisnisnya ditinggalkan buat bekerja serabutan. Beberapa tahun membuat aneka kerajinan faktnya rejeki itu belum ditangannya. Galau ia mulai menyusuri Sungai Berantas menemukan sebonggol bambu. Naluri seni pun muncul tiba- tiba dari situ.

Pulang kerumah dibawalah sebonggol bambu bekas. Dia memahatnya hati- hati mencari inspirasi bentuk dan maka jadilah patung bebek.

Ini menghasilkan karya menarik. Joko yakin mampu mendulang pundi uang. Maka semangatnya kembali dan mulai membuat aneka kerajinan lain. Memang tidak salah melangkah. Dia berhasil memasarkan bebek itu di sekitaran Malang. Di 7 Juni 2000, maka lahirnya workshop atau bengkel yang diberinya nama Galeri 76.

Benar keberuntungan bagi Joko, apalagi sejak musim aneka pameran kerajinan, sebut saja Indonesian Craft atau bekennya Inacraft. Waktu itu tahun 2000 kerajinan Joko dipamerkan di satu stand Jakarta Convention Center, Jakarta, memikat perhatian pengunjung. Para peminat barang kerajinan manca negara menyaksikan.

Kreasinya ludes habis terjual. Namun, kesadaran menggugah pikiran Joko, dia harus lebih kreatif lagi agar ia memanggil lebih banyak rejeki. Motif aneka binatang menjadi andalan. Lambat laun dia merambah aneka hal seperti juga wajah manusia. Kalau dulu hanya kerajinan, kini kerja Joko fokus memanjakan pembeli dengan seni.

"...cenderung ke inovasi baru untuk mengangkat nilai arts (seni). Kita cenderung mengangkat ke primitifnya," jelasnya.

Dari sekedar bahan bonggol bambu kini merambah bonggol jati dan kayu kopi. Bahan baku diambil banyak tempat seperti Pakisaji, Donomulyo, sampai Tumpang.

Soal pembuatan sudah tanpa dikonsep. Joko mengalir ketika menyentuh bahan bonggol. Enaknya dia akan buat bebek atau ukiran wajah. Uniknya dia mengangkat pegawai yang bekas narapidana. Ia menyambangi lurah Kecamatan Pakisaji, mencari tau siapa saja mantan narapidana. Puluhan orang sukses ditarik bekerja di workshopnya.

"Semua lata belakang kasusa ada, kecuali pemerkosa," kelakar Joko kepada pewarta Kreator.id. Mereka itu memang sengaja direkrut. Selain karena rasa kemanusiaan narapidana sudah dibelaki kemampuan kerja selama di penjara.

Khusus Galeri 76 merekrut pekerja 6 karyawan. Masing orang memiliki keahlian teruji tersendiri seperti yang satu membuat wajah dan lainnya. Satu orang saja minimal menghasilkan 7 buah kerajinan. "...itu kalau lagi mood," candanya lagi. Pasaran produk antara Rp.50.000 sampai jutaan. Ia bahkan pernah menjual sampai Rp.40.000.000.

Karya itu adalah karya bonggol primitif. Memang terlihat guratan ukiran etnik kental. Peminatnya tidak cuma lokal tetapi sampai Jepang, Amerika, Prancis, Belgia, dan Belanda. Kerja media masa memang membantu dia memasarkan produk signifikan. Ini pembuktian bahwa kerajinan itu nilainya sampai miliaran rupiah jika diteruskan.

Artikel Terbaru Kami