Rabu, 13 Januari 2016

Kisah Tas David Yuwono Modal 800 Ribu

Profil Pengusaha David Yuwono



Alkisah, di awal kuliah David Yuwono sibuk akan kegiatan kuliah dan juga pacaran, kala itu sang ayah secara sadar atau tak sadar mengomentari kegiatan putranya yang satu ini. "Lantas ayah bilang, pacaran kok pakai duit orang tua," kenang David.

Ia yang saat itu duduk di semester 3 bertekat untuk mencari uang sendiri. Ternyata dari hal sekecil itu bisa merubah seorang pemuda 19 tahun menjadi pemberani. Kebulatan tekatnya mendirikan usaha sendiri tidak lain semua berkat celetukan ringan sang ayah.

Dia ingin mendapatkan pengalaman bagaimana sih sulitnya mencari uang sendiri. Awalnya, David memulai berjualan spageti yang dimasak oleh pembantunya, yang dijualnya di kampus. "Jadi, teman-teman tak perlu pergi ke kantin," ujar pria yang baru lulus dari Universitas Prasetiya Mulya, Desember 2013.

David juga kemudian menjajal profesi sebagai agen asuransi dan broker properti. Dia pun tak segan jualan saringan air ke toko-toko bangunan dan jualan buku. "Pokoknya, apa yang bisa menjadi duit, saya jalanin," kata dia. Bahkan, ia pernah juga berjualan kue bersama teman-teman, walau akhirnya bubar jalan.

Dari segala kegagalan dan usaha itu memupuk kejelian seorang David. Ia mulai bisa mencium berbagai peluang untuk dibisniskan. Ketika anak- anak muda gamar mengenakan pakaian denim. Terbersit ide dalam benak David sebuah ide bisnis. Kala itu ia berniat membuat tas dari bahan dry denim yang memang lagi jadi tren di kalangan anak muda.

Mulai lah ia membeli bahan serupa, kebetulan, saat itu, produsen pengguna dry denim untuk produk tas masih belum ada. Dry denim sendiri adalah sejenis kain jins mentah, yang membentuk corak dan warna unik sebelum pencucian pertama kali.

"Jadi, semakin lama dipakai, justru makin keren. Tas itu, kan, juga jarang dicuci," jelas David.

April 2011, dengan bermodal tabungan senilai 800.000, David barulah memulai rencana bisnisnya tersebut. Dia membuat delapan tas sebagai contoh untuk dijual.  Karena mengandalkan bahan yang sedang populer, akhirnya ia hanya memilih bikin model tas ransel yang simpel.

Sesuai dengan bahan yang dipakai, David memilih menyematkan merek Dry Bag pada produknya. Tak lupa, dia kemudian menciptakan tagline 'makin brutal kamu pakai, makin keren' untuk mengokohkan brand Dry Bag. Karena sudah berpengalaman menjual produk, jadi mudah baginya untuk segera saja memasarkan produk itu.

Dengan berbagai strategi marketing yang bersumber pengalaman itu, maka dimulailah perjalanan baru sang pengusaha muda ini. "Intinya, saya harus menciptakan orang- orang yang seperti saya sebagai penjual," cetus dia yang juga membawa sendiri tasnya.

Dimulai dari lingkaran terdekat, David lalu meminta sejumlah teman untuk memakai tasnya. Tak ketinggalan, lulusan SMA Gonzaga ini juga minta tolong adik kelasnya di sekolah tersebut menjadi kepanjangan tangan. Tentu saja, ada iming-iming komisi jika mereka berhasil menjual tas tersebut. Dia jeli membidik pasar pelajar dari yang kuliahan dan sekolah menengah atas.

David pun sadar untuk tak mematok harga terlalu mahal yakni 140.000. "Saya harus menyesuaikan harga ini sesuai dengan kantong mereka," ujarnya.

Ternyata, tas David mendapat respons cukup baik, terutama dari mereka para pelajar SMA. "Tiga hari di Gonzaga, bisa laku 130 tas. Mereka suka bahan dry denim, meski terlihat lusuh," cetus David. Sepanjang 2011 itu, dia berhasil mencicipi untung hingga Rp 12 juta.

Halangan berbisnis


Roda hidup tak berhenti berputar. Langkah mulus David ternyata tak semulus jalannya. Pasalnya, pada akhir 2011, kualitas produk mulai terlihat menurun kualitasnya. "Terutama, pada aksesori pengait tas," kata dia. David memang tidak membuat sendiri produknya, itulah permasalahan baru baginya. Dia mengajak penjahit langganannya menjadi pemasok tas bukan menjahitnya sendiri.

"Jadi, saya hanya menunjukkan bahan dan model, lantas penjahit itulah yang membuat tas sekaligus mencari bahan dan aksesori-nya," terang pria berpenampilan low profile ini.

David mulai bingung ketika kualitas dry bag -nya semakin turun. Dia tak mau jika mengecewakan mereka para distributor dan pelanggan. Bermodal 20 juta hasil pinjaman dari sang ayah, David akhirnya memilih untuk mendirikan workshop sendiri. Agar fokus pada satu bidang yaitu menjadi produsen dry bag. Lewat rumahnya di Cinere disulapnya menjadi workshop, sekaligus kantor.

Beruntung berkat kerja kerasnya, ada seorang penjahit berpengalaman yang setuju ikut bergabung dalam workshop -nya.

Hasilnya, ia kembali ke jalan lurus, tepat di tahun 2007 menjadi jalan baru bisnisnya. Tidak terbatas produk dry denim saja, ia merambah merambah bahan jeans japan dan cordura. Model tas pun terus berkembang. Kini, dia juga membuat tas slempang dan tas ransel berkapasitas besar untuk kebutuhan traveling. Bukan lagi cuma tas, David yang kian lincah berbisnis, mulai mengendus peluang sepatu.

Sejak pertengahan 2012, dia mulai berbisnis sepatu kulit dengan merek SuedeShoe. Namun, dia mengaku hanya mengincar konsumen pria untuk produk alas kaki ini.

"Karena, perempuan lebih pandai berbelanja," celetuk dia beralasan.

Produk berkualitas tapi harga pas dikantong jadi tajuk utama bisnisnya. Dia menggunakan ini bergeriliya masuk merebut pasar. Khususnya, untuk harga, David mengaku harus berpikir matang- matang. "Itu sabagai kunci untuk merebut pasar," jelasnya. Karena itu, meski berbahan kulit asli, bandrol harganya bisa seminim mungkin sampai hanya Rp.200.000 -an.

Seiring perkembangan bisnisnya, David fokus untuk menjalin kerja sama dengan para pemasok. Bahkan, itu hampir 80% produknya dipesan dari para supplier, hingga dia tetap bisa berkonsentrasi di dalam pemasaran saja. David mengaku ingin mengembangkan pasarnya hingga ke luar negeri. Dia pun rajin menggarap pasar online melalui penjualan reseller dan distributor.

David mulai rajin memasang produknya di situs seperti Lazada dan Kaskus. Tidak heran, setelah tiga tahun menjadi pengusaha muda, salah satu pemenang lomba pengusaha  muda yang diadakan salah satu bank ini, telah mampu mendulang omzet berkisar Rp 800 juta sepanjang 2013 lalu.

Modal waktu


David Yuwono mengorbankan waktunya di semester tiga di bangku kuliah untuk menjalankan usaha yang diyakininya. Berkat celetukan sang ayah, dari bisnis spageti hingga bisnis dry bag menjadi satu perjalanan panjang. Dia harus pandai membagi waktu dan akhirnya menyelesaikan kuliah sambil membesarkan bisnis barunya.

David kerap bercerita bagaimana dia merelakan waktunya bermain dengan teman- temannya.

"Kalau istirahat, saya jalan kaki, mengambil pesanan tas ke penjahit yang kebetulan tak jauh dari kampus," ujar dia.

Dia mengorbankan waktu bermain berjalan antara usaha dan kuliah. Dia tak mau pula untuk mengorbankan pendidikan, ia tetap melanjutkan kuliah. Faktanya, ia berhasil, kuliahnya selesai setelah empat tahun dan hasil IPK -nya sangat memuaskan yaitu 3,09. "Saya juga tak pernah mengulang mata kuliah," ujar dia.

Selain memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dengan menjalani usaha sewaktu kuliah, David juga lebih menghargai nilai uang itu sendiri. Sebab, dengan menghasilkan uang sendiri, dia malah sadar sulitnya mencari uang.

"Dorongan saya untuk punya penghasilan sendiri juga karena terlintas pikiran jika sudah tidak ada orangtua yang menopang hidup saya," kata dia.

David pun enggan menggelontorkan banyak uang untuk memodali bisnisnya. Ia memegang teguh prinsip: sebisa mungkin mengeluarkan modal bernilai sekecil mungkin, bila perlu nilai nol rupiah. "Kalau perlu modal dengkul, seandainya jatuh tidak sakit.

"Tapi, dengan modal sedikit dan perusahaan bangkit, itulah yang sulit," ujar dia. Lantaran itu pula lah David tidak pernah berhenti belajar. Baginya setiap bisnis baru adalah belajar kembali berulang kali.  "Enggak perlu takut jika produk awalnya kurang bagus.  Jika tekun, pasti akan memperoleh hasil lebih baik," kata dia.

Dia belajar untuk membuat gerai penjualan online sendiri. Menurut David tas denim buatannya ini mampu bertahan selama lima tahun. Dalam tempo 1,5 tahun sudah kelihatan warna lusuh khasnya. Warna luntur ini diharapkan menarik perhatian kolektor denim yang rela merogoh kocek sampai jutaan rupiah.

"Dengan membuat sendiri, akan lebih fleksibel untuk menambah produk-produk baru," tutup David, yang baru saja meluncurkan lapak mobile dan situs web- nya: m.newtasdry-denim.com dan tasdrydenim.com.

Artikel Terbaru Kami