Kamis, 14 Januari 2016

Habibi Pembuat Aplikasi Autis Cakra

Profil Pengusaha M. Rizky


Umur Muhammad Rizky Habibi memang baru memasuki 21 tahun. Namun kecerdasan Habibi telah sukses menginspirasi samua orang di Indonesia. Layaknya seperti Presiden BJ Habibie, nama yang satu ini mengukir prestasi dibidang teknologi. Bedanya Habibi ini dikenal sebagai penemu aplikasi terapi autis bukan pesawat terbang.

Mahasiswa baru Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini, lantas membawa pulang penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2015. Dia menyabet juara II kategori Teknologi Digital. Sosok pemuda sederhana mempunya kepedulian besar tentang sekitarnya. Ia belum berangan mempunyai pekerjaan. Kini dia cuma mau berinovasi saja.

Ia tergugah mengetahui biaya terapi autis sangat mahal. Yakni berkisar antara Rp.5- 6 juta dikeluarkan oleh orang tua. "Sejarah bikin aplikasi autis itu sudah sejak dulu," aku Habibi. Sebelum dikerjakan dia telah lebih dulu melalukan riset panjang.

Aplikasi bernama Cakra baru resmi selepas 2013. Aplikasi komputer terapi ABK yang bisa dipakai siapa saja. Ia ingin berbisnis sendiri mengambangkan produk sendiri. Anak muda kelahiran 3 Juni 1993 ini lantas mengingat perjalanan usahanya. Dimulai empat tahun lalu sejak semestaer III jurusan Teknik Informatika. Ia sadar akan kebutuhan alat semacam ini.

Apalagi tidak sedikit keluarga yang anaknya terkena autis hidup serba terbatas. Anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan terapi bekelanjutan. Kenapa tidak menggabungkan terapi dan alatnya menjadi satu. Ia menyebut supaya orang tua bisa menerapi sendiri. Habibi tidak menemukan apalikasi sejenis miliknya di gadget.

ABK lebih senang menyimpan game di gadget. Perjalan dimulai padahal dia sendiri tidak paham soal anak berkebutuhan khusus. Untuk itulah, ia menggandeng rekan kerja, yakni seorang psikolog atau terapis. Dia juga tidak mempunyai kenalan psikolog. Cuma bisa berjalan mengunjungi satu tempat praktik ke tempat lain.

Perjalanan panjang


Dia mulai dari tempat terapi, pusat autism center, sampai ke klinik psikologi. Bagian tersulit menurut Habibi ialah ketika harus meyakinkan mereka. Waktu itu, pandangan mata orang cuma melihat anak bau kencur yang baru Semester III, yang mau mengajak kerja sama bermodal seadanya.

"Jadi, ibaratnya kalau dahulu diusir- usir, sekarang alhamdulilah dicari- cari," tuturnya sambi tertawa ringan.

Kegigihan tanpa menyerah membawanya ke sosok Drg. Iiiy Yudiono, yang merupakan pemilik klinik Cakra Autism Center. Ia lantas mengajari Habibi awal bagaimana menangani ABK. Dalam perjalanan, dia dibantu oleh dua orang, Nurul Wahidatul Ummah dan Mentari Queen Glossyta. 

Konsep terapi dipergunakan olehnya ialah Applied Behavior Analysis (ABA). Terapinya kemudia diaplikasi dalam bentuk software. Usaha pengembangan dilakukan agar mudah diakses. Ia memastikan dulu apakah ini mudah dimengerti orang tua. Sambil disempurnakan, tahun 2012, dia mulai aktif mengikuti berbagai ajang kompetisi.

Ajang paling membanggakan adalah memenangi juara 1 World Citizenship Indonesia dari Microsoft Corp. Ia juga menjadi salah satu dari 10 finalis, menyisihkan sekitar 1000 -an semi- finalis yang akan berangkat ke Seattle, Amerika. Dia tidak masuk 10 besar. Tetapi dia tidak surut hati terus mengembangkan aplikasi ABK bernama Cakra Croze.

Pertama kali maka akan disediakan 77.000 pertanyaan anak. Maka orang tua tinggal bertanaya kepada si anak dan akan dinilai oleh software Cakra Croze. Awalnya sekali, aplikasi buatan Habibi cuma memiliki 20 macam terapi, bersama empat laporan diagnosa. Kemudian sejalan waktu macam terapi mulai naik menjadi 137 jenis terapi.

Ia membenamkan tiga faktor utama berupa evaluasi, terapi, dan laporan. Juga ia menambahkan dua jenis alat terapi yakni proton dan kinect. Untuk proton digunakan terapi okupasi dan reseptif. Kinect berfungsi untuk terapi motorik. Aplikasi free trialnya sudah banyak digunakan oleh dokter dari Surabaya, Bandung, Jakarta, Medan, dan Makassar.

Total alat Cakra telah mampu mengakses aneka trapi anak autis, ADHD, ADD, down syndrome, asperger,  dan slow learner.

Lebih lanjut ada dua jenis versi diluncurkan oleh Habibi. Versi Bronze, yang mana Cakra terbatas atas terapi dan tidak ada akases ke proton dan kinectnya. Sementara versi Silver memberikan 50 jenis terapi dan akses proton dan kinect. Maka versi Gold menawarkan kelengkapan yakni 132 terapi plus proton dan kinect.

Meski dikomersilakan, versi Bronze dan Gold diakuinya masih dibatas terjangkau. Meski komersial banyak orang tua masih berminat akan fiturnya. Pembeli aplikasi juga bukan cuma Surabaya tetapi seluruh Indonesia. Pembeli juga bukan cuma orang tua, tetapi psikolog dan dokter. Habibi sendiri berencana akan memasukan ini ke sekolah inklusi.

Artikel Terbaru Kami