Kamis, 14 Januari 2016

Calon Guru Memilih Pengusaha Muda Bumbu

Profil Pengusaha Agatha Virdhi Saputra



Anak pengusaha akan menjadi pengusaha. Tetapi tidak sedikit beralih profesi memilih jalan karir sendiri. Kita sebut kisah Agatha Virdhi Saputra. Alumni Insititut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP)  PGRI Jember ini akhirnya memilih budidaya jamur daripada berdagang.

Ia menemukan bahwa jamur tidak cuma dijadikan cemilan. Pengusaha 25 tahun yang memulai karirnya dari sekedar bantu- bantu usaha keluarga. Kini, dia mendirikan CV. Agatha Pratama, menghasilkan puluhan juta lewat berjualan bumbu masak saja.

Awalnya dia melihat ayah bekerja berjualan katering. Dia adalah petani jamur sekaligus pengusaha kuliner. Ia mencontohkan Virdhi membuat jamur jadi martabak atau sate jamur. Ini mendorongnya mengikuti jejak sang ayah menjadi pengusaha jamur. Meski bukan bidang pendidikannya yakni Sarjana Pendidikan tidak malah membuat minder.

"Saya ikut bantu menjual usaha ayah saya, hasilnya saya tabung," kenangnya. Dari uang tabungan tersebut ia mulai membangun bisnis sendiri.

Ahli Bioteknologi


Virdhi lantas membangun perkebunan jamurnya. Uang sebesar Rp.10 juta yang digunakannya membeli 200 botol bibit jamur. Sayangnya, usaha baru tersebut malah gagal lantaran salah penerapan. Awal dia memulai dengan membuat masakan lalu puding jamur. Kegagalan ini tidak membuat Virdhi menjadi menyerah begitu saja.

"Saya terus mencoba kembangkan jamur ini ke healthy food. Tanpa terasa lidahnya merasakan perbedaan di dalam jamur. Sebuah cita rasa alami mampu menggantikan MSG. Jika MSG mampu meningkatkan cita rasa masakan maka jamur sama. 

Bedanya adalah jamur dibenak Virdhi harus terbebas bahan kimia. Hasilnya mengejutkan tanpa bahan kimia pun cukup. Pengusaha binaan Kemenpora ini tidak lantas berpuas diri. Dia mulai menyebarkan cita rasa tersebut lewat katering ayahnya.

Terus berkembang menyebar ke toko- toko makanan sekitar Jember, Jawa Timur. Investasi selenjutnya ialah Rp.35 juta. Ia lantas mendirikan CV. Agatha Pratama sejak 2014. Pusat bisnisnya berada di Griya Mangli AJ 9 Jember, Jawa Timur. "...hampir bangkrut karena minimnya pengetahuan dalam hal pemasaran produk," kenangnya.

Pemuda kelahiran Jember, 28 Agustus 1989, telah memiliki puluhan karyawan membantu. Aset perusahaan milik Virdhi tidak kurang Rp.113 juta. Dia telah jatuh bangun memasarkan bumbu masak bernama MyCo ini. Sekarang rumah masyarakat dan rumah makan di Jember telah beralih ke bumbu masak Argi. Mereka tidak perlu membeli barang impor.

Selain itu dia didukung pula oleh komunitas vegetarian. Memberikan harapan baru bagi dirinya serta petani jamur binaan. Yah, untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat, dia meminta dukungan petani jamur di seluruh penjuru. Mereka menjual jamur ke Virdhi dengan harga kompetitif. Secara tidak langsung dia telah membantu.

Ia membantu petani agar harga jamur kompetitif. Disisi lain dia mampu mengembangkan jamur tiram bahkan dijadikan minuman teh. Dia membeli langsung jamur tanpa tengkulak. Dengan omzetnya per- bulan rata- rata sampai Rp.19 juta sampai Rp.25 juta. Mengikuti perkembangan dunia soal healthy food, kini, Virdhi menjadi juragan jamur.

Virdhi tidak berpikir seperti kebanyakan. Jika orang berbisnis kuliner jamur tetapi tidak buat dia. Dia dibantu 20 karyawan dan memiliki 3 bidang usaha berbeda: Pembibitan, pengolahan, serta konsultan usaha jamur. Ini lantas disebutnya perusahaan CV. Agatha Pratama Food & Marketing.

Harga jual dari bumbu masak jamur MyCo Rp.100.000, dan teh jamur seharga Rp.115.0000, untuk setiap kemasan 150gram. Ia mampu menjual sekitar 500 botol. Virdhi sendiri masih menyimpan hasrat mengekspor produknya sampai ke Singapura. Berkat kegigihannya itulah, dia mendapatkan penghargaan Shell LiveWIRE Businss Star-Up Award 2014.

Kemenangan lain disusul Wirausaha Muda Pemula 2015 oleh Kemenpora. Kemenangan tersebut membawa spirit baru berusaha. Bisnis Agatha Virdhi Saputra, S.Pd diharapkan menjadi penyemangat pemuda, serta ini menjadi satu inspirasi pergerakan ekonomi daerah.

Artikel Terbaru Kami