Minggu, 10 Januari 2016

Jualan Kambing di Trotoar Untung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Kambing Ahyadi 



Menjadi pedagang kambing di Jakarta tenyata menguntungkan. Berikut kisah pengusaha kambing bernama Pak Ahyadi yang pernah mereguk berkah melimpah. Bayangkan pria 57 tahun ini mampu naik haji berkat jualan di bulan Idul Adha. Menariknya berkat ketekunan naik kelas menjadi peternak kambing. Dia dikenal memiliki 1.800 ekor kambing di Cianjur.

Trotoar diubahnya menjadi tempat jualan kambing. Ahyadi cuma memiliki satu kambing remaja pemberian kakeknya. Ia memang terlahir dari keluarga peternak kambing. Cuma kepercayaan dirinya tinggi, dia berani berjualan kambing meski satpol pp taruhannya.

Untung besar


"Saya ingat, dulu engkong saya cuma ngasih satu kambing," tutur warga Duri Pulo, Jakarta Pusat. Yang mana disitulah satu- satunya harta dimilikinya. Kakek Ahyadi yakin bahwa sang cucu itu pastilah sukses berjualan kambing.

Ahyadi mengaku sangat sulit memulai bisnis nol. Sangat sulit memulai cuma memiliki satu kambing. Tetapi dia tidak berputus asa menghadapi kesulitan. Butuh waktu sampai dia terbiasa beternak kambing mulai dari satu kambing saja.

Usahanya berdagang kambing kurban dimulai tahun 80 -an. Ia memulai setiap lima belas hari sebelum musim Haji tiba. Untungnya menggiurkan yakni Rp.50 juta- 60 juta. Meski sial masih mengantungi Rp.30 jutaan. Ini benar- benar usaha menjanjikan paparnya. Untung per- kambing rata- rata sampai Rp.500 ribu setiap bulan Haji tersebut.

Memang tidak disangka pilihannya berjual di musim Haji menggiurkan. Bahkan dia mengaku cuma lewat itu saja bisa membeli rumah di kampung. Tetapi perlu diingat sosok juragan kambing ini butuh waktu lama di titik sekarang. Tidak semudah bagi pengusaha kambing ini mendapatkan banyak permintaan. Ia memperoleh pesanan bahkan dari berbagai perusahaan.

Satu kambing dijual seharga Rp.2,5 juta- Rp.3,5 juta. Pembeli beraneka rupa dari perorangan sampai aneka perusahaan. Kalau perusahaan sampai memesan 50 ekor. Ia mengaku usaha ini rentan akan penyakit. Salah satu hantaman terbesar dalam bisnis kambing ialah penyakit antrak. Selain itu, apalagi kalau bukan masalah banjir besar khas Jakarta.

Tahun 2007 ketika Jakarta dihantam banjir besar maka hancur lah usahanya. Dia bahkan merugi sampai 800 juta. Banjir berhari- hari membuat kambingnya mungkin mati. Tidak mau mubazir, maka Ahyadi mengambil keputusan besar memotong kambing tersebut. Kambing- kambing itu lantas dibagikan ke orang sekitar yang kebanjiran dan butuh makan.

"Orang bilang kok saya begitu sampe rugi Rp 800 jutaan, tapi saya bilang mau gimana lagi. Tapi alhamdulillah itu barokah," tutur pria paruh baya ini sambil tersenyum.

Waktu itu keadaan sapi dan kambing terlihat stress. Sudah tidak muda lagi, ia memutuskan mengurangi kerja berbisnis kambing. Dia fokus mewariskan ini ke cucu- cucunya. Syukurlah sambil berjalannya waktu, ia telah sempatkan pergi memenuhi panggilan Allah. Pria asli Betwai ini tercatat dua kali berangkat haji bermodal penjualan kambing.

Artikel Terbaru Kami