Rabu, 20 Januari 2016

Menemukan Kolagit Farmasi Gita Adinda

Biografi Pengusaha Herbal Modern



Wanita berjilbab satu ini sukses membuat perubahan. Tidak cuma berbisnis tetapi membantu banyak orang di Indonesia. Gita Adinda Nasution, 20 tahun, merupakan sedikit dari banyak anak muda menjadi penemu. Ia mengembangkan usaha berbasis farmasi. Memilih bertahan dalam negeri mengambangkan kewirausahaan.

"Awalnya saya hanya termotivasi untuk menyembuhkan ayah saya," ujarnya. Dia menjelaskan prihatin akan keadaan ayah. Sejak SD sudah bersemangat bagaimana caranya menyembuhkan ayah. Sejak tahun 2008- 2009, Gita kecil mencari tau apapun tentang farmasi, menemukan bahwa penyakit folio bisa disembuhkan.

Pengusaha otodidak


Dia menjelaskan dalam virus volio terdapat obat vaksinya polio. Berarti semua penyakit yang dulunya itu dianggap sangat menakutkan dapat diatasi. Gita kecil menarik kesimpulan sederhana, lewat apa yang paling dihindari oleh penderita diabetes. Maka dia menemukan gula utamanya dalam tumbuhan tebu.

Kesimpulan lain adalah bahwa tebu bukan masalah diabetes. Mungkin kamu terheran pernyataan bahwa gula bukanlah disebabkan konsumsi gula berlebihan. Tetapi, menurut penjelasannya, ini dikarenakan organ tubuh yang cacat karena hidup tidak sehat. Ini menyebabkan tubuh tidak mampu mencerna gula, maka datanglah diabetes.

Hanya baru ketika SMP dirinya menemukan komposisi ramuan. Bukan perkara mudah menemukan ramuan tersebut. Yah karena ketika masih sekolah dasar tidak ada satupun pelajaran tentang farmasi. Ketika sekolah mungkin tidak diajarkan. Dia mengatasi hal tersebut maka ia belajar di luar sekolah. Waktu itu internet belum marak seperti sekarang.

"...jadi saya belajar dari buku," tuturnya sambil tersipu malu. Dia menambahkan gula darah naik itu bukanlah karena gula. Tapi karena organ tidak mampu mencerna gula. Padahal manusian butuh glukosa. Itu terjadi ya karena tubuh rusak akibat makanan cepat saji, soda, dan alkohol.

Gita tidak menafikan tentang faktor genetik. Cuma 20 persen tetapi masih bisa dijaga oleh kita. Jadi masalah utamanya pada pola makan manusia. Diabetes menyebabkan ayah kesulitan melihat, berjalan gentoyoran, serta terjadi gangguan organ lain. Penyakit ini menggerogoti tubuh ayah dimana kadar gulanya mencapai 240.

Selama mengerjakan ini, Gita menemukan belum ada obat diabetes berbasis gula tebu. Pemikiran bahwa kita orang berpenyakit diabetes menolak gula begitu kuat. Padahal menurutnya orang penderita diabetes justru paling membutuhkan glukosa. "Selama ini orang salah mengeri, dianggapnya diabetes itu menghindari gula." kata Gita.

Belajar keras


Permasalahan datang dari sel yang tidak menyerap gula. "...makanya jadi banyak terkumpul di gula," jelas Gita. Maka dicari ramuan yang mempermudah persesapan gula. Penelitian otodidak ini nyata menghasilkan reaksi positif. Sejak 2010, secara teratur dia memberika ramuan itu kepada sang ayah yang mulai kehilangan penglihatan.

Dalam 1,5 tahun gejala diabetes mulai menghilang. Hingga benar- benar menghilang dari tubuh sang ayah. Ia meminumkan ramuan secara rutin. Dosisnya akan dikurangi sepanjang hingga tidak diminum lagi. Selepas itu ayah diperisakan ke dokter dan dinyatakan gejala diabetes hilang.

Kabar kesuksesan memang cepat tersebar. Sampai sejumlah kenalan bahkan kerabat memesan obat buatan Gita. Rumuan ajaib tersebut lantas dilabeli Kolagit, singkatan Kopi Gula Gita. Lantas diproduksi olehnya dan dikemas kemasan 800 gram. Ia dibantu beberapa rekan memproduksi 40 kotak.

Awal usaha Gita tidak mematok harga khusus. Dia demikian karena berniat membantu banyak orang. Per- kotak dijualnya antara Rp.150.000 sampai Rp.200.000. Tetapi kalau penderita diabetes adalah orang tidak mampu maka digratiskan. Gita menyebutnya semacam subsidi silang. Semoga pembeli mendapat amal karenanya

Seorang anak SMP berusaha keras menyembuhkan ayah. Oleh karenanya dia bersemangat belajar tentang aneka obat herbal. Maka perpustakaan sekolah menjadi tempat peraduan. Buku favoritnya Gita, disebutnya buku obat herbal karya Hembing Wijayakesuma. Butuh 15 kali lebih kegagalan hingga menemukan racikan tepat.

Dia pernah melalukan eksperimen ciplukan, mengkudu, dan mahkota dewa. Ketika masuk kelas 3 SMP, ia menemukan teori bahwa vaksion polio disembuhkan dari virus polio. Hal lain ialah orang digigi ular sembuh karena bisa ular. "So, enggak ada salahnya mencoba menemukan obat diabetes dari gula," tuturnya.

Masuk kelas 3 SMA Kolagit dipublikasikan. Kolagit sudah diuji preklinis dan klinis Lab Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU). Hasil penelitian tersebut enam ekor tikus penderita diabetes sembuh. Ia juga menemukan ayah negatif diabetes. Gita meneruskan pendidikan Analisi Farmasi dan Makanan di universitas sama.

Jurusan tersebut selaras keinginan akan memahami dunia farmasi. Dalam pikirannya bahkan sudah berencana membuat produk lain untuk struk, hipertensi, obat demam serta jantung.

Dilirik asing


Percobaan gula tebu terus dikembangkan. Hingga Kolagit ditemukan olehnya membuahkan hasil. Perlahan ia melihat perubahaan ditubuh ayahnya. Memang sejak setahun belakangan ayah Gita tidak lagi diperikas. Dia beralasan takut jarum suntik. Bisman, ayah Gita, juga tidak mau membebani keluarga karena angka- angka itu.

Memang keajaiban hasilnya mengejutkan Gita. Ayah mengakatakan sudah sembuh. Senang sekali karena dia bisa lagi makan es krim atau durian bebas. "Tidak perlu khawatir lagi," lanjut Gita. Inilah bunyi testimoni yang langsung diberikan untuk Kolagit.

Teman ayah juga sembuh karena Kolagit. Satu diantaranya tentara yang sudah berobat kemana- mana. Kondisi memang parah tetapi akhirnya disembuhkan. Selepas minum satu bungkus, tentara itu sudah bisa mengendarai mobil sendiri, kondisinya membaik. Sudah ratusan orang sejak Kolagit mulai berproduksi oleh Gita.

Permintaan membludak sampai untung tidak sedikit. Ia bahkan di tahun 2014, mendapatkan omzet sampai Rp.1,2 miliar. Dia sendiri kaget omzetnya mencapai segitu banyak. Dia tidak menganggap sebagai prestasi. Ia cuma menganggap sebagai bonus usaha. Apa dikejar oleh Gita itu sebenarnya adalah kesembuhan orang banyak.

Sukses Kolagit membuat banyak perusahaan farmasi tertarik. Tahun 2013 booming -nya sampai banyak perusahaan datang ke Medan. Bahkan pengusaha properti tertarik. Terakhir perusahaan farmasi asal Turki dan Singapura menghampiri. Memang sukses Kolagit sampai ke luar negeri yaitu Singapura, California, Arab Saudi.dll.

Tahun 2013 sudah datang permintaan dari Turki dan California. Untuk konsumen lokal sudah tersebar juga sampai di Papua. Untuk pasien tidak mampu asal Medan bisa datang ke rumah untuk mendapat perawatan. Gadis berkacamata kelahiran 2 Juli 1994 ini, belum tertarik akan tawaran kerja sama, meski tawarannya miliaran.

Meskipun termasuk tawaran diberikan laboratorium ataupun menjadi pengawas. Ia malah khawatir akan jadi mahal penemuannya tersebut. Masih belum terpikir karena akan ada jarak antara kaya dan miskin. Apalagi kalau nanti Kolagit komersil sekali maka tidak ada tawar- menawar.

"...kalau sudah terkenal tidak mungkin bisa, apa bisa di supermarket tawar- menawar?," paparnya.

Gita mendapatkan baha tebu dari Mandailing Natal, Palembang, dan Riau. Bahan baku datang langsung dari kampung tanpa kendala. Kolagit sendiri dibuat disesuaikan kondisi tubuh pasien masing- masing. Memang karena kondisi tubuh manusia berbeda- beda.

Meski sukses masih ada kendala belum dilampaui oleh Gita. Terutama haknya mendapatkan hak paten atas produk Kolagit. "Urusannya susah sekali," keluh Gita. Perjuangan dari SMA langsung ke Jakarta meminta paten atas Kolagit belum titik temu. Semenjak makin sukses setidaknya bantuan ditawarkan oleh pihak dari pemerintah.

Untungnya dia tetap menyimpan rapat bahan pembuatan Kolagit. Kedepan, dia akan meluncurkan produk dari bahan daur ulang. Limbah akan diolah menjadi antiseptik. Produknya dari limbah organik, yang akan menjadi antiseptik, obat turun panas. Ini disebutnya lebih efektif dari Paracetamol atau obat alergi berbentuk salep.

Gita sendiri diganjar Juara 1 ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015, untuk Kategori Industri, Perdagangan, dan Jasa. Untuk satu ini Gita mendapatkan uang hadiah sebesar Rp.50 juta. Uang tersebut rencananya akan digunakan modal membangun laboratorium dan berbagi dengan anak- anak Sekolah Luar Biasa (SLB).

Artikel Terbaru Kami