Sabtu, 30 Januari 2016

Guru PAUD Mengejar Mimpi Keripik Lebay

Profil Pengusaha Rini Sumiarsih 



Merasakan kebingungan mau membuka usaha apa. Mungkin menjadi puncak pengusaha pemula. Termasuk penulis masih meraba- raba. Rini Sumiarsih layaknya pengusaha pemula bingung mau berbisnis pertama kali. Mantan guru PAUD ini akhirnya menemukan titik terang pada satu kejadian.

Dia pernah mau berjualan keripik pisang. Namun usaha tersebut ternyata sudah diambil orang lain, tetangga sendiri satu kampung yang sama. Ternyata warga asli Desa Mayak, Kec. Cibeber, Cianjur, Jawa Timur ini, kalah cepat melihat peluang. Sampai dia melihat kembali bagaimana kerja keras sang suami mencari nafkah.

"Lalu mikir mau bisnis apa lagi, masa sama," kenang Rini. Sang suami sendiri seorang wirausaha sederhana yang berjualan bakso bakar. Untung per- harinya mencapai Rp.15.000 sampai Rp.20.000. Ini mendorong dia harus berbisnis kembali.

Rini melihat banyak sekali talas. Ia membayangkan kebiasan talas jika direbus. Apalagi cara agar merubah  talas menjadi bisnis. Hingga dia kembali menyusuri kisah bisnis sebelumnya; keripik pisang. Maka Rini mulai berpikir, "...dibuat keripik bagus enggak". Tanpa pikir panjang dia langsung mencoba mengolah talas menjadi keripik.

Usaha pertama dilakukan lewat serangkain percobaan. Tidak berjalan mulus layaknya usaha pertama pernah dilakukan pengusaha pemula.

Eksperimen bisnis


Eksperimen panjang menemukan resep kuliner. Dia mencoba berbagai cara agar talas enak ketika dikeripiki. Maklum lah pertama kali mencoba sesuatu yang asing. Bahkan bagi beberapa orang keripik talas terdengar agak ganjil.

Strategi jitu dilakukan Rini ketika bereksperimen: Membagikan keripik gratis ke tetengga agar dicoba secara gratis. Percobaan membuat resep keripik terus dilakukan. Bahkan suami Rini ikut membantu usaha berhenti berjualan bakso. Suami Rini lantas memasarkan keripik talas kepada masyarakat luas.

"Was- was pertama enggak ada label. Saya sama ibu berkeliling menjajakan keripik masing- masing 20 buah bungkus," ujar Dede, semuai Rini. Masih pertama kali jadi jualannya cuma keripik rasa asin. Belum sempat mereka memodifikasi itu menjadi macam- macam.

Ia lalu berpikir mau berjualan titip ke warung- warung. Mereka menaruh keripik talas di warung kecil sekitar Cibeber. Rini hanya menitip di enam gerai warung saja. Tetapi produknya mendapatkan perhatian lebih oleh masyarakat Cibeber pada umumnya.

Sukses menarik perhatian justru membuat dia khawatir. Mereka berdua kebingungan karena berjualan tanpa identitas. Jika produk mereka ingin lebih dikenal dan punya masa depan, hingga nama "lebay" lalu terbersit ketika mencari nama. Bukan perkara mudah mencari nama bagi ibu dari 3 orang anak ini.

Dia sadar nama merupakan kunci sukses lain. Bagaimana agar muda diingat oleh masyarakat. Nama lebay itu diambil dari julukan oleh ibu- ibu PKK. Julukan yang diberikan kepada Rini, yang entah ada alasan apa dibalik nama tersebut. "Akhirnya ya sudah pakai nama keripik lebay," lanjut Dede.

Tahun 2014, Rini mendapatkan bantuan pihak Prasetyia Mulya Business School, melalui 8 orang mahasiswa asal kampus ini mengambangkan usaha. Mereka membantu masalah pemasaran, pembukuan, bagaimana bisa meningkatkan kapasitas dan berbagai bimbingan lain.

Rini mengembangkan aneka rasa; balado, keju dan original. Jangkauan pasar meningkat sampai 135 toko. Kalau dikerjakan sendiri menurut Rini pendapatan kotor mencapai Rp.150- 200 ribu/minggu. Kemudian setelah dibantu mahasiswa meraup Rp.1,5 juta per- minggu. "Bersihnya Rp.300 ribu per- minggu," tuturnya.

Selanjunya ialah menunggu surat Kemenkes, fungsinya agar usaha Keripik Lebay bisa masuk ke toko- toko oleh- oleh Cianjur. Maka mimpi besar Rini ialah menjadikan Keripik Lebay ikonik Kota Cianjur.

Meski telah menjadi pengusaha sukses, Rini masih hidup dalam kesederhanaan. Ketika menerima mahasiswa asal Prasmul. Ibu tiga anak ini menyambut delapan mahasiswa program Community Development (Comdev). Dia menyapa,"gimana kuliah mu nak?", menyambut mahasiswa yang kemudian mencium tangannya.

Memang ibu tiga orang anak ini seolah menjadi ibu mereka sendiri. Menurut www.ceritaprasmul.com, sosok Rini dikenal tetangga sosok ramah, jujur, dan rajin mendoakan orang terdekatnya. Soal urusan berbisnis para mahasiswa kagum akan sosok Rini. Pihak kampus menjadikan rumah Rini menjadi bagian tempat balajar lansung.

Kemitraan ini dijalin waktu 2014 ketika usahnya tengah berproses. Bermula dari gubuk kusam dan seperti hendak runtuh. Para mahasiswa Comdev datang lalu mengetuk rumah tersebut. Ia menerima tamu itu dengan tangan terbuka. Ketika pasangan suami- istri ini tengah membangun asa memulai usaha kecil- kecilan.

Pasangan pengusaha ini dijadikan ibu asuh bagi mahasiswa. Jika mahasiswa membantu hal pengembangan aspek bisnis Keripik Lebay, maka para mahasiswa diajarkan hidup penuh perjuangan. Ketika mendapatkan kesempatan diajak ke Jakarta. Disana dia berbagi cerita suksesnya kepada mahasiswa serta wartawan.

Artikel Terbaru Kami