Selasa, 26 Januari 2016

Endog Box Tempat Telur Anti Pecah

Kisah Siswa SMA Sukses 



Kisah anak SMA menciptakan sesuatu patut disimak. Para generasi entrepreneur muda masa depan. Seperti hal siswa asal SMA N 22 Bandung, yang menciptakan inovasi. Mereka menciptakan wadah telur yang anti- pecah. Wadah Endog Box memenangi Juara 1 Desain Kemasan Telur, Machanical Biosystem Fair (MBF), ITB.

Mereka tiga orang remaja kreatif, yakni Nur Arief Mursyid (17), Muhammad Ihsan Bashirulhaq (17), dan juga Mika Aldaka. Mereka menciptakan wadah telur anti- pecah alias meskipun dilempar dari ketinggian tidak akan pecah.

"Wadah telur yang sederhana ini berbahan kardus bekas," tutur mereka. Mereka mendesain sedemikian rupa bermodal jinjing. Layaknya wadah makanan cepat saji melindung dalamnya. Ini sangat portable bisa dibawa ke mana saja.

Endog Box sendiri masih didesain untuk empat telur. Tetapi mereka menjelaskan konsep mereka fleksibel. Itu karena permintaan panitia lomba untuk empat saja. Mereka meyakinkan produk mereka kelak bisa jadi lebih sempurna. Tim SMAN 22 Bandung ini menang tanpa mengenakan bahan sponge atau peredam.

Juri menilai ide mereka lebih original. Desain kemasan pun dinilai unik, ketahanan akan goncanga, benturan juga diperhitungkan.

Wadah telur modern



Ihsan menjelaskan wadah Endog Box menerapkan ilmu fisik. Tepatnya teori distribusi tekanan. Ihsan kembali menjelaskan lebih dalam: Spesifikasi wadah memiliki penahan berbahan dus yang berpola diameter beda. Ia menyambung tekanan menjadi rata ketika jatuh dari ketinggian.

Wadah tersebut membuat telur didalam tidak pecah. Endog Box sengaja dilempar dari ketinggian lima meter dan tidak pecah! Wujud telurnya tidak pecah, tetap utuh, "enggak ada yang hancur telurnya." Sudah melalui percobaan panjang meyakinkan kita kehandalan produk.

Wadahnya dibanting tetap tidak rusak. Arief bangga serta terharu inovasi mereka mendapatkan perhatian dari halayak luas. Juga bangga mampu menaikan citra sekolah dan Kota Bandung secara khusus. Tujuan dari produk wadah Endog Box ialah mengurangi human error ketika proses distribusi telur.

"Sebab, penyaluran telur kan berpindah-pindah tangan, situasi tersebut rentan (telur) jatuh," tambah Arief. Ia menyebut sebagai solusi tepat.

Endog Box mungkin juga bisa dijadikan solusi daur ulang. Bahkan ketika mengumpulkan bahan, mereka yang mau membeli kardus di minimarket, malah dikasih gratis tanpa pungutan biaya apapun. Mereka sendiri sadar bahwa inovasi rentan akan dicaplok orang.

Ketiganya sudah menyiapkan diri untuk mematenkan. Kini, mereka tengah bepikir bagaimana agar produk tersebut bisa diproduksi masal. Mereka berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan- perusahaan bidang agribisnis telur.

Artikel Terbaru Kami