Selasa, 19 Januari 2016

Martalinda Basuki Gadis Cantik Cokelat Klasik

Profil Pengusaha Muda Indonesia 



Gadis cantik ini memang fokus berwirausaha. Martalinda Basuki masih mahasiswi ketika memulai usaha ini. Sekilas tidak nampak Lala merupakan pengusaha muda sukses. Penampilan Lala layaknya anak muda di era sekarang, jilbab, celana jins, dan cardigan menghias. Siapa sangka dia mengendalikan 46 outlet bisnis di penjuru Indonesia.

Meski tergolong baru berbisnis. Gadis 24 tahun ini tidak takut akan kegagalan. Mulanya saja sudah dihantam bangkrut puluhan juta. Ketika disambangi pewarta Lala menceritakan kisahnya: Bisnis pertama dimulai di 11 November 2011, lewat bisnis kafe kecilan di Kampung Inggris Pare, Kabupaten Kediri. 

Sederhana hanya usaha kafe buat tempat nongkrong. Ia menawarkan kuliner khas Malang. Menjual berbagai macam minuman dan makanan. Alasan kenapa berbisnis kuliner, gadis cantik kelahiran Jayapura ini lanjutkan bahwa Malang surganya kuliner.

"Kalau mau kuliner sambal tinggal ke sini, pingin nongkrong enak pilihannya ada di situ," tambahnya. Dia lalu berpikir kalau dia punya kafa maka bisa makan sepuasnya. 

Terdengar sederhana tetapi manjur memberi semangat. Kafe tersebut dinamai Kafe Klasik. Modal uangnya lumayan besar yakni Rp.95 juta. Nekat, Lala mendapat modal tersebut lewat menjual hp, laptop, ditambah juga pinjam ke sana- sini. Bisnis pertama digelutinya "gagal total". Ditambah lagi orang tua yang tidak setuju bisnisnya.

Ia sempat putus asa namun berusaha bangkit. Dia mulai menghitung ulang kenapa gagal. Kesimpulan Lala terdapat kesalahan konsep. Kesalahan tersebut terdapat pada pengambilan siklus ramai di Kampung Inggris. Ketika itu, ketika kampus di Malang efektif, kampung justru sepi. Sementara kalau libur kebalikannya malah ramai.

Karena Lala adalah mahasiswa maka jualannya ya ketika kampus libur. Alhasil, usahanya Kafe Klasik sepi dari pengunjung targetnya yakni mahasiswa kampus di Malang. Dia membuka kafe justru ketika berangkat ke Malang, sementara ketika libur Lala justru liburan. Meski cukup pembeli tetap tidak bisa mengimbangi biaya.

Bangkrut cuma menyisakan uang Rp.7 juta dikantung. Martalinda masih bersemangat berbisnis kembali. Tapi melalui cara berbeda yakni fokus di satu bidang. Ia menyasar manu apa yang paling laris di kafenya itu. Inilah awal muncul ide untuk membuat survei kecil- kecilan. "Isi survey itu menu apa yang laris. Hasilnya cokelat," jelas Lala.

Bisnis kembali


Hasil survei tersebut ditindak lanjuti lewat bisnis baru. Kali ini, Lala berencana jualan minuman coklat saja. Lants gadis kelahiran 13 Maret 1991 ini merubah konsep bisnis menjadi menjual minuman gerobak. Pertama kali usahanya minuman choco flute. Minuman ini dikonsep ulang lagi ditambahkan krim diatasnya agar lebih manis.

Konsep bisnis kafe ditinggalkan berdampak di pengeluaran. Modal yang sedikit tersebut menjadi awal baru bagi dirinya. Cukup sulit memang menjalankan usaha tanpa dorongan modal kuat. Untunglah seorang teman mengajaknya mengikuti perlombaan wirausaha muda. Kompetisi Wirausaha Baru yang disponsori oleh Bank Indonesia.

Ia mengirim konsepnya lewat proposal. Dari 500 orang pendaftar cuma terpilih 25 orang saja. Bantuan uang modal akhirnya sukses mengalir ke kantung senilai Rp.15 juta. "Kalau Bank Indonesia saja percaya dengan kemampuan saya, kenapa saya malah tidak optimis," papar Lala. Inilah pemicu dirinya semakin semangat berbisnis.

Alumni Universitas Brawijiaya ini lantas membuka gerobak pertamanya. Di 6 November 2012, booth yang pertama didirikan dengan nama Coklat Klasik di Jalan MT Haryono. Agar menarik perhatian para pembeli ia tidak lupa memasang lampu kelap- kelip warna merah. Strategi marketing murah mudah tetapi mengena mata.

"Sesuatu yang norak justru akan membuat orang makin tertarik untuk tahu. Nah, lampu kelap kelip begitu kan terkesan norak, tetapi sukses menarik perhatian," jelasnya setengah bercanda.

Hari ke hari bisnis coklat tersebut terus berkembang. Bahkan alumni Administrasi Publik FIA UB ini sampai kwalahan. Banyak orang meminta menjadi mitra. Ia diminta agar membuka waralaba bagi mereka. Ketika itu ia masih percaya diri mengerjakan semua sendiri. "Kalau masih di Malang, saya masih bisa kasih pelatihan," jelasnya.

Perasaan tidak mungkin membuka sampai Kalimantan ditepisnya. Maka ia mulai membuat standarisasi buat produknya. Bisnis Lala berkembang terus semakin hari. Tapi namanya wirausaha pastilah ada masalah. Salah satunya ialah salah satu pegawai inti justru melakukan kejahatan.

Ketika bisnis Lala ditinggal keluar kota, maka praktis sosok inilah menggantikan. Sosok itu adalah Seorang mahasiswa satu perguruan tinggi Malang, lantas mengemudikan bisnis milik Lala yang masih berkembang. Jadilah uang puluhan juta mengalir ke kantong pribadinya setiap minggu. Uang tersebut kemudian dibawa kabur si pegawai.

Beruntung dia masih menyimpan nomor orang tuanya.

"Si anak memang sudah nakal sejak dulu," jelas Lala. Lalu dia memutuskan mengambil jalur hukum sebagai penyelesaian. Titik itu, ia mengalami kerugian puluhan juta, tetapi disisi lain bisnis berbasis waralabanya makin berkembang pesat.

Hal lain ialah orang tua Lala yang sudah bercerai. Mereka yang kesannya kurang memperhatikan, waktu itu, langsung mengunjungi Lala menanyakan kabar. Mereka datang ke Malang memberikan dukungan moril. Ia terkesan mereka mau ikut membantu packing barang. "Dari situ saya terpacu untuk terus bangkit," jelasnya lagi.

Meski rugi puluhan juta, tetapi digantikan oleh minat masyarakat atas usahanya. Mereka berminat gabung di Cokelat Klasik. Alhasil, sebagai awalan, Lala berhasil menggaet mitra 46 kerombong baru yang tersebar di Gresik, Surabaya, Tulungagung, Solo, Balikpapan, Lampung, Padang, dan Kediri. Omzet kotornya sampai 200 jutaan.

Lala menyebut penghasilan bersihnya mencapai Rp.30 juta- 40 juta. Gajinya sangat besar bahkan buat orang yang sudah bekerja sekalipun. Sukses berbisnis membuka peluangnya berinvetasi dibidang tanah dan rumah. Tetapi ia meyakini akan fokus dibidang satu usaha saja, Cokelat Klasik. Sejak SMA dia memang ingin jadi pengusaha.

Dia bahkan pernah akan membuka usaha rental mobil orang tuanya. Tetapi keinginan tersebut ditentang oleh orang tua. Meski begitu jiwa wirausahanya terlalu kuat buat dibendung. Dia nekat merentalkan mobil milik ayahnya meski rekikonya hilang. Pernah suatu ketika ayahnya memanggil menanyakan mobil.

" Nah, papa telepon bilang mobilnya di mana, saya bilang saja mobilnya sedang saya pakai," ujar gadis, yang ternyata merupakan putri salah satu Kapolsek di jajaran Kediri. Tetapi ternyata mobil itu malah kena tilang di Kediri.

"Aduh, saya langsung diminta menghadap. Nah, saat menemui papa saya, saya berikan uang hasil rental mobil ke papa saya," kenang Lala.

Tumbuh pesat usahanya mencapai 120 rombong. Ini tersebar di 24 Kota/Kabupaten. Totalnya ada 250.000 cup terjual tiap bulan. Bertambah banyak karena Lala makin fokus berwaralaba. Bahkan berhasil membuat pabrik dan berkantor di Kota Malang. Usahnya total mempekerjakan 178 orang. Dia telah menjadi jutawan dari usaha sendiri.

Ia pun mendapatkan anugrah juara II lomba bergengsi Wirausaha Muda Mandiri 2015. Lala menyabet piala dari Kategori Boga. Lomba yang diikuti oleh 7000 orang peserta, dan cuma menjaring 100 nominasi juara. Penilaian terbilang cukup komplek tidak cuma soal  jumlah untung ataupun jumlah karyawan. Lala mengaku sangat bersyukur.

Visi- misi perusahaan miliknya juga diperhitungkan. Dia bermimpi memiliki 3000 outlet Cokelat Klasik di 25 tahun kedepan. Ekspansi pertama dia merencanakan kafe Cokelat Klasik. Tempat ini tidak akan hanya asik menyuguhkan minuman cokelat. Tetapi dia rencanakan menjadi tempat edukasi tentang keunggulan coklat Indonesia.

Artikel Terbaru Kami