Rabu, 06 Januari 2016

Tas Kulit Ikan Pari Zara Leather Solo

Profil Pengusaha Wawan Purnomo



Contoh lain pengusaha dibidang pembuatan tas kulit. Wawan Purnomo namanya mulai menyentuh kulit sejak kuliah. Mengambil pendidikan Akademi Teknologi Kulit, Yogyakarta, maka wajarlah. Selepas kuliah Wawan sudah dipekerjakan di perusahaan pengolahan kulit sapi di Jakarta. Sejak kuliah dibekali cara menangani kulit, karet, dan plastik.

Ia tau bahan kimia pengolahan kulit, karet, dan plastik. Bekal pengalaman inilah dia bekerja di perusahaan ekspor kulit selama tiga tahun. Lembaran kulit sapi itu diolahnya kemudian dijadikan sepatu oleh perusahaan merek internasional. Empat tahun berikutnya disambung bekerja di perusahaan pengumpul kulit pari ekspor di Tangerang.

Pokoknya, hidup Wawan tidak jauh dari kata kulit dan fashion, sampai kesempatan mendatangi dirinya tiba- tiba. Waktu itu pemilik perusahaan kulit pari mengajak Wawan berkreasi. Mereka yang sebelumnya cuma berorientasi ekspor bahan mentah menjadi produsen. Sang pemilik perusahaan mengajak Wawan membuat sendiri barang jadi. 

"Saya dibawakan data, foto, atau contoh produk kulit pari," kenangnya. Ia sendiri melihat prospek di bisnis tersebut. Belum ada kan produsen sepatu memakai kulit pari. Padahal, sepengetahuan Wawan hasil kulit pari dijual sangat mahal.

Harga bisa tiga kali lipat kalau didalam negeri sekarang. Waktu itu juga pemain kulit pari dijadikan produk itu belum ada, sekarang sudah beda.

Tidak instan


Tawaran terbut nampaknya belum menggugah hati Wawan. Ia memutuskan pindah kerja ke pengolahan kulit di Medan. Tugasnya masih sama menyusun formulasi bahan kimia yang pas. Tugasnya bertambah ketika perusahaan meminta ia kembali. Dia dimintai melatih bagaimana mengolah produk. Perusahaan itu awalnya cuma eksportir bahan setengah jadi.

Mereka mengolah kulit ular, buaya, dan pari. Wawan dipekerjakan menjadi pemroses hingga melatih tukang jahit. Lagi- lagi dia diminta menjadi pengusaha sendiri. Total lima tahun dijalaninya bekerja di Medan sampai akhirnya kembali ke Boyolali. Dia tidak menerima tawaran pekerjaan lain. Wawan sudah memiliki rencana sendiri di kepala.

Pria 32 tahun ini memutuskan membuka usahanya sendiri. Bermodal uang simpanan membuka usaha kulit di rumah.  Sayang, takdir berkata lain, uangnya habis terkuras biaya pengobatan sang istri yang terkena kanker payudara. Wawan memang tidak mau menyerah. Entah bagaimana caranya dia mendapatkan modal kembali.

Usaha dari nol, Wawan mengumpulkan bahan kulit, diolah memakai bahan kimia, mengelem sendiri, menjahit sendiri, sampai dipasarkan. Membuat produk pertama kali cukup 50 buah saja. Itu lantas dijualnya dan hasil penjualan diputar menjadi modal baru.

"Begitu terus sampai produksi bisa meningkat dan saya punya pekerja," jelas Wawan. Dia dibantu tiga orang karyawan mengerjakan kulit pari. Semua diproduksi menjadi produk sesuai desain di internet, majalah, atau masukan pembeli.

Kendala terbesar adalah sumber daya manusia (SDM). Padahal, Wawan tengah meningkatkan kapasitas produksi. Ini coba diakalinya lewat pelatihan tetapi kurang. Mengajar dari nol membutuhkan waktu lama di jalannya.

"Sudah mencari ke mana- mana, tetapi masih susah mendapatkannya," jelas Wawan lagi. Meski cuma tiga karyawan tingkat produksi mencapai 200 buah per- bulan.

Produk kulit ikan pari terdiri ikat pinggang seharga Rp.700 ribuan, dan tas yang dijualnya antara Rp700 ribu sampai Rp.4 juta. Kemudian produk dompet seharga Rp.200 ribu per- buah. Sampai sekarang produksi dia masih ekslusip, jarang orang membuat. Soal bahan baku Wawan mengaku tidak ada keselutian. Bisa didapat dari Jepara, Jateng.

Bahan baku dibeli sekitar Rp.90 ribu per- lembar. Pesanan dilayani cuma dalam negeri. Untuk pesanan dari luar seperti Belgia dan Swiss sementara dihentikan. Permintaan dalam negeri datang dari Jakarta, Surabaya, Semarang, dan beberapa kota besar lainnya.

Merek sendiri


Mengusung brand Zalfa juga melayani pembeli langsung. Produk buatannya terbuat dari kulit pari sebagian besar, sisanya kulit sapi, buaya, ular, hingga cakar ayam. Meski fokus lokal, tetapi secara tidak langsung, ia menjual produknya sampai ke Jepang dan Amerika, yakni lewat Bali, Jakarta, dan Surabaya.

Kenapa tidak diekspor langsung ternyata ada alasan. Menurut Wawan biaya pengiriman merepotkan. Utama menghitung biaya paket. Wawan sendiri sudah punya ruang pameran bagi produk kulitnya. Sebuah tempat di kawasan Boyolali, yang meski masuk gang tetap ramai. Meski berjarak 30 menit dari Kota Solo tidak surut pengunjung mengunjungi.

Produk tas kulit ikan pari yang dikenal dari pameran ke pameran. Pamor Wawan tersebar lewat marketing sederhana tetapi efektif yaitu mulut ke mulut. Mengolah kulit ikan pari dijadikan tas memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Kalau salah olah kulit malah robek dan mengerah tidak bisa dibentuk lagi. Keunggulan menurut si pengusaha kulit pari ini ya diteksturnya.

Tas kulit pari terlihat seperti ditaburi butiran mutiara lembut. Sehingga tepat jika harga jual di luar negeri jadi begitu tinggi.

Pengolahan kulit ikan pari caranya yaitu mulai merontokan sisik, lemak, lantas disusul proses penyamakan. Ia lanjutkan butuh berhari- hari agar zat kimia meresap. Selepas disamak baru diwarnai, diberi pola, dipotong, dilem, terus dijahit, diwarnai, dipola, dilem, lantas baru dijahit. Beruntung Wawan termasuk pengusaha yang diperhatikan.

Awal dia sudah diberi kesempatan mengikuti aneka pameran. Bahkan Bupati Boyolali saat itu, Sri Mulyanto, sempat berkunjung. Dia mendapat peralatan, koneksi ke Dinas Terkait sampai tingkat Provinsi Jawa Tengah, juga kerap membawa pembeli ke bengkel. Hampir setiap bulan pengusaha tas kulit pari ini mengikuti aneka pameran.

Artikel Terbaru Kami