Minggu, 10 Januari 2016

21 Pola Pikir Orang Kaya Dibanding Orang Biasa

Berpikir Seperti Orang Kaya Steve Siebold 



Orang kaya bernama Gina Rinehart berkata, "dia iri kepada orang biasa". Langsung pernyataan itu menuail gugatan masyarakat luas. Dia iri bisa minum alkohol, merokok, dan bersosialisasi. Sementara dia bekerja keras mencari kekayaan. Mengejutkan, tetapi dalam penelitian oleh Steve Sielbold, itu terdapat pola pikir berbeda.

Faktanya cara berpikir orang kaya memiliki perbedaan siginifikan, layaknya seperti dua sisi mata uang koin. Seperti Steve Siebold telah tulis dibukunya "How Rich People Think". Menyebutkan adanya 21 poin yang menurutnya menjadi dasar pemikiran Gina.

Seperti dikutip Business Insider yang kami laporkan. Terdapat perbedaan signifikan bagaimana antara orang kaya dan berpenghasilan menengah berpikir.

"Orang berpenghasilan pas- pasan berkata kepada orang lain untuk bahagia atas apa yang mereka miliki," buka Steve. "Dan selanjutnya keseluruhan, orang takut akan melangkah menyangkut uang."

Inilah 21 poin pola pikir orang kaya

1. Orang umum bepikir bahwa uang sumber segala kejahatan. "Orang kebanyakan bepikir orang kaya kalau tidak beruntung ya tidak jujur," selorohnya. Hingga ada perasaan malu- malu ketika berpicara "menjadi kaya" dikalangan masyarakat bawah. Menjadi kaya itu seolah tabu, berhayal, bukan segalanya.

2. Orang umum berpikir egois adalah keburukan. Orang kaya berpikir egois menjadi bijak. Orang kaya akan keluar mencoba gembira. Mereka tidak terlihat menjadi penyelamat siapapun. Nah, orang kelas menengah, berpikir mereka (orang kaya) tidak akan membantu. Pelit, tidak mau memberikan apa yang mereka miliki.

Sementara itu orang berpenghasilan menengah ini bepikir ke dirinya beda. Mereka berpikir kalau saya tidak membantu, saya tidak berada diposisi dibantu siapapun.

3. Kebanyakan orang memiliki mental lotre. Atau, orang berpendapatan pas- pasan khususnya berpikir kaya adalah seperti menang undian saja. Sementara itu orang kaya berpikir bahwa kaya berarti kerja keras. Masih banyak orang mengambil angka, berdoa, berharap kekayaan.

Mereka bersandar tidak cuma keberuntungan. Mereka percaya bahwa pemerintah bertanggung jawab atas hidup mereka, semua hanya takdir Tuhan, atasan mereka menjengkelkan, dan kepercayaan mereka akan masalah keluarga jadi penghalang.

"Itu adalah level pemikiran kelas menengah yang menurunkan pendekatan dikehidupan dan menjalani hidup sementara waktu terus berjalan," jelas Steve lagi.

4. Orang umumnya berpikir bahwa kaya berarti pendidikan formal. Sementara itu orang kaya justru berpikir bahwa menjadi kaya butuh pengetahuan spesifik. Nah, pola pikir ini masih terjebak dalam diri kelas menengah, dimana sudah terbawa oleh sifat kebanyakan orang.

"Kebanyakan performers kelas dunia (orang kaya) memiliki latar belakang pendidikan rendah, dan mencoba mengumpulkan pundi kekayaan lewat akusisi dan memilih mengikuti pengetahun tertentu," tulisnya. Kemudian kebanyakan orang terbawa pemikiran butuh gelar doktoral dan gelar master untuk kaya. Mereka terjebak di pola pikir dalam kotak.

Padahal kita tau orang kaya berpikir di luar kotak. Bagi orang kaya tidak tertarik akan awal tetapi akhirnya. Jadi sepandai apapun pendidikan tidak menarik (biasa saja), tetapi bagi orang kaya hasil kerja mereka lah yang akhirnya diperhitungkan.

5. Orang kebanyakan membayangkan masa tua nyaman. Semantara orang kaya mau mempertaruhkan masa depan mereka. Orang kaya semakin kaya karena mereka bertaruh untuk masa depan yang tidak bisa diprediksi. Mereka memiliki proyek, pencapaian, dan ide tentang masa depan antah berantah.

"Orang yang berpikir bahwa hari terbaik ada dibelakang mereka jarang akan kaya, tetapi malah terjebak di persaan tidak bahagia dan depresi," tutur Steve.

6. Kebanyakan orang biasa melakukan pekerjaan yang tidak mereka cintai. Orang kaya melakukan apa passion mereka. "Untuk kebanyakan orang, terlihat orang kaya bekerja setiap hari," jelasnya. Tetapi satu fakta bahwa itu semua atas dasar cinta. Bedanya mereka akan mencari cara bagaimana agar dibayar dari apa yang mereka kerjakan.

Sementara itu, orang biasa akan bekerja meski tidak suka, mereka melakukan itu karena butuh uang. Semua karena mereka sudah dilatih di sekolah dan dikondisikan oleh sosial bahwa kinerja ditentukan oleh fisik dan kerja keras saja.

7. Orang biasa memilih membuat harapan biasa saja. Mereka secara sengaja atau tidak sengaja telah memilih itu agar tidak kecewa. Orang kaya siap akan tantangan apapun. Ahli kejiwaan bahkan mengakui hal tersebut secara gamblang harapan rendah karena takut. Tidak ada seorang pun akan menjadi kaya kalau tidak memilih harapan tinggi agar menjalankan mimpinya.

8. Kebanyakan orang bepikir harus melakukan sesuatu agar kaya. Tetapi orang kaya malah berpikir mereka harus menjadi sesuatu agar kaya. Itulah mengapa menurut Steve orang kaya macam Donald Trump mampu melewati masa sulit. Dari multi- miliarder hasil warisan ditambah hutang, kalau bukan karena dia berpikir dia harus menjadi lebih tidak bisa.

Donald melihat bagaimana ayahnya. Dia harus membalik hutang sampai akhirnya lebih kaya dari ayahnya. Maka orang kebanyakan hanya bersemangat melakukan sesuatu. Selepas itu mereka akan puas akan hasil kerja keras mereka. "...orang hebat lahir dari belajar dan tumbuh dari pengalaman," tambah Steve. Itu tidak masalah walau gagal atau sukses.

9. Orang biasa akan berpikir kita butuh uang untuk membuat uang. Sementara itu orang kaya berpikir cara bagaimana menggunakan uang orang lain. Secara garis lurus dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang. Tetapi orang kaya tidak takut menggunakan uang orang lain. Orang kaya mepunyai ketidak sanggupan untuk secara personal mengupayakan sesuatu diluar kemampuan.

"Apakah ini berharga untuk dibeli, diinvestasikan, atau digapai," jelasnya.

10. Orang biasa akan berpikir pasar dijalankan oleh logika dan perhitungan. Orang kaya berpikir bahwa itu dikerjakan oleh kerakusan dan emosi. Sukses invastasi di pasar saham bukanlah soal perhitungan matematika. Orang kaya percaya bahwa perubahan pasar saham utamanya karena emosi takut. Juga sudah termasuk rasa rakus dalam setiap tren dan penjualan dia pikirkan.

Mengetahui sifat dasar manusia menjadikan mereka mampu menghasilkan ledakan. Mereka secara strategi tidak cuma mengandalkan perhitungan tetapi juga cara meningkatkan jarak keuntungan. Mereka tidak cuma memilih berhitung di sekala kecil menengah semua berkat emosi.

11.Orang biasa hidup diatas harta mereka. Orang kaya hidup dibawah harta mereka. Itu bukan karena mereka tidak sadar diri, justru mereka tau diri mereka sanggup hiduo seperti bangsawan tetapi memilih selalu mengingat bahwa mereka mempunyai pajak ke raja yang harus dibayar di masa datang. Rahasia agar kamu bisa kaya menurut Steve ialah "jadilah kaya agar sanggup mencapai kesadaran itu".

12. Umumnya orang mengajarkan anaknya bagaimana bertahan hidup. Orang kaya justru mengajarkan anak agar hidup kaya. Sejak muda mereka diajarkan tentang nilai hidup "memiliki" dan "tidak memiliki". Ya banyak orang akan merespon ini negatif. Ini seolah membentuk nilai elit dalam diri anak- anak. "(orang) lalu berkata orang tua mereka mengajarkan meremehkan orang banyak karena mereka miskin," jelas Steve.

"Ini tidak benar," ia menambahkan. Apa yang diajarkan justru fakta hidup bersosial. Seolah dibalik, anak- anak yang manja ini diajarkan rasanya hidup kaya, agar kelak mereka berusaha keras agar tetap berada di sana (kaya).

13. Orang biasa stress karena uang. Orang kaya damai dalam uang. Alasan utama kenapa orang kaya bisa kaya bukan setuju bahwa semua bisa dibeli uang. Ketika masyarakata kelas menengah berjibaku dengan uang yang dianggapnya setan. Masalah tidak pernah berujung sepanjang hidup. Maka orang kaya itu melihat uang sebagai kebebasan.

"...dan jika cukup dengan itu, mereka bisa membeli ketenangan pikiran soal finansial," tutur Steve.

14. Orang biasa memilih terhibur daripada terdidik. Orang kaya memilih terdidik daripada terhibur. Uniknya ketika orang kaya tidak terlalu menaruh harapan di pendidikan. Mereka menghargai kekuatan pendidikan saat mereka sudah tidak lagi bersekolah. Maka lihat lah rumah orang kaya maka akan berjejer buku- buku disana.

Mereka mendidik diri mereka sendiri. Pendidikan formal tidak menjadi harapan satu- satunya. Orang kaya itu terdidik sepanjang hidupnya. "Orang biasa membaca novel, majalah, dan majalah hiburan," tuturnya.

15. Orang biasa melihat orang kaya itu suka membanggakan diri. Tetapi mereka sebenarnya cuma berkumpul bersama orang sepikiran. Pemikirian negatif bahwa orang kaya cuma bersosialisasi dengan orang kaya itu meracuni. Orang kaya tidak tahan dalam keputus asaan dan kesedihan. Lantas seolah menjadi pesan bahwa mereka sombong.

Padahal, itu cuma cara mereka agar lebih nyaman, seperti halnya orang biasa memilih hidup sederhana dan berpikir biasa.

16. Orang biasa melihat uang lewat emosi. Maka orang kaya berpikir logika didepan uang. Orang biasa pun meski sudah memiliki pendidikan baik bisa berubah drastis. Mereka bisa berpikir berlandaskan ketakutan. Kekurangan mendorong orang kritis sekalipun menjadi takut kehilangan rasa nyaman. Sementara orang kaya sukses memperhitungkan opsi berbeda.

Mereka berpikir uang merupakan opsional. Uang adalah alat menentukan pilihan dan kesempatan. Mereka melihat uang secara logis bukan emosi sesaat.

17. Kebanyakan orang memilih menyimpan uang. Orang kaya berpikir bagaiman membuat uang. Steve lantas berasumsi bahwa orang kaya fokus bagaimana mendapat untung. Ini berarti mengambil resiko apapun agar mendapatkan itu. Mereka juga tidak berpikir bagaimana menyimpan uang.

"Kebanyakan orang fokus mengumpulkan kupon diskon dan hidup sehemat mungkin hingga melewati satu kesempatan besar," tulisnya.

Bahkan dalam arus kas buruk sekalipun tidak berpengaruh. Mereka menolak untuk sekedar berpikir seperti orang kebanyakan. Mereka adalah ahlinya bepikir dalam kesempitan memfokuskan energi pikiran di tempat yang tepat: di uang besar!

18. Orang biasa bermain aman soal uang. Orang kaya tau saatnya tepat bertaruh resiko. "Daya ukit itu semboyan orang kaya," tulisnya dalam buku How Rich People Think. Para investor ini bisa kehilang uangnya kapapun. Tetapi mereka tau pasti apapun yang terjadi mereka pasti bisa menghasilkan uang.

19. Orang biasa mencintai kenyamanan. Orang kaya hidup nyaman di dalam resiko. Apapun butuh keberanian untuk mengambil resiko. Ini sangat penting agar menjadi miliarder. Masalahnya orang umum tidak terbiasa soal berpikir seperti hal ini. "Fisik, psikologi, dan emosi yang nyaman adalah tujuan utama pola pikir orang umum," jelasnya.

Pemikir kelas dunia akan berpikir menjadi miliarder memang tidak mudah. Orang kaya butuh menyamankan diri dan rasa nyaman bisa menghancurkan diri. Oleh karenanya mereka harus membangu kenyamanan meski di dalam ketidak pastian.

20. Orang umum tidak mengubungkan sehat dan kaya. Sementara orang kaya percaya uang menyelamatkan hidup kita. Bayangkan di Amerika, ketika orang biasa ribut soal Obamacare (semacam BPJS) serta biaya- biaya lain, orang kaya mengeluarkan uang cuma buat butik kesehatan. Apasih gunya mengeluarkan uang cuma buat perawatan bukan ketika sakit.

Mereka mengeluarkan uang demi garansi 24 jam untuk bertemu dokter pribadi. Bahkan orang kaya sampai- sampai bersama menciptakan kelompok mempekerjakan dokter hebat di lingkungan mereka.

21. Kabanyak orang berpikir mereka harus memilih antara keluarga bahagia atau kaya. Sementara itu orang kaya selalu berpikir bagaimana mendapat keduanya. Pola pikir bahwa orang kaya mengorbankan waktu bersama keluarga ternyata sekedar pengalihan isu. Orang kebanyakan terpolakan berpikir demikian dan/atau mempertanyakan  halitu.

Orang kaya justru berpikir bisa menyelesaikan masalah apapun. Selama mereka masih memiliki akar dalam di rasa cinta dan kelimpahan. Selama mereka memiliki kedua hal tersebut mereka justru akan semakin kuat dalam hal karir bisnis.

Artikel Terbaru Kami