Rabu, 13 Januari 2016

Daftar Warung Angkringan Ngetop Indonesia

Prospek Bisnis Angkringan 



Membuka usaha angkringan masih nangkring. Sejenak geli membaca sebuah artikel Kontan, tetapi faktanya itu memang diauki kebenarannya. Pemain bisnis angkringan pun sudah bukan lagi milik orang tertentu. Kalau biasanya angkirangan identik akan Yogyakarta, tidak sekarang.

Banyak usaha angkirngan bermunculan di tengah masyarakat. Intinya sekarang angkringan berarti makanan yang dijajakan di grobak dorong. Pembeli biasanya makan sambil duduk- duduk di tikar. Romantisme khas ini merambat ke sepanjang Pulau Jawa. Awalnya, menurut cerita, usaha angkringan populer di kawasan Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Kini, bisnis angkringan telah merambah sampai ke Jakarta dan sekitarnya. Makanan dijajakan juga makin fariatif mengikuti selera lokal. Tetapi yang pasti ikon makanan ya gorengan, aneka sate (usus, telur,dll), lalu nasi dibungkus kecil- kecil. Kemudian untuk minuman ikonnya susu jahe, tes manis, dan kopi. Semua dijual harganya terjangkau.

Apakah bisnis angkirngan menjanjikan? Faktanya beberapa pengusaha telah merambah bisnis ini. Setidaknya ada 5 angkringan berhasil diliput Kontan.co.id.

1. Angkringan Ki Asem

Angkringan ini stabil di Bekasi, Jawa Barat. Usaha didirikan sekitar 2007 -an menawarkan waralaba mulai 2008. Ki Asem mempunyai delapan gerai, tiga gerai milik sendiri, dan sisanya merupakan mitra. Cuma tiga tahun kurang untungnya sudah dirasakan. Sartono sendiri, pemilik angkringan Ki Asem, menyebutkan bisnis miliknya telah menyebar.

Bermodal internet angkringan Ki Asem mampu menjaring lebih banyak mitra. Sekali setahun, angkirangan ini mengeluarkan menu baru. Rasa baru ditambahkan agar pembeli tidak merasa bosan. Biaya investasi bisa dibilang lumayan yakni Rp.15 juta, menjadi Rp.20 juta. Kenaikan harga dianggapnya menjadi alasan kenapa investasi naik.

Investasi tersebut diperkirakan meraup omzet Rp.1 juta- Rp.1,5 juta. Ki Asem meminta royalti 2% saja dari omzet kotor. Mitra diperkirakan balik modal sekitar 6 bulan- 8 bulan. Harga makanan, untuk gorengan ambil contoh, berfariasi mengikuti kenaikan bahan naik dari Rp.500 jadi Rp.750 per- potong. Naiknya mencapai 20% dari bahan baku.

2. Angkringan Bersinar 

Didirikan oleh Sigit Purnomo, merupakan angkringan asli Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat. Usaha dimulai sejak tahun 2009 lantas membuka peluang waralaba. Total terakhir kali tercatat memiliki empat cabang, dimana dua diantaranya milik mitra Jabodetabek. Pimiliknya memiliki motivasi berinovasi lewat menu diluar biasanya angkringan.

Harga jual makanan rata- rata Rp.2000 -an sementara minuman seharga Rp.2000- Rp.4000. Nilai investasi dibilang lebih rendah yakni Rp.4 juta. Kamu sebagai mitra akan mendapatkan satu grobak, terpal, teko, piring, gelas dan sendok. Omzet diperkirakan Sigit sekitar Rp.300.000- Rp.350.000 per- hari. Akhir pekan bisa naik menjadi Rp.400.000 per- hari.

Hampir sama diatas, balik modal diperkirakan selepas 5 bulan sampai 8 bulan. Tetapi ia meyakinkan bahwa di bulan bulan empat dan lima sudah untung. Soal keuntungan katanya bisa mencapai nilai 30% dari omzet penjualan.

3. Angkringan Mbah Kakung

Angkringan asli Yogyakarta yang sukses mereguk pasar sampai Jakarta dan Bandung. Usaha didirikan oleh Ely Sulistiyowati resmi menawarkan kemitraan sejak 2013. Awal berdiri yaitu 2012, mitra baru sekitar Kota Semarang, melalui paket investasi senilai Rp.15 juta.

Paket investasi menghasilkan satu grobak, banner promosi, satu angklo bakar, satu kipas anyaman, satu lusin piring, sendok dan gelas. Ini termasuk satu unit kompor. Menurutnya omzet dihasilkan mencapai Rp.500.000 per- hari sampai Rp.15 juta per- bulan. Omzet minimal 20% dari pendapatan dan diperkirakan balik modal tiga bulan sampai enam bulan.

Makanannya seperti nasi tempe, nasi teri, aneka bacem dan aneka sate. Angkringan Mbah Kakung dijumpai pukul 18:00 sampai 24:00 WIB. Untuk minuman relatif sama dengan angkringan lain, dimana harga jualnya anatar Rp.3000- Rp.6000.

4. Angkringan Nakula

Kalau angkringan Nakula asalnya Semarang didirikan oleh Gunawan. Didirikan sejak 2010, dan Gunawan mulai menawarkan kerjasa sama waralaba. Paket investasinya mencapai Rp.70 juta dimana akan mendapat 10 grobak angkringan.

Investasi itu sudah termasuk tempat. Angkringan Nakula menyediakan nasi kucing bandeng, oseng tempe, sate telur puyuh, sate telur serta aneka gorengan. Harga jual antara Rp.1500 sampai Rp.2500 per- porsi. Ia menawarkan aneka minuman standar seperti kopi, susu, jahe, dan jeruk. Harga jual minuman antaranya Rp.1500 sampai Rp.2.000.

"Kalau di Jakarta mungkin bisa lebih mahal," ia mengingatkan. Memang waralaba dikonsep Gunawan sudah masuk ke ranah tempat sekaligus. Omzet 10 gerobak dikonsepnya yaitu Rp.50 juta per- bulan. Laba bersih antara 15% sampai 20% atau sekitar Rp.11 juta per- bulan.

Bedanya angkringan lain adalah target pasar kelas menengah bawah. Tetapi tidak memungkinkan angkringan Nakula menjangkau kalangan atas.

5. Solo Rasa Angkringan

Didirikan Maret 2010, Solo Rasa Angkringan, memang dikonsep berbeda oleh Anton Haekal. Menawarkan waralaba sejak 2011 silam, angkringan ini menggabungkan kesan modern dan tradisional. Meski waktu itu baru punya dua cabang Anton cukup percaya diri.

Biaya investasi ditentukan oleh posisi, Jawa Timur senilai Rp.9 juta, Jawa Tengah Rp.19 juta, Jawa Barat Rp.25 juta, dan luar Jawa Rp.35 juta. Omzet menurutnya rata- rata mencapai Rp.9 juta- Rp.15 juta per- bulan. Usaha ini diprediksi balik modal selepas enam bulan atau setahun. Sekitar 2012, Anton mengandeng mitra asal Bandung dan Malang.

Dia menggabungkan konsep angkringan dan kafe. Paket investasi tidak berubah sementara. Bahkan Anton mau memberikan fleksibiltas kepada mitra yang berminat. Perhitungannya pun menjadi lebih baik, meski akan sama balik modal satu tahun, Anton meyakinkan untung sampai 30%. Dia sendiri mengambil fee senilai Rp.150.000 per- bulan.

Atau kamu membayar Rp.9 juta saja per- lima tahun. Unik karena tawaran Anton merupakan investasi full- manajemen. Yakni dia meyakinkan pengelolaan dijalankan oleh pusat berbagi hasil 60% pusat dan 40% kita sebagai mitra. Inovasi menu antara lain nasi gudeg, ceker setan, yang mana harganya bervariasi Rp.1000- Rp.4000 per- porsi.

6. Angkringan Fatmawati

Handayani pemilik Angkringan Fatmawati menjelaskan: Usahanya berdiri sejak Juni 2006 di Jl. Fatmawati dan masih eksis sampai sekarang. Angkringan satu ini memiliki tiga cabang utama Pasar Minggu, Ciputat, dan Cililitan. Dulu pernah mempunya mitra di Depok. Tetapi sekarang dia cuma memiliki tiga gerai termasuk yang di Fatmawati.

Menurut dia kenapa gagal, karena mitra hanya menggarap usahanya sekedar bisnis sampingan saja. "Mitra saya orang kantoran, jadi saat anak buahnya sering tidak masuk, usahanya keteteran," paparnya.

Calon mitra lain mundur karena memang Handyani mengisaratkan syarat spesifik. Yakni mitra harus memiliki tempat berjualan sekitar 8 x 6 meter. Konsepnya dibikin sekalian lesehan. Meski begitu dia masih yakin ini akan berkembang. Pasalnya dia selalu mengembangkan konsep baru. Nilai investasinya Rp.13 juta sampai Rp.15 juta.

Mitra akan mendapatkan lisesnsi nama Angkringan Fatmawati selama lima tahun. Juga sudah termasuk kamu mendapatkan konsultasi gratis. Angkringan satu ini tidak meminta biaya fee. Handayani sendiri masih yakin usahanya akan sukses. "Bisnis ini masih bagus karena pasarnya jelas," tutur Handayani.

Artikel Terbaru Kami