Sabtu, 19 Desember 2015

Memulai Bisnis Lingerie Wacoal di Indonesia

Biografi Pengusaha Suryadi Sasmita 



Kisah orang miskin kemudian kaya sudah biasa. Namun, menarik ditelisik adalah kisah Suryadi Sasmita, pria kalem ini ternyata sukses berkat pakaian dalam wanita. Sulit dibayangkan, tetapi ayolah, kita bebas memulai usaha apapun selama bukan ilegal. Lanjut ceritanya sejak Sekolah Menengah Atas, Suryadi sudah menjadi sosok tulang punggu keluarga yang serba kekurangan.

Kesuksesan tentu tidak lah mudah dilalui. Pria kelahiran Jakarta, 12 April 1948 ini, mamang berasal dari satu keluarga tidak mampu. Manalagi dia adalah anak lelaki tertua dalam keluarga. Faktor itulah yang mendorong dia harus berpikir mandiri sejak dini. Dia bersama sang ayah lantas membuka toko konveksi tas. Sayang, itu harus gulung tikar karena bangkrut.

Selepas lulus SMA, ia melanjutkan bekerja di sebuah toko tekstil di Pasar Pagi, Jakarta. Pekerjaanya kala itu bekerja sebagai penjaga toko melayani pembeli. Kerja keras terbukti dari pilihannya untuk bekerja dalam dua sift sekaligus. Ya, Suryadi bekerja dari pagi ke sore dan sore ke malam. Hal ini menarik perhatian sang atasan sampai dikuliahkan.

Keberuntungan memang, Suryadi bisa berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Kulih jalan tetapi dia lupa bekerja di tempat atasannya itu. Sebagai wujud terima kasihnya kepada atasan, dilakukanya lewat bekerja lebih keras. Suryadi pun menjadi tidak konsentrasi dalam kuliah. Dikuliahkan, baru jalan enam bulan, Suryadi memilih berhenti kuliah dan kembali bekerja saja.

Alasannya karena dia masih memiliki tanggungan nafkah keluarga. Hasilnya bekerja di toko dikumpulkan sedikit- demi sedikit. Ia belikan toko kecil di Jembatan Lima. Toko inilah modalnya merajut asa untuk masa depan lebih baik.

Bisnis garmen


Toko tersebut sebagai catatan dikerjakan keluarga. Sementara Suryadi memilih tetap bekerja di Pasar Pagi. Empat tahun bekerja dibidang tekstil ternyata cukup. Dia lantas melompat ke perusahaan tekstil asal Jepang. Suryadi bekerja sebagai karyawan disana C. Jtoh. Ini merupakan perusahaan besar kelas dunia. Suryadi mendapatka kesempatan menjadi pengantar dokumen.

"Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau hanya bekerja sebagai pengantar dokumen," kenangnya. Dia pun memberanikan diri menghadap pimpinan perusahaan. Dengan gagah berani Suryandi meminta ditambahi kerjaannya. Dia meminta diberikan kesempatan berjualan benang. "Saya minta diizinkan berjualan benang," jelasnya.

Permintaan Suryadi diterima oleh atasa. Ia mendapatkan pekerjaan tambahan selain mengantar dokumen. Dia memang pekerja keras. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam, ia bekerja keras menjadi salah satu salesman perusahaan. Semuanya dilakoni sampai- sampai target setahun menjadi setengah tahun. Ya, ia berhasil memenuhi target bahkan sebelum masa tenggangnya.

Singkat cerita karir Suryadi meroket dan menambah banyak koneksi. Jaringan luas membawanya membuka perusahaan sandiri dibidang trading pada 1976. Usaha bernama Moritex Trading Company, menjadi jalan mengumpulkan lebih banyak modal. Dalam tempo setahun dibuka lah usaha lain dibidang rajut (knitting). Ia berinama usahanya tersebut Moritex Knitting.

"Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari," jelasnya. Sambil itu dia masih bekerja di C. Jtoh loh. Dan, jabatan Suryadi bukan lagi salesman tetapi sales representative.

Jaringan koneksi


Untungnya menjadi salesman adalah mampu membangun jaringan. Inilah manfaat dirasakan oleh Suryadi di masa menjadi pegawai gugus depan itu. Pokoknya, menurut Suryadi, seorang sales tugas utamanya hanya ya berdagang yang ada di kepala. Hanya kita harus memberikan informasi yang benar tentang produk. Ini akan membangun satu jalan pertemanan seperti halnya Suryadi.

"Kalau mereka puas, mereka pasti akan pesan," paparnya. Berkat ini pula usahanya sekarang menjadi- jadi. Dia dikenal sebagai salah satu pengusaha garmen. Usaha bernama Wacoal mampu menghasilkan penjualan naik 30%. Kini, dia sudah memiliki 50 gerai, balum lagi angka ratusan gerai yang tersebar di pusat- pusat belanja.

Suryadi menyandang gelar Direktur semua berkat salesman. Ia bertemu seseorang yang menawarinya kerja bersama perusahaan asal Jepang, Wacoal. Pernah bekerja di perusahaan Jepang, Suryadi tau betul kualitas dari produk mereka. Wacoal memiliki standar tinggi soal barang, bahan, dan pengerjaan. Bahan baku pun sebagai besar merupakan bahan impor dari luar.

Setelah delapan tahun bekerja di C.Jtoh, barulah Suryadi mengundurkan diri. Waktu cukup lama bahkan ia melakukan pekerjaan sambil menjadi pengusaha. Disaat mundur itulah seseorang menawarinya kerja sama bersama perusahaan Wacoal. Modal dikumpulkan sejak 1981 langsung digunakan untuk mebawa brand ini masuk ke Indonesia.

Usaha premium


Uang dipakai modal katanya sih sedikit. Biaya produksi pakaian dalam lebih menunjang budget Suryadi. Ia bicara alasan lain kenapa menerima tawaran Wacoal: Karena pengerjaanya sukar sehingga sulit menemukan pesaing dalam bisnis garmen pakaian dalam. Satu bra saja membutuhkan 27 komponen berbeda agar bisa nyaman.

Apalagi kalau bicara menyamakan warna dan desain. Butuh karyawan handal dan memilik ketrampilan soal jahit- menjahit. "Saya bekerja sama dengan perusahaan Wacoal dari Jepang, Prancis, dan Taiwan," jelasnya. Ia membeli borong produk mereka. Membawa teknisi kesana bahkan karyawan dikirim kesana. Sejak awal, Suryadi sudah memperhitungkan kerugian berbisnis manufakturing ini.

Hasil bisnis manufakturing jelasnya, bukan merupakan bisnis jangka pendek, tatapi jangkan panjang yang baru terlihat untungnya ke depan. Alurnya beda dengan usaha dagang yang cuma beli lantas dijual. Dia lalu menambahkan investasi jangka panjang yang butuh modal besar. "Bagi saya, salah satu investasi yang paling penting adalah sumber daya manusia," aku Suryadi.

Menarik kalau bicara tentang Presiden Direktur PT. Indonesian Wacoal ini. Secara gambal dia meyakinkan bahwa Wacoal Indonesia adalah Indonesia. Ini seperti dikutip dalam wawancara majalah SWA, bahwa itu tak penting brand luar, asalkan merupakan produksi dalam negeri dan ia setuju mendukung 70- 80% -nya merupakan hasil dalam negeri.

Perbedaan mencolok tentang bisnis pakaian dalam memang berasa. Kalau dulu, orang tidak berani menjual di display depan toko. Jualannya sembunyi- sembunyi bahkan dilarang pegang. Waktu Wacoal mulai jualan pertama kali memasang konsep berbeda. Suryadi memajang produk pakaian dalam di display bahkan boleh dipegang.

"Waktu itu orang cuma pegang- pegang, tapi enggak beli," kenangnya. Tempo tiga bulan semenjak pertama kali diluncurkan responnya datar. Apalagi jualan Suryadi merupakan pakain dalam wanita (lingerie.red) yang harganya 2 lebih mahal. "Sampai istilahnya barang jadi dekil and the kumel, hahahaha!! Dipegang- pegang tetapi tidak beli akhirnya kotor."

Ia ingat bagaimana akhirnya dia menggunakan dry cleaner. Tetapi dia yakin bahwa suatu hari pasti akan laku terjual. Sampai akhirnya sekarang produk pakaian dalam bebas masuk display. Lucunya dijelaskan olehnya sendiri produk pakaian dalam memakai formalin. Loh, kok, ya karena bahannya yang rentan jadi butuh satu sentuhan bahan kimia didalamnya.

Tetapi Wacoal tidak, ia meyakinkan tanpa bahan kimia dalam pakain dalam. Untuk menjual lebih banyak ada startegi 7 hari coba. Bayangkan, orang bisa beli pakaian dalam sampai tujuh hari jaminan. Dipakai dulu kalau nanti tidak nyaman boleh dikembalikan ke toko. Alasan mudahnya karena menyasar kepuasan pelanggan akan produk pakaian dalam Wacoal.

Memberikan pelayanan maksimal menjadi andalan. Suryadi bahkan mengkususkan SPG -nya mencontoh kinerja orang Jepang. Pengandaiannya, pengalaman ketika ia pernah melihat- lihat kamera, ada SPG datang melayani penuh keramahan. Dia pun bertanya tentang kamera tersebut dan malah tidak jadi beli. Reaksinya? Si SPG tersenyum, membungkukan badan, dan berterima kasih.

Produk Wacoal sendiri begitu hygienists proses pembuatannya. Tidak cuma pegawai, direksi juga kalau mau masuk ke pabrik harus disterilkan. Memakai tutup kepala, tidak boleh keringetan, jadinya kalau produksi satu produk harus disemprot AC. "Kalian tahu tidak komponen 1 bra ada berapa? Kalau bikin baju mah enak, 1 lembar cukup, tinggal jahit doang. Nah komponen bra, meskipun kecil, wah ribet dia."

Kenapa memilih bisnis pakaian dalam? Karena cari yang susah produksinya, karena pasti akan jarang lah diminati pengusaha lain. Wacoal sendiri kini sudah mengekspor sampai 10 negara. Kualitasnya sudah kualitas internasional atau dunia loh. "...bukan kualitas Citereup saja," candanya. Untuk inovasi jangan ditanya lagi soal hal semacam ini.

Wanita sekarang sudah menganggap pakaian dalam bukan lagi tempelan. Tetapi ini merupakan wujud dari fashion sendiri jadi ya aneka jenis serta modal pastilah selalu tersedia. Selain itu, mengikuti perkembangan gadget, ia juga mengembangkan pasarnya sendiri lewat Android. Mudahnya berbelanja lingerie kini makin mudah tanpa ribet.

"Makanya kenapa kami bikin Wacoal Sexy Look? Karena perempuan pada dasarnya ingin kelihatan sexy. Jadi kami bikin speck yang memperlihatkan bentuk sexy itu," tutur Suryadi.

Artikel Terbaru Kami