Kamis, 24 Desember 2015

Pembuat Tas Palomino Mantan Dokter Gigi

Profil Pengusaha Sukses Tina 



Tinggal lama di Jerman membuatnya tertarik di bisnis fashion. Namun, akarnya ternyata jauh sebelum itu, ia sudah menggemari aneka produk fashion sejak kecil. Lantaran sang ibu merupakan pemilik usaha konvesksi. Ia, Tina semakin punya cita rasa semenjak berkarir. Berprofesi dokter gigi membuat wanita satu ini punya kesempatan ke keluar negeri, melihat pertumbuhan industri fashion dunia.

Semenjak kecil Tina sudah membantu sang ibu berbisnis. Hasrat terbesarnya ada di produk tas wanita. Ia menyebut alasanya waktu itu karena mudah. Wanita asli kelahiran Medan, 50 tahun silam, yang menyandang gelar sarjana dokter gigi di Jerman. Pertama kali membuka pembuatan aneka produk tas wanita, sejak 1988 selepas kembali ke Indonesia.

Meski menyandang gelar dokter gigi tidak membuat surut. Malah, menurut Tina pekerjaan sebagi dokter gigi itu lama serta melelahkan. Pasti, banyak orang menyayangkan keputusan -nya untuk berhenti kerja. Apalagi dia malah nekat membuat tas wanita sendiri.

"Saya berhenti karena pekerjaan dokter gigi itu lama dan melelahkan," ujarnya.

Uang senilai Rp10 juta dijadikan modal olehnya. Sekembalinya ke Indonesia, dia langsung berburu beberapa meter kain di Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua. Peralatan mesin jahit juga tidak lupa dibelikannya. Lalu tinggal mencari tukang jahit kusus tas. Tina tidak punya kenalan tukang jahit. Jadi dia berburu sendiri tukang jahitnya ke Bogor dan Bandung.

Alasan ibu dua anak ini karena sudah mendengar ketenaran mereka. Para penjahit disana dikenal memang rapih serta memiliki jiwa seni tinggi. Pemesan pertama datang dari Jerman sendiri. Pesanan sebuah asosiasi asal Jerman untuk menyimpan barang. Sambil berjalan, Tina mulai belajar mendesain tas fashion sendiri.

Tidak mengecewakan


Hasil belajar otodidaknya ternyata berhasil. Tina bahkan mampu masuk ke penjualan di Magga Dua. Tidak lama berbisnis, masalah pertama datang, ini terjadi ketika workshop nya dilalap si jago merah. Semuanya itu hasil kerja keras Tina hangus 80%, termasuk bahan baku dan mesin jahit. Untung karena itu tidak malah jadi hangus semangat Tina.

Malahan, api membakar semangat anak ketiga dari enam bersaudara ini. Tina mulai menyusun kembali bisnis dari nol. Ia mulai mencari bahan, membeli peralatan mesin jahit, dan lain- lainya. Berhasil melewati masalah malah menjadikan tas produksinya semakin laris. Mungkin semangat itu mendorong Tina lebih berpikir out of the box.

Mulai dari menjual di toko Magga Dua, tas buatan Tina merambah ke department store kecil, seperti halnya Cahaya. Menjajaki peluang disana membuatnya mantap. Dia meyakini model bisnis ritel modern cocok buat usaha miliknya. Disini penjualan terjadi lebih jelas serta pembayaran juga. 

"Agak susah menjual barang ke perorangan, karena ragam pesanan lebih banyak dan pembayaran berbeda- beda," tutur Tina.

Bisnis Tina mulai matang sambil berjalan waktu. Tetapi, masalah kembali menghadang, karena krisis moneter menghempas bisnis tas wanitanya. Itu semua lantaran department store kecil seperti Cahaya menutup cabang di beberapa tempat. Dia sempat bingung mengalihkan pasokan barang. Ini semua karena banyak department store tutup.

Tetapi, mulai disini lah, ia mau berani menjajaki department store besar, seperti Matahari dan Metro. Wanita lulusan Freie Universitat Berlin ini, berpikir mereka adalah perusahaa besar. Bagi mereka tentu krisis ini tidak berdampak besar bagi jalannya bisnis. "Apalagi, jam terbang mereka sudah lama di Indonesia," jelas Tina singkat.

Ia harus bersiap mengikuti proses panjang. Memastikan bahwa tas wanitnya terjual banyak. Kala tidak laku, maka dia akan kehilang sumber pendapatan atau putus kontrak. Agar mampu bertahan hadir di department store besar maka butuh perhatian. Dia butuh raw material bagus serta jahitan kuat. Ini juga disoroti oleh si department store loh.

Meski berhasil, dia tidak menampik, mereka pelanggan Palomino (nama brand -nya) adalah pelanggan yang sejak lama. Agar mendapatkan kepercayaan tidak lupa pula menyediakan stok. Banyaknya produk siap jual dibutuhkan apalagi kalau produknya sukses di pasaran. Hubungan baik terjalin sejalan permintaan barang yang semakin banyak.

Sukses bertahan Palomino bertahan selama setengah dekade. Bahkan penjahitnya sudah mencapai 50 orang penjahit. Jumlah penjualan meningkat ketika menjelang hari raya. Untuk itulah, dia siap menyediakan banyak stok agar tetap sukses berjualan. Pokoknya, prinsip Tina, tempatnya di department store tidak lah boleh jadi kosong.

Palomino juga menyegarkan desain tas setiap waktu. Sampai di hari raya, Tina mengeluarkan 15 desain baru serta mempertahankan hubungan baik. Setiap bulan tidak kurang 7.000 tas wanita tersebar lewat department store besar. Passion menjadi kunci suksesnya wanita satu ini. "Department store menuntut para pemasoknya agar selalu up to date soal desain," tutup Tina.

Artikel Terbaru Kami