Senin, 14 Desember 2015

Perjalanan Petani Menjadi Pengusaha Karet Burlian

Profil Pengusaha Burlian Hakim 



Anak muda yang merantau menjadi petani sukses di Lampung. Kisah Burlian Hakim tidak semanis bayangan tersebut. Sejak usaha keluarga bangkrut otomatis dia hidup berkurangan. Anak ketiga dari lima bersaudara asal dearah Komering ini, tidak kuat lagi. Sejak 1977, ia memilih merantau ke Palembang, dimana Burlian masih duduk di bangku SMA bermodal tiga baju dan dua celana.

Seperti anak muda lain memilih merantau kerana kemiskinan. Burlian pun sama saja, tetapi pilihannya bukan ke Jakarta atau Kalimantan. Disana tidak ada saudara sehingga dia memilih Kota Lampung. Alasan lain yaitu di sana ada saudara yang telah menjadi pengusaha sukses. Tetapi bukan mudah karena sesampai di sana toh Burlian tetap bekerja biasa.

Di Lampung, dia mendapat pekerjaan menjadi tenaga penjualan di perusahaan distributor milik PT. Pupuk Sriwidjaja (PUSRI). Dia menjual pupuk dan obat- obatan tanaman. Pekerjaan yang dilakoni sejak 1982, yang mana akhirnya dia membuka toko pertanian sendiri. "Waktu itu modalnya saya ambil kredit dari BRI sebesar lima juta," kenang Burlian.

Toko pertanian ini resmi dibuka pada 1983. Lantaran pengalaman di dunia pupuk dan obat tanaman, toko kecil itu bisa tumbuh pesat tanpa halangan. Dalam waktu relatif cepat mampu menjadi salah satu toko obat pertanian terbesar di Lampung. Sambil menjalankan toko tersebut, iseng, Burlian mulai bertani kecil- kecilan dimulai dengan menanam semangka.

Petani semangka


Burlian cuma berpikir sederhana,"...belum ada satupun kebun semangka di Lampung." Pria 51 tahun ini lalu menceritakan kembali kisahnya. Selepas tahun 1987, resmi Burlian muda sudah punya pendamping, hidup sudah berasa lengkap menjadi pengusaha pertanian di Lampung. Usaha toko berjalan sementara sela- sela waktu dijalankan mengelola perkebunan.

Sejak 1987, usaha semangka semakin laris apalagi semenjak dipindahkan ke Bandar Jaya, dimana mampu menghasilkan 70 ton sampai 100 ton buah semangka. Dimana 40% sisanya merupakan semangka tanpa biji. Harga jual semangka tanpa biji waktu itu mencapai Rp.1500 per- kilogram.

Sukses bahkan semangka tidak cuma dijual di Lampung, tetapi Burlian memasarkan sampai ke Jakarta dan Cibitung.

"Saingan saya adalah semangka Banyuwangi," tutur Burlian. Hasil berjualan semangka saja sudah mencukupi menghasilkan omzet Rp.20 juta per- hari. Ia semakin bersemangat bahkan semua aset tanah dijadikan kebun semangka.

Tidak berhenti di Semangka saja, akhirnya dia mencoba- coba menanam jeruk siam. Lumayan lah hasilnya tetapi ternyata tidak hoki. Karena meski panen, harga jatuh, padahal sekali panen saja sudah menghasilkan ratusan ton. Padahal kebun jeruknya cepat tumbuh karena tanahnya subur. "...subur sekali, buahnya lebat," kenang Burlian.

Maka lah, cuma lima tahun, Burlian bertahan menanam jeruk siam. Hingga tahun 1998, dia dan keluarga kecilnya meninggalkan Bandar Jaya kembali ke Bandar Lampung. Kali ini apa yang dikerjakan Burlian itu usaha besar, dimana dia membuka kantor kontraktor penyedia pupuk serta obat tanaman. Fokus bisnisnya proyek pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga perhutanan.

"Ini semua gara- gara rengekan anak saya yang ingin melihat ayahnya berpakain dasi, sepatu, serta mobil bagus ketika berangkat kerja," kekeh Berlian.

Dia bercerita di tempat tinggalnya, Way Halim, merupakan daerah pegawai kantoran. Maka jadi tidak salah jika sang anak menginginkan hal tersebut. Mungkin dia sudah bosan melihat Burlian pakai pakaian seadanya, topi, dan bercelana pendek, berangkat ke kebun berkendara mobil pick- up. Sambil tergelak, disusul cerita Burlian bahwa kontraktor pertanian merupakan bisnis panas.

Pasalnya, dia harus bersaing dengan banyak pengusaha lain yang sudah mapan. Burlian bersaing ketat ketika maju dalam tender pemerintah. Setiap tender menjadi medan pertempuran diperebutkan. Sadar bahwa ini bukan dunianya perlahan tetapi pasti mundur. Dia melirik berdagang karet ketika berjalan mundur. Tetapi, ya sekalian saja, dia membuka saja pabrik pengolahan karet atau bokar.

Petani karet


Apalagi di Lampung, pabrik serupa masih sangat sedikit. Burlian lantas mencari lahan strategis di sekitar sentra karet di Tulang Bawang, Lampung Tengah. Modal membuka pabrik dihasilkan dari pinjaman ke bank BRI sebesar Rp.8 miliar di tahun 2004. Dua tahun berselang pinjaman berikutnya bisa naik sampai Rp.15 miliar.

"Saya namankan pabrik saya PT. Komering Jaya Perdana, sesuai daerah asal saya," jepas Burlian. Ini guna mengingatkan dia tentang Ridho Allah SWT. Dia sadar bahwa ini merupakan hasil kerja keras karena berani merantau ke Lampung. "...bukan warisan," bangga pria bersahaja ini. Di tahun 2007, pinjaman dari bank ia naikkan sampai Rp.35 miliar.

Namanya pengusaha semakin besar usaha maka semakin besar hutangnya. Bapak enam anak ini mempunyai pabrik baru mengolah 800 ton per- bulan. Pengolahan tersebut mampu menghasilkan setara dari Standard Indonesia Rubber (SIR) angka 20, dari tingakatan SIR 10, SIR 20, SIR 25. Hingga ia menjelaskan sembari berpromosi cocok buat industri pengolahan ban.

Usaha barunya ini mengekspor 90% hasil produksinya ke berbagai negara di Asia, seperti ke China, Korea dan Vietnam. Jujur saja, kebun karet milik Burlian sebenarnya kecil, itulah untuk memenuhi kebutuhan buat ekspor diambil dari petani. Seiring pertumbuhan hutang semakin besar bahkan mencapai Rp.10 miliar cuma buat intensifikasi pabrik.

Total Burlian memiliki 280 orang karyawan. Sebagai seorang pengusaha pengolahan karet, tidak cuma soal pegawai, tetapi dia memegang nasib hidup para petani karet. Ketika harga karet dunia turun dari $2,8 per- kilo menjadi $1,2 per- kilo otomasti menjatuhkan ekonomi petani karet. Untuk pengolahan karet seperti dia harga berapa pun tidak merugi karena pasti terjual.

Burlian tidak bisa membantu banyak. Tetapi memang untuk masalah ini, pemerintah diharapkan berperan aktif, seperti halnya pemerintahan Thailand terhadap nasib petani karet. Negeri Gajah Putih tersebut memberi kompensasi ketika harga pasaran karet menurun. Mereka bahkan melarang mereka menyadap sampai harga kembali normal.

Hal lain kenapa petani karet Indonesia lemah, selain karena harga jual ya karena produksinya rendah dan juga kualitas karet rendah. Para petani Indonesia tidak bisa menikmati harga jual meski normal. Istilahnya ya kalo kebun karet terbesar dimana ya di Indonesia, tetapi kualitas terendah dan tingkat produksi terendah ya di Indonesia pula. "Yang paling jelek dan paling sedikit juga Indonesia," tuturnya getir.

Bahkan hitungannya dibawah SIR, bahkan 10% lebih rendah dibawah harga standar karet Thailand atau di Malaysia. Ia mencontohkan Thailand bisa dicontoh oleh pemerintah. Selain itu Burlian berharap perbaikan di mutu komoditinya sendiri. Dia mencontohkan sendiri yakni lewat mitra kerja. Para petani dibawah usahanya, ia kunjungi dan edukasi sendiri agar lebih berkualitas.

Meski sudah diedukasi tetap saja petani nakal ada. Mereka tak segan menambah pasir atau tanah agar karet lebih berat. Untuk itulah dia akan tetap mendidik sambil membuka peluang lain. Termasuk membuka peluang bagi keluarganya sendiri. Seperti dia memberikan pengelolaan warnet, stasiun radio, minimarket, berbagai usaha,  kepada keponakan- keponakan.

Untuk pewaris usahanya sendiri tengah berkuliah di President University. Dia sudah disiapkan Burlian lewat kunjungan ke pertemuan internasional pengolahan karet. Usianya yang tidak muda lagi kini cuma dijalankan lewat beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan Allah SWT. "Apa yang saya dapat sudah lebih dari cukup, " tutup Burlian Hakim.

Artikel Terbaru Kami