Minggu, 20 Desember 2015

Menjalankan Kedai Kopi Hingga Restoran Javapuccino

Profil Pengusaha M. Asmui Kammuri 



Dia bukan pengusaha sejak usia belia. Juga bukan lah pengusaha karena hobi. Keterpaksaan mungkin yang membawanya menjadi pengusaha. Lambat laun, pria kelahiran Semarang, 24 Oktober 1985 ini, malah jadi ketagihan membuka usaha sendiri. Bahkan hobi M. Asmui Kammuri sekarang, bisa dibilang hobinya adalah membuka aneka usaha.

Bukan perkara mudah memulai usaha mandiri. Pertama kali membuka usaha paling mudah ya bimbingan belajar atau bimbel. Kisah berlanjut, dimulai sejak berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN), mangambil jurusan akuntansi yang ternyata sulit baginya. Bukan karena apa, tetapi karena membiayai kuliah dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dia mendirikan usaha bimbel sendiri. Nama bimbel terbaiknya adalah Smart Collage. Tentor didatangkan dari teman- teman Asmui sendiri. Hasilnya lumayan ternyata mengahasilkan uang dari bimbel. Ia terinspirasi  jejak sukses bimbel Bintang Pelajar, tempatnya dulu pernah praktik mengajar.

Cukup bermodal teman dan mereka mulai bergeriliya menjadi guru les privat. Sukses itu ternyata memiliki konsekuensi tersendiri. Bagi Asmui menjadi sibuk berarti tidak fokus kuliah. Alhasil dalam waktu singkat, sekitar dua tahun perjalanan, maka bubar lah bimbel tersebut. Padahal hasilnya lumaya bisa menambah buat biaya kuliah kan.

Menjalankan usaha membuatnya terbuai. Alhasil, Asmui jadi jarang berangka masuk ke kelas. Ditambah lagi nilai akademisnya malah menurun. Padahal kedua orang tua Asmui bukan lah orang berada. Mereka cuma petani yang secara finansial kerepotan menguliahkan dia. Gagal berbisnis, dan tuntutan kebutuhan, ia tidak mua menyerah mencari kesempatan.

Bisnis sebagai tambahan merupakan cara lain melunasi hutang. Lantas, dia mencoba usaha minuman, yang dirasanya mudah serta murah. Untung pun terhitung besar dibanding usaha lain. Kenapa tidak coba usaha makanan ternyata ada perhitungan sendiri. Terutama, adalah karena dia merasa ribet tiap kali mengerjakan pesanan orang. 

"Apalagi, makanan juga lebih mudah basi. Kalau tidak laku, malah merugikan," jelasnya.

Minuman kopi


Usaha minuman pertama kali modal es teh, sembari dia berkuliah dan juga mengajar anak les privat. Lantas jadi minuman teh spesial bernama Josstea. Sayangnya, dia tidak berhasil mendapatkan hak paten atas nama, maka tutuplah usaha itu. Yang berhasil justru usaha minuman kopi yang lantas diberi nama Javapuccino.

Ia tidak mau sembarangan meracik kopi. Sebelum berbisnis, Asmui sempatkan dulu kursus barista kepada seorang bartender. Pada 2 Februari 2008, ia memberanikan diri membuka kios kopi di Ciputat, yang mana modalnya Rp.3 juta untuk sewa grobak dan tempat. Tanpa disangka, ternyata kopi racikan Asmui disukai hingga laris manis.

Sambil tetap berkuliah sambil bisnisnya dijalankan. Ia mengakali dengan menggaji karyawan buat berjualan. Karena berjualan di pinggir jalan, layaknya PKL lain, Asmui menghadapi aneka bentuk premanismen di jalanan. Mereka kerap meminta jatah keamanan kepada Asmui. Selain itu gerobak yang dititipkan juga kena jarah sampai ludes.

Suatu hari bisa kotak penyimpanan es raib. Atau, blender yang hilang entah kemana, tetapi yang pasti Asmui tidak pernah berhenti berjuang. Setahun berjalan usahanya makin maju merambah aspek lain. Bisnis ini betul dikerjakan Asmui penuh gairah. Terbukti lewat inovasi aneka minuman ice blend coffee juga aneka teh. Ia juga menambahkan aneka bubble drink dan smoothies.

Bahkan sebelum setahun berdagang kaki lima sudah bisa naik kelas. "Persaingan orang untuk bisa masuk kantin memang luar biasa," jelasnya. Bertahap namun pasti kedai kopi bisa menjalar ke beberapa kantin lain, mulai dari kampusnya, lalu kantin Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Padjadjaran, Universitas Sumatra Utara dan sejumlah kampus lain.

Tahun 2009, ia total memiliki 26 kedai berbentuk booth, lalu menjalar ke kantin- kantin. Semua dijalankan oleh teman, saudara, bahkan ada dosen, semuanya menjadi patner bisnis Asmui. Target mahasiswa sejalan konsep akan bisnisnya yaitu anak muda. Lewat lokasi kantin maka akan bisa masuk ke sekolahan, kampus, dan perkantoran pula.

Alasan lain, karena murah, ternyata menyewa tempat di kantin kampus lebih berhemat. Padahal lewat kantin target pasarnya begitu terbentang lebar. Untuk pegawai tinggal memanfaatkan mahasiswa yang mau bekerja setengah hari. Bahkan ia menawarkan biar si mahasiswa sendiri yang mencari tempat. "Saya kasih fee sesuai target," jelas Asmui.

Menyasar aneka instansi digencarkan olehnya. Sampai, di tahun 2009, bisnis miliknya resmi terdaftar atas merek dagang. Juga termasuk pendirian perusahaan bernama PT. Javapuccino Coffee. Selepas itu, ia sendiri masih berhasrat lebih lagi, target berikutnya adalah membangun usaha kafe. "Belum banyak persaiangan di gedung perkantoran. Biasanya di satu kantor hanya terdapat satu kafe," jelasnya.

Dia menjelaskan padahal di Jakarta masih banyak. Yah, masih banyak gedung perkantoran yang bahkan belom punya kafe.

Tahun 2011, ia telah menyelesaikan kuliah dan siap berbisnis lebih. Untuk itulah lahir konsep bernama island kafe. Hingga pertengahan 2012, Asmui sudah mempunya lima kafe sendiri. Produk kafenya masih tetap sama seperti dulu ditambah aneka makanan. Menu andalah miliknya yaitu aneka makanan dan snack khas Jawa dan Italia.

Asmui juga menawarkan kerja sama berbentuk franchise loh. Berkat kerja kerasnya, dia bisa meraih aneka penghargaan seperti Wirausaha Muda Sukses Terbaik 2011 dari Menteri Koperasi dan UKM, Indonesia Franchise Award 2011 Kategori Fastest Growing Franchise, serta Juara Wirausaha Muda Mandiri 2010.

Bisnis lain


Ini merupakan pengembangan usaha berbentuk booth alias kaki lima. Nama Javapuccino Coffe berkembang jadi Javapuccion itu sendiri. Sejak 2008 berjualan kaki lima, tahun 2012, usahanya sudah merangkak sampai sekala kedai kopi hingga menjadi bisnis kafe. Untuk usaha booth masih dipertahankan hingga dijadikannya model franchise.

Usaha booth lantas bermetamorfosis di 2011 menjadi Solopuccino. Harapan sang pemilik adalah agar bisa mengembang ke segala arah. Perubahaan nama ini dampaknya tidak mengurangi minat franchisor. Jumlah totalnya ada 200 booth Javapuccino dan juga 100 booth milik Solopuccino. Restoran akhirnya bisa Asmui realiskan lewat Javachicken akhir 2012.

Konsep restoran seperti milik si Colonel Sanders, difokuskan buat pasar Kalimantan dan Sulawesi. Sampai di 2013 saja sudah mampu menargetkan 5 restoran Javachicken. "Buka pertama di Sampit. Di sana belum ada kompetitor. Lokasi yang memang bagus, kita konsep restorannya ala Jakarta. Pertumbuhannya bagus sekali," bangganya kepada pewarta SWA.

Ia sendiri belum bisa berkata banyak. Masih perlu banyak penyesuaian katanya dan memang butuh waktu. Hal lain, Asmui ikut masuk ke bisnis sepatu, mengusung nama Della Luce produksi Bogor. Tak tanggung- tanggung, pasar sepatu ini menyasar kalangan menengah atas loh. Untuk usaha fashion digandeng lah sang istri, Wiwi Winarti, sebagai ujung tombak bisnis PT. Pancaksuji Makmur.

Artikel Terbaru Kami