Kamis, 10 Desember 2015

25 Jutawan Muda Memiliki Persamaan 7 Hal

Artikel Bisnis Persamaan Entrepreneur Muda


 
Nick Tart mungkin baru berumur 22 tahun kala itu. Tetapi rencana gilanya benar- benar hebat. Dalam waktu singkat namanya disejajarkan jutawan muda. Dia mampu mencetak jutaan dollar lewat sebuah buku. Yaitu perjalanan dia dan patnernya, mewawancarai 25 remaja, mereka adalah para jutawan cilik menghasilkan 6 digit angka lebih.

Keduanya merupakan penulis 50 Interviews: Young Entrepreneurs, What It Takes To Make More Than Your Parents. Kalau penulisa bahasakan sih artinya Pengusaha Muda, Bagaimana Caranya Membuat Lebih Banyak Uang dari Orang Tua. Mereka merupakan entrepreneur cilik memulai usahanya ketika masih remaja. Beberapa bahkan masih berumur kurang dari sepuluh tahun.

Dalam tulisannya, menurut Business Insider, Nick mendapatkan kesimpulan: Entrepreneur jenis ini punya hal yang sama dimiliki. Anak- anak yang berjualan jus lemon di jalan, pulang lebih awal ketika sekolah usai dan memilih mengerjakan proyek bisnis mereka. Mereka merupakan anak- anak yang ngetrennya dipanggil orang, Generation- Y Entrepreneurs.

Jadi, apakah yang membuat mereka sama, sifat- sifat apa yang dibutuhkan anak- anak kita kelak. Apa yang bisa kita pelajari untuk kita pengusaha muda. Berikut ringkasan singkat dari artikel Business Insider pada 2010.

1. Dukungan orang tua dan semangat

Anak- anak ini punya keluarga yang tidak pernah ragu akan ambisi mereka. Ini bukan pula berarti orang tua memberi mereka modal loh. Setidaknya anak- anak ini harus membayarnya melalui berbagai kesuksesan. Ia lantas menjelaskan dukungan ini lebih ke arah emosional. 

Catherine Cook, meski dapat sokongan modal uang, faktanya itu bukanlah uang cuma- cuma dan murni profesional. Ia membangun MyYearbook.com sebagai perusahaan sebenarnya. Nick sendiri menyebut dari 25 entrepreneur tersebut hampir semuanya menggunakan uang sendiri. Ada yang bahkan mengajukan uang pinjaman sendiri seperti uang $10 untuk membeli domain.

Emil Motycka, 21 tahun, punya bisnisnya sendiri yakni usaha jasa. Ia memberikan jasa mengatur taman di Amerika sana. Dia bersama kawan mengambil hutang $8k untuk membeli mesin pemotong rumput. Mereka ini berhasil membayar hutang dalam tempo setahun.

Seperti halnya generasi sebelumnya, orang tua percaya bahwa mereka spesial, apa yang mereka lakukan jadi satu penghargaan mungkin lebih besar dari nilai ujian sekolah.

2. Memulai sesuatu yang bisa dikerjakan

Apakah menulis blog ataupun jasa pangkas rumput. Mereka itu benar- benar melakukan -eksekusi tanpa malu. Mereka mencari sesuatu yang benar bisa dikerjakan. Anak- anak ini membangun reputasinya sendiri sebagai entrepreneur. Mungkin mereka sudah memiliki bisnis berbeda jelas Nick. Tetapi dasarnya adalah berasal dari binis kecil yang mungkin sederhana.

Juliette Brindak, 24 tahun, memulai susuatu yang bisa dijalankan. Dia membangun MissOandFriends.com dan pada akhirnya menguasai bisnis sepenuhnya. Selama delapan tahun mengerjakan bisnis ini, dia mendapat satu investasi dari Proctor & Gamble menghasilkan nilai aset $15 juta. Berjalan waktu, usaha yang mudah ia kerjakan menjadi keahlian khusus.

3. Pekerja keras dan keras hati

Kebanyakan entrepreneur memulai dari konsep trial and error. Adam Horowitz, 18 tahun, menjalanan 30 situs berbeda di 3 tahun pertama sebelum akhirnya sukses. Dia lantas baru bisa menjual produk senilai 6 digit angka. Kemudian membuat produk lagi, menjual kembali, dia lantas menjual lagi itu. Lantas, Horowitz tiba dengan produk senilai $1,5 juta dalam tiga hari.

"Semua tidak akan berhasil tanpa 30 kegagalan diatas," papar Nick.

4. Pengorbanan bahwa dewasa tidak butuh masa remaja

Apa asiknya menjadi anak- anak kemudian remaja. Tidak perlu membayar sewa, tidak perlu memberi anak makan, tidak perlu bekerja. Untungnya jadi remaja ya tidak punya pengeluaran sebenarnya, kebebasan, juga melakukan apa yang mereka mau, dan akhirnya melakukan apapun termasuk entrepreneurship.

Satu hal yang sama dimilik mereka 25 entrepreneur yang diwawancara; mereka tidak punya masa remaja. Nick menuliskan kisah Emil Motycka yang suatu ketika diajak berenang. Tetapi dia tegas menolak undangan temannya tersebut. Motycka memilih bersenang- senang lewat bisnisnya sendiri. Teman remaja normal pasti menolak logika Motycka.

Hasilnya Motycka bisa mempunyai rumah sendiri dan temannya sering "memanfaatkan" nya.

5. Mereka dikatai tidak akan sukses

Tidak ada motifasi lebih baik seperti dikatai kamu tidak bisa melakukan apapun. Kebanyak dari tulisan Nick, 25 entrepreneur muda ini, kebanyakan mendapatkan perlakuan negatif dari guru dan teman. Salah satunya sosok Michael Dunlop yang paling bagus menjadi contoh.

Sebagai remaja disleksia membuatnya kesusahan di sekolah. Guru mengatai anak disleksia ini bahwa dia tak akan sukses. Dia memilih drop- out. Meski dengan kekurangan, Dunlop bekerja keras, mulai blogging dan bisa menghasilkan lewat Incomediary.com. Sekarang situs itu ranking 12.000 di Alexa dan menghasilkan 6 digit angka.

Tulisannya tidak hebat tetapi punya ribuan pembaca tutur Nick. Dunlop punya intuisi tajam soal bisnis dan itu terbukti. Lain lagi kisah Catherine Cook, pembuat MyYearbook.com ini langsung ditawari uang buat menjual situsnya. Dia menolak tetapi malah dikatai, "kamu tidak akan mencapai 3 juta pengguna". Sementara itu, ia terus bertahan dan membuktikan lewat 22 juta pengguna.

6. Mereka memisahkan pribadi dan bisnis

Gen- Y harusnya merupakan generasi narsis. Sementara entrepreneur muda ini memilih menyembunyikan jati diri mereka. Tidak menghubungkan kekayaan mereka dari apa bisnis mereka. Empat dari 25 entrepreneur muda ini mengambil nama alias bukan sebenarnya. Alasan utamanya ya karena bagian dari umur mereka. Lain hal yakni mereka ingin memisahkan antara kehidupan pribadi dan bisnis.

"Ini seperti mereka ingin memulai usaha sebagai sosok palsu," tutur Nick. Paling mencolok adalah kisah dari Andrew Fashion, entrepreneur muda sukses menghasilkan $2,5 juta, yang di ulang tahun ke 22 mendapatkan pelajarannya. Temannya tinggal di rumahnya tetapi tidak mau membayar sewa. Namun ketika ia membawa kendaraan teman mereka hitung- hitungan.

Remaja ini mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua bisa dipercaya.

7. Mereka terlahir untuk menjual

Berdasarkan wawancara Nick Tart, kebanyakan mereka sudah berjualan sejak kecil, mulai dari berbagai hal seperti perhiasan kecil. Michael Dunlop memulai dengan berjualan kartu Pokemon. Dia menyadari bahwa ini berharga tetapi bernilai rendah ditempatnya. Keith J. Davis menjual permen karet ke temannya, padahal ini dilarang oleh sekolah. Andrew Fashion merubah pensil mekanis menjadi peluncur roket.

Para jutawan muda ini terus berlatih buat menjual lagi. Apakah entrepreneurship adalah natural atau proses? Anak- anak pada dasarnya memilik uang, tetapi bukan itu alasan mereka mengerjakan entrepreneurship. Mereka bekerja keras mencapai sesuatu, yang pada akhirnya itu entrepreneurship -mereka memiliki hasrat tak terbendung.

Artikel Terbaru Kami