Sabtu, 12 Desember 2015

Pernah Diejek Kuliah Tinggi Cuma Jadi Penjual Roti

Profil Pengusaha Hafizh Suradiharja



Pernah bangkrut beberapa kali bukan lah halangan. Bagi hidup Hafizh Suradiharja, kehidupan bisnis adalah jalan hidup. Tidak bisa tidak kalau tidak berusaha sampai mentok- tok. Sejak 2006, pengusaha muda yang masih berstatus mahasiswa ini telah menjajal peruntungan lewat disc jokey (DJ).

Dia berani membuka usaha sekolah meracik musik karena tengah naik daun. Ia bahkan tidak mau tanggung- tanggung melengkapi sekolah dengan peralatan mahal. Sayang peralatan bagus bukan berarti bisnisnya itu berjalan lancar. "Saya tidak punya koneksi," kenangnya.

Selain itu, fakta sudah banyak sekolah sejenis membuka lebih murah soal biaya. Gagal berusaha di bidang pendidikan, ia melangkah masuk ke bisnis termudah yakni bisnis kuliner.

Mahasiswa Universitas Islam Jakarta yang kemudian memilih bisnis kuliner. Kembali dia memilih mengikuti tren bisnis saja. Usaha keduanya adalah usaha sop buah. Terlihat lancar karena sempat berkembang sampai tiga cabang. Sayangnya, karena persaingan semakin mengetat, lagi- lagi usahanya bangkrut kembali.

Pemuda kelahiran 29 Januari 1988 ini lantas mencoba kembali usaha baru di tahun 2008. Meski dicemooh sejak awal, Hafizh berbangga hati dan tetap menjalankan rutinitasnya. Sejak awal dia sudah bertekat tidak ingin seperti saudaranya. Dia ingin membuka usaha sendiri. Hafizh ingin sekali membuka usaha sendiri, mandiri, serta membuka peluang kerja.

Total sudah menjalankan satu, dua, tiga, dan ke- empat kali kegagalan sampai sukses.

"Saya ingin buka usaha sendiri, mandiri, dan membuka peluang kerja bagi orang lain," paparnya.

Alasan lain


Selain memang passion -nya di dunia bisnis, alasan lain seorang Hafizh karena ingin membantu orang tua. Dia menyebut bahwa orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Hidup mereka memang tidak kekurangan tetapi berkecukupan. Sampai akhirnya orang tua Hafizh harus pensiun tidak berpenghasilan.

"Sejak kecil saya juga sudah diarahkan menjadi PNS," kenangnya. Tetapi fakta mengejutkan justru datang dari sang kakek sendiri.

"Tapi saya lihat, kok, usaha daging sapi milik kakek yang hanya lulusan SD malah bisa berkembang pesat," tutur Hafizh kepada Tabloid Nova.

Semakin menjadi keinginan membantu orang tua ketika tahun 1995. Kala itu, sang ibu mengalami pecah di pembulu darah sampai koma, makanya membutuhkan banyak uang buat berobat. Batin Hafizh tergerak dan berpikir "...jika punya uang banyak saya bisa membantu ibu berobat ke mana saja," kenang Hafizh.

Sejak kecil sampai akhirnya masuk kuliah fokusnya mengurusi ibu. Semenjak itupula lah usahanya mulai berjalan sedikit- demi sedikit. Dia ingin membuka usaha sendiri karena pengen punya uang sendiri banyak. Dalam benaknya kalau bekerja dengan orang lain ataupun jadi PNS kapan dia punya uang banyak.

Mulai usaha ya ketika kuliah menjual macam- macam seperti seprai. Dia juga pernah berjualan roti hingga dicemooh keluarga. Gara- gara berjualan roti sampai terdengar suara sumbang. Paling menyebalkan ketika harus datang ke acara kumpul keluarga. "Sekolah tinggi- tinggi, kok, cuma jualan roti?," kenang Hafizh, menirukan adegan kata- katain tersebut.

Usaha pertama keluar modal banyak ya disc jockey. Pasalnya dia mepunyai hobi meramu aneka musik menjadi satu alunan menantang. Dia membuka sekolah DJ karena memang hobi men- DJ. Meski alat paling bagus tetapi cuma enam bulan . Setelah dievaluasi diri ternyata hasilnya dia tidak punya koneksi dan tidak punya nilai lebih (harga.red).

Gagal di bisnis sekolah DJ, Hafizh memilih berbisnis sup buah. Tetapi lagi- lagi gagal lantaran banyak pesaing bermunculan. Di tahun 2008, dia bertemu warga negara Singapura, keduanya membuka usaha travel agent bernama PT. Apex Indonusa Prima. Ia sempat membeli saham 30 persen,"saya menyetor sekitar 30 persen total saham."

Waktu berlalu, tetapi ternyata keduanya tidak sejalan lagi, alhasil ia memilih menjual saham dan mencoba peruntungan lain. Padahal untuk usaha travel, Hafizh sudah meminta- minta orang tua memberikan pinjaman ke dia. Usaha travel berjalan cukup enam bulan berlalu sampai benar pecah kongsi.

Perbedaan kedua rekan kerja itu memang terlihat sepele. Faktor usia sang rekan lebih tua sehingga disaat berbisnis lebih hati- hati. Sementara itu Hafizh seperti anak muda lainnya, ingin cepat mencapai titik tertentu di dalam hidup. Meski begitu rekan Singapura itu sempat memberikan solusi berupa inspirasi usaha.

Berhenti berbisnis sejenak, Hafizh memilih fokus saja melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Manajemen di Universitas Islam Nasional. Tahun 2009 mulai berpikir mencari peluang usaha. Dia lantas melirik, mencoba mengangkat usaha roti Jhon. Usaha yang dikenalnya dari si rekan asal Singapura tersebut sepertinya enak.

"Setiap kali datang dari Singapura, dia bawa Roti John. Enak juga rasanya, sementara di Indonesia belum ada makanan seperti ini," paparnya.

Usaha roti


Bisnis ke empat bukan perkara mudah baginya. Dia butuh menciptakan ide baru. Hafizh tidak mau gegabah dalam berbisnis lagi. Ketika usaha ketiganya gagal maka evaluasia diri menjadi solusi. Ia cukup lama untuk merenungi kesalahan bisnisnya. Zona merah itu ditemukan yakni menjalankan usaha yang banyak pesaingnya.

Ketika belum ada pengusaha membuka usaha roti Jhon di Indonesia. Maka, Hafizh segera berlari mencari pinjaman ke bank, sampai 30 jutaan hanya untuk memesan ke pabrik roti. Sisanya digunakan buat mencari kafe yang lantas dimake over. Dia baru menyadari bahwa usaha bakery di sekitar rumahnya berjalan sangat lama.

"Saya lihat di lingkungan saya ada perusahaan roti, yang sejak saya kecil sampai sekarang produksinya masih berjalan. Saya pikir, kenapa enggak bikin perusahaan roti saja," jelas Hafizh.

Resep roti John sendiri didapatkan Haifzh dari seorang teman. Soal tekstur, rasa, dan bentuk dipertahankan seperti asli. Dimana tekstur roti ini keras, serta cuma memiliki dua varian rasa yakni bawang dan telur. Pada 2009, satu gerai Roti Jhon dibuka di kawasan Tebet, perencanaanya matang, bahkan ia sempatkan buka CV sendiri.

"Usaha belum jelas hasilnya, kok, sudah bikin CV segala," Hafizh menirukan orang tuanya.

"Bukankah lebih baik uangnya dipakai buat tambahan modal?" kenangnya. Betul memang harusnya dia tidak langsung membuka perusahaan sendiri. Hanya saja bukan faktor apa, dia hanya ingin menjadikan bisnisnya makin serius dijalankan sebagai investasi.

Roti John miliknya 100% resep asli Singapura. "Alhamdulillah, tiga bulan kemudian bangkrut, ha ha ha."

Bulan pertama membuka usaha Roti John memang ramai. Bulan berikutnya kok semakin sedikit saja yang datang. Lama ke lamaan, gerai Roti John milik Hafizh kehilangan semua pembeli. Tidak ada satupun yang tersisa.

Ia lantas bergerak mencari tau apa salahnya dan menemukan fakta. Bahwa roti dijualnya itu kemahalan yakni Rp.12.000 serta minim variasi -cuma satu macam waktu itu. Hal lain, fakta bahwa roti seperti aslinya, Roti John buatan Hafizh keras, mana sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia.

Hafizh mulai mencoba membikin roti lagi. Memulai dari awal, agar sesuai sekali lidah orang Indonesia, yakni enak, harganya murah, dan bisa membuat kenyang. Lantas ia mencari chef hotel berbintang membuatkan roti seperti itu. Tetapi karena biayanya bisa mahal, pada akhirnya dia sendiri membuat sendiri bermodal mesin khusus.

Ruang tamu jadi gudang


Karena memang keterbatasan tempat maka jadilah dimanapun mampu. Dia lalu merubah ruang tamu orang tuanya menjadi gudang. Tidak direncanakan khusus karena waktu terbatas. Hafizh menyadari dia harus bisa cepat sukses karena sewa tempat cuma setahun. Disaat toko buka seadanya, ia getol mencari resep roti lagi.

Uji cobanya berhasil menghasilkan enam varian rasa. Roti buatannya pun lembut, tebal, dan mengenyangkan. Harga jualnya turun drastis lebih murah dibanding sebelumnya, yakni Rp.7.000. Dalam kurang dari setahun, akhirnya, dia mengembangkan gerainya jadi lebih besar. Pasar menyambut baik langkah Haifzh lewat Roti John.

Cabang pertama dibuka berkonsep gerobakan. Investasi murah dijalankan menekan modal. Ia berkata justru kalau berbentuk kafe malah orang enggan. Baru mau datang, mereka akan berpikir ini pasti mahal harganya. Lewat satu gerobak berkembang menjadi banyak gerobak. Dia masuk ke sekolah, mal, dan perkantoran.

Ternyata konsep diusungnya berjalan sangat baik. Bahkan ia mampu melebarkan sayap sampai ke luar kota seperti Semarang, Samarinda, dan Medan.

Membuka cabang di luar kota, Hafizh menyewa jasa konsultan bisnis. Itu terbayar karena dia mendapatkan banyak tawaran kerja sama. Paket kerja sama dikerjakan Hafizh yakni Rp.16 juta sampai Rp.45 jutaan. Bahkan ada orang Jepang tertarik memboyong Roti Jhon Haifzh. Dia sendiri belum mau karena belum kuat fondasi dalam negeri.

Ia tidak memiliki vendor. Prinsip kemandirian dipegang terus olehnya sejak dulu. Dia membuat sistem bagus, memberikan pelatihan karyawan, merancang pembukuan. Guna menambah pengetahuan dia tidak malu meminta saran sesama pengusaha muda.

Ke depan, langkah Roti John adalah, membuka gerai terintegrasi hingga roti benar- benar fresh. Tanggapan keluarga sekarang ini? Tentu mereka terkagum- kagum atas hasilnya. Khususnya orang tua merasa bahagia kerena akhirnya sukses besar.

"Jika dulu ada yang mencemooh, sekarang sudah enggak lagi. Bahkan saat ini ada kerabat yang kerja di tempat saya," jelasnya. Usaha gerai Roti John memiliki 35 orang karyawan, dan mampu memproduksi 500- 1000 roti. Bicara omzetnya sudah mencapai Rp.17,5 juta per- hari bukan per- bulan.

Artikel Terbaru Kami