Selasa, 08 Desember 2015

Es Krim Potong Kalimantan Barat Raymond Lim

Profil Pengusaha Raymond M. Limas



Es krim potong sempat menjadi primadona. Jajanan yang katanya asli Singapura itu, ternyata sudah 33 tahun berada di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Ialah sosok Raymond M. Limas, pengusaha asli dari Indonesia, yang menyimpan rahasia resep keluarga. Ini sama sekali bukan lah es krim potong Singapura loh. Dia menjelaskan lebih lanjut kisahnya melalui awak media.

Sebenarnya es krim miliknya merupakan bagian menu restoran. Usaha restoran keluarga yang dijalankan oleh Raymond. Es krim disini sebenarnya banyak bentuk. Semenjak es krim potong mulai naik daun maka naik pula es krim potong Raymond. Dia lantas muncul ke permukaan sebagai pengusaha es potong. Padahal dia bukanlah pengusaha es potong secara spesifik.

Hanya menu pelengkap katanya lagi menambahkan. Nama es potong Raymond semakin mencuat dibanding nama restoran Raymond Lim Resto. "Tadinya untuk pelengkap restoran saya, tapi malah jadi terbalik yang pelengkapnya malah restorannya," jelasnya lucu. Mereka pengunjung restoran datang malah mencari es krim potong Raymond.

Pengusaha asal Kalimantan Barat ini meyakinkan es krim miliknya homemade. Resep turun temurun 33 tahun milik keluarga. Es krim potong miliknya lebih tipis dibanding es krim Singapura. Macam varian rasa meliputi rasa coklat, kopi, alpukat, vanila, green tea, strawberry serta  kurma. Lantas ia menemukan resep musiman yakni es krim rasa durian dan mangga.

Awal model es krim milik keluarganya disajikan tradisional yakni dikerok. Hingga muncul ide menjadikan itu es krim potong bersama roti.

"Tapi kita tidak terinspirasi dari es krim potong Singapura. Ketebalan kita berbeda, yakni 18 mm," paparnya. Ketebalan lebih tipis dimaksudkan agar orang tidak jenuh memakannya.

Asli Indonesia menyajikan aneka rasa berbeda. Raymond menetapkan standar tinggi soal pemilihan buah  bahan baku -BMW alias becek, manis, wangi. Untuk wangi es krim durian ditetapkan tidak boleh bau langu, pahit, alkohol, minyak, asam. "Saya bisa badain itu dengan mencicipi buahnya tanpa ditelan," jelasnya. Nama es krim potong miliknya pun semakin menggema.

Dia bahkan bisa meggaet mitra di lokasi berbeda. Usaha tersebut lantas diberinya nama Raymond Lim Es Potong Sandwich. Dia lantas kembangkan lewat usaha berbasis franchise. Ada dua paket investasi yakni es krim booth kecil dan booth besar masing- masing Rp.10 juta dan Rp.35 juta. Mitra bisnis rata- rata menjual 4 ribu potong sebulan seharga Rp.15 ribu per- buah

Mitra bisa menghasilkan omzet rata- rata Rp.60 juta. Dan, Raymond sendiri mengaku mampu menghimpun sukses Rp.540 juta dalam waktu satu bulan. Ia pun telah membuka kemitraan sampai di Pasar Santa yang mana pemesanan mencapai 2.000 potong. Produksi ditempat ini bahkan mencapai 10.000 per- potong.

Artikel Terbaru Kami