Selasa, 22 Desember 2015

Toko Amanah Muslim Pasar Baru Strategi Jitu

Profil Pengusaha Djoko Sasongko


 
Mantan teknisi ini mencoba peruntungan berbisnis busana muslim. Hasilnya, tak disangka, nama Ir. H. Djoko Sasongko bisa seterkanal ini. Dia menjadi sosok teladan pengusaha pakaian muslim. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai consultant engineering atau tenaga ahli pesawat. Ia bekerja di sebuah perusahaan bernama PT. Industri Pesawat Nusantara (IPTN) Bandung. 

Pada tahun 1989, Djoko menjabat jabatan Kepala Department Environment Control and Protection System. Karena keahlian inilah, maka Djoko jadi sering berpergian, termasuk bekerja sampai ke Brazil sebagai ahli penerbangan. Dia juga bepergian sampai ke Amerika, Perancis, Belgia, sampai Turki. Djoko jauh- jauh ke sana mendapatkan gaji 7 kali lipat gaji Indonesia.

"...tapi untuk ibadah kurang nyaman," jelasnya. Kenapa, karena Djoko kesulitan menjalankan Shalat Fardhu berjamaah. Anehnya perusahaan juga tidak menyediakan tempat ibadah. Apalagi kalau sudah waktu sholah jum'at, terpaksa, ia berangkat ke luar kota sampai waktu dua jam.

Terbersit pemikiran seandainya membuka usaha sendiri di Indonesia. Bayangan Djojo ialah usaha dengan pendapatan kotor minimal Rp.10 juta saja. Pastilah dia bisa tenang tidak perlu repot ke luar negeri. Memang bertugas sebagai pegawai perusahaan memang menyita waktu. Kontrak ke luar negeri baru selesai di akhir tahun 2003 dan Djoko siap berbisnis.

Lantas pandangan matanya tertuju ke arah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Waktu itu Ia sempat membaca iklan media cetak tentang kios disewakan. Pengelola Pasar Baru menawarkan kios di lantai ke empat. Maklum lah di lantai empat masih kosong melompong. Belum langsung mengundurkan diri, Djoko memilik rencana tersendiri untuk kios tersebut.

Ide bisnis


November 2003, sang istri, Ir. Hj. Prawestri yang bekerja sebagai Kepala System Engineering di  IPTN, mengundurkan diri menjadi pegawai. Ia akan langsung mengerjakan bisnis pakaian muslim dan perlengkapan haji. Dia cukup memakai kios lantai empat yang disediakan oleh Djoko. Nah, selagi sang istri mengerjakan bisnisnya, Djoko melanjutkan kerja di IPTN sebagai karyawan.

Tahun 2005, masih belum berhenti, Djoko malah bekerja sampai ke luar negeri, tepatnya di Belgia. Dimana ia telah menandatangani kontrak kerja setahun. Selama enam bulan, ia bisa menabung sampai Rp.100 juta per- bulan. Uang tabungan tersebut lah menjadi modal tambahan. Kontrak di Belgia selesai, maka dia bisa mambantu sang istri mengerjakan bisnis di Indonesia.

Mengusung nama Amanah Muslim, tempat itu menawarkan busana muslim dan perlengakapan haji. Idenya muncul ketika dirinya menunaikan ibadah haji. Tepatnya waktu itu tahun 1977, di Mekkah, Djoko tengah terpesona atas penghargaan Raja Fahd sebagai pelayan tanah suci. Dorongan lain munculnya ketika tengah menjalankan wukuf, thawaf, serta ifadah.

Ia berbagai minuman sementara teriknya matahari membakar. "Nah dari situlah ide saya membuka busana muslim dengan harga murah untuk membantu muslim," tambah Djoko.

Usaha dijalankan bermodal kios di Pasar Baru seharga Rp.200 juta. Untuk fasilitas serta produk jualan dibeli senilai Rp.35 juta. Kios berukuran 6,25 m2 ini dijadikan bisnis berkonsep one stop shopping. Maknanya, disini, kamu bisa membeli perlengkapan haji atau busana muslim terlengkap. Meski barangnya baru sedikit, Djoko sudah berani menggemborkan konsep tersebut.

Kecendrungan masyarakat menghemat waktu ketika berbelanja terbaca. Pembeli cenderung memilih tempat yang memiliki beragam produk berbeda. Saling melengkapi, jadilah mereka tidak perlu repot kesana- kemari keliling pasar. "Dalam bisnis itu harus punya mimpi besar. Dan mimpi besar saya waktu itu memiliki ingin memiliki mall dengan konsep one stop shopping," jelasnya.

"saking terobsesinya kalimat one stop shopping lebih besar ukuran hurufnya ketimbang nama Amanah Muslim," tuturnya, pria yang didapuk menjadi Ketua Haji dan Umrah Pasar Baru ini.

Padahal cuma toko kecil tetapi berjualan aneka barang. Produknya, awal sekali, bahkan masih bercampur- campur antara perlengkapan haji dan busana muslim. Akal cerdik Djoko muncul mengkonsep agar terlihat rapih. Maka disulapnya rak- rak didepan menjadi lebih rapih. Ia menampilkan bagian depan toko sesuai apa dibutuhkan (musimnya.red).

Ketika musim Ramadhan, maka Amanah Muslim menampilkan busana muslim. Rak di depan menyuguhkan aneka pakaian muslim. Nah, ketika Ramadhan selesai, maka Amanah Muslim akan memajang perlengkapan haji. Usai musim haji maka akan berubah kembali mengikuti. Dalam tempo tujuh bulan, tepatnya Mei 2004, Djoko merambah bisnis penjualan Al- Quran, VCD, serta produk lainnya.

Pengusaha lulusan ITB ini, memang selalu melayani pembeli secara sigap, ramah, dan perhatian. Beda antara bulan Ramadhan dan lainnya tidak berbeda. Djoko tetap menekankan sikap ramah serta tanggap, meski sepi ataupun ramai sama saja. Dia tidak mau pedagang Pasa Baru disebut pengusaha musiman. Cuma lah dagang empat bulan selesai sudah.

Katanya, pedagang semangat ketika Ramadhan tatapi nyatai ketika bulan lain. Djoko tidak mau hal tersebut karena setiap hari orang datang. "Nah ini yang saya tidak mau. Tidak bisa seperti itu, toh setiap hari orang pasti datang,"tutur Djoko. Tidak dipungkiri hasil berjualan di Ramadhan lebih dari mencukupi. Toko Amanah Muslim meraup omzet Rp.20 juta, Rp.30 juta, dan puncaknya di Ramadhan yaitu Rp.35 juta.

Omzetnya bahkan bisa mencapai Rp.1 miliar selama bulan Ramadhan itu. Pasalnya, Djoko sudah memiliki 7 kios beda di Pasa Baru, yakni 3 kios perlengkapan haji dan busana muslim, 1 kios perlengkapan busana muslimah anak, 1 kios perlengakapan busana muslim dan 2 kios toko buku muslim. Hampir setiap tahun selalu saja mengembangkan bisnisnya.

Ia pun memisahkan beberapa kios khusus. Mereka akan menjual produk tertentu, cuma tempatnya dibikin sangat berdekatan. Gencarnya iklan media cetak, iklan online, sangat mendongkrak kesuksesannya. Amanah Muslim dikonsep sedemikian rupa menjadi one stop shopping. Ia berharap bahwa pengunjung tidak akan berhenti belanja satu jenis saja.

Alhasil, penghasilan perbulan mencapai Rp.10 juta, seperti apa harapannya ketika memulai usaha busana muslim. Strateginya agar pembeli yakin tidak membutuhkan produk lain di tempat lain. Strategi ini terbukit berhasil karena pengunjung membeli barang minimal satu sampai dua juta rupiah.

Artikel Terbaru Kami