Senin, 07 Desember 2015

Jajan Krepes Bunda Sulis Berawal di Rumah

Profil Pengusaha Sulistiawati Ningsih 



Inspirasi wirausahawan muda adalah kebutuhan. Kita butuh semangat untuk terus menjalankan usaha. Kalau bicara sumber bisa macam- macam. Tetapi pengalaman adalah guru terbaik termasuk pengalaman orang lain. Berikut kisah dari buku Rahasia Jadi Entrepreneur Muda. Kisah seorang Sulistyawati Ningsih, 34 tahun, atau sering dipanggil Bunda Sulis mengajak orang lain sukses.

Dia tidak sendiri ketika memulai usaha. Melihat peluang waralaba Bunda Sulis mengajak dua orang teman untuk berbisnis bersama. Ia bersama Teti dan Nopy akhirnya mengerjakan bisnis Lucky Crepes serius. Awal usaha sendiri bermula dari usaha rumahan. Kini, dia dikenal sebagai pengusaha sukses, memiliki 250 gerai cabang Lucky Crepes dan beberapa lembaga pendidikan pra- sekolah. 

"Saya sudah malas bekerja di kantor lagi," aku Sulis. Mantan pegawai Indosat ini memang berawal dari karyawan nyambi pengusaha. Namun kemudia ditekuni sampai sukses. Alasan utama kenapa berbisnis di rumah menurutnya "kebahagiaan".

Dia sendiri seorang ibu rumah tangga. Faktanya mengerjakan usaha di rumah menyenangkan loh. Pemikiran tentang dunia kerja lambat laun ditinggalkan. Bayangkan, ketika dia masih bekerja, lulusan STT Telkom Bandung ini, harus berangkat dari rumahnya yang di Tangerang, Propinsi Banten, ke kantor yang beralamat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. 

Berangkatnya dari jam 6 dan harus meninggalkan anak- anaknya yang masih kecil. "...semua saya mulai dari bisnis yang dapat dimulai dari rumah, dan hal itu sangat membahagiakan," ujarnya, yang semuanya ditulis di buku Bunda Luar Biasa.

Bisnis luar biasa


Dia bersama dua orang patungan mengumpulkan Rp.10 juta. Itupun sebagian besar merupakan pinjaman dari bank. Sebelum waralaba, Sulis memang sudah merencanakan usaha sendiri, mengerjakan usahanya itu di rumahnya. Itu pun setelah 10 outlet miliknya sendiri berjalan. Lantas ada seorang temannya menyarankan kenapa tidak di waralaba.

Awal sekali usahanya masih tanpa nama ketika 2004 -an. Selepas patungan uang Rp.10 juta tersebut baru dimulai bisnis sesungguhnya. Dari satu outlet, bisnisnya menjadi empat outlet selepas mendapat modal. Tiga sahabat ini baru memberi nama selepas siap berwaralaba. Mereka sendiri mengerjakan sendiri berbagi tugas karyawan.

Sebelum mengerjakan bisnis crepes ini Sulis pernah berbisnis lain. Menurut bukunya Bunda Luar Biasa, dia pernah mengerjakan jualan bed cover atau sprei. Intinya dia menjadi distributor atau agen produk retail yang bermacam- macam. Ia pernah juga berjualan pakaian, kue, dll. Menurutnya modal usaha rumaha saja tidak membutuhkan modal lebih dari Rp.5- 10 juta.

Kembali ke Luck Crepes, maka jadilah Bunda Sulis menjadi marketing strategy manager, Nopy berperan jadi public relation manager, dan Teti kemudian bertindak sebagai operasional manager. Perkembangan dari usaha ini sangat bagus sampai Teti memutuskan keluar. Dia memutuskan keluar dari pekerjaan untuk fokus di usaha ini.

Mereka membidik pasar menengah kebawah dengan harga mulai Rp.2000 saja. Untuk strategi marketing dari segala penjuru -menyebar brosur, sosial media, iklan media cetak, dan program member. Alhasil inilah yang membuat Lucky Crepes menjadi buruan media manapun seperti SWA, Majalah Pengusaha, Franchise, Pebisnis, Tabloid Peluang Usaha, Kontan,dll. Soal Waralabanya juga tidak memungut fee ataupun royalti dari nama.

Tidak membebani mitra menjadi konsep lain. Modal investasi waralaba terjangkau yakni Rp.5,5 juta rupiah sudah termasuk join fee, peralatan, gerai, seragam dan pelatihan. Kita mencarikan lokasi dan karyawan buat jualan saja. Kemitraan bisa lewat www.luckycrepes.com atau www.luckycrepes.multiply.com. Sukses ini pun tidak begitu saja karena ada hambatan harus ditaklukan.

Sulis sebenarnya tidak berniat mengerjakan bisnis krepes. Ia malah maunya membuka usaha penitipan anak dan lembaga pendidikan TK atupun PAUD. Namun, karena ingin membuka di mall, maka dana yang ia bisa keluarkan bisa membengkak. Meski pernah ditawari investor tetapi kepastian tidak kunjung tiba. Dia lantas bertemu satu perusahaan. Tetapi mereka menawari kerja sama lembaga pendidikan dan pelatihan wirausaha.

Sayang kordinasi diantara keduanya tidak berjalan baik. Karena memang, Bunda Sulis masih sibuk dengan pekerjaanya. Gagal usaha pendidikan justru membawa arah ke bisnis kuliner. Dia yang sadar bahwa teman- teman hobi jajan akhirnya punya ide. Ketika dia bersama teman tengah nongkrong di kantin kantor, ia lantas menemukan jajanan unik bernama kue iekker.

Usaha waralaba


Ia menemukan titik "aha" nya. Lantas direalisasikan oleh mereka lewat gerobak pertama. Mereka lanjutkan lewat mencari literatur resep krepes. Berikutnya Sulis mulai mengumpulkan peralatan memasak. Outlet itu dibuka pertama kali di kawasan pasar rumput di sebuah sekolah, di Bakasi. Cobaan pertama datang lewat karyawan yang kurang bertanggung jawab.

Alhasil, Bunda Sulis harus menomboki biaya pengelolaan outlet pertama tersebut. Ia mencari lagi karyawan yang bisa bertanggung jawab.

Perkembangan positif akhirnya terlihat dari usaha krepes. Berani mengambil resiko, Sulis memutuskan buat meminjam kredit tanpa agunan di bank swasta. Pertaruhannya tersebut menghasilkan hasil memuaskan. Hasil dari usaha krepes ternyata lebih tinggi daripada bunga bank. Dia lantas mendaftarkan nama usahanya agar tidak ditiru. Cabangya telah bertambah 10 outlet dan diliput oleh berbagai media bisnis.

Liputan media bisnis menaikan pamor Lucky Crepes. Ditambah liputan khusus sebuah tabloid bisnis ternama tentu lebih naik. Omzet pun mencapai angka Rp.100 juta per- bulan dari 240 cabang berbeda. Lalu Lucky Crepes menyambut investasi pewaralaba tersebut lewat aneka produk baru, seperti martabak manis, produk wafel, dan pukis parabola.

Memiliki usaha lembaga pendidikan merupakan impian. Jadi ketika Lucky Crepes sukses, maka Bunda Sulis mulai lagi menyasar usaha pendidikan, yang sebenarnya sudah dia impikan sejak sebelum menikah. Ini sudah diyakini tetapi berjalan justru selepas dua tahun Lucky Crepes berjalan. Usaha lembaga pendidikan dimulai sejak 2005, sementara yayasan resmi menaungi lembaga baru berdiri Februari 2006.

Usaha lembaga pendidikan berkonsep kelompok bermain dan TKIT, yang kemudian dinamai Ibnu Rusyid berjalan sejak tahun ajaran 2006- 2007 di Kencana Loka, Bumi Serpong Damai. Dimana fokus pendidikan ada di pendidikan karakter dan multiple intelligence. Tidak cuma diajarkan baca dan menulis tetapi termasuk bagaiamana good character. Semua berdasarkan kepercayaan Sulis akan "golden age" masa pertumbuhan.

Usaha kedua kemudian didirikan di Citra Raya Tangerang. Perjalanan usahanya kemudian berkembang lebih pesat lewat program TPA Plus dan English Club for Kids. Yayasan Ibnu Rusyid juga termasuk rajin dalam hal mengadakan seminar dan pelatihan multi- intelligence. Untuk mereka yang mau membuka usaha ini juga diberikan pelatihan kurikulum berbasis tersebut.

Dalam hal membagi waktu di kantor ataupun di yayasan, Bunda Sulis menyerahkan kepada satu tim yang full time bekerja di yayasan. Kemudian dalam jangka panjang yayasan akan membuka sekolah guru berbasi di konsep multi- intelligence tersebut. Ini juga termasuk bagi orang tua yang mau belajar lebih banyak tentang hal multi- intelligence.

Usaha selanjutnya adalah membuka salon muslimah. Dia membuka usaha ini di kawasan Villa Ilhami, Lippo Karawaci. Meski masih embiro belum sukses tetapi tetap dijalankan. Ia memang sudah berprinsip bahwa ini soal dikerjakan atau tidak. Bunda Sulis menyadari usaha bukan tentang cepat tetapi proses. Maka kalau ada ide bisnis harus segera dilakukan.

"Kalau patokan dan tujuan kita hanyalah hasilnya, setiap proses yang belum menghasilkan akan kita anggap sia- sia," tutur wanita berjilbab ini.

Artikel Terbaru Kami