Kamis, 10 Desember 2015

Pengusaha Gerobak Mungil Waralaba Rombongku

Biografi Pengusaha Wahyu Kharisma



Memiliki hobi mendesain bingung memulai usaha. Pasangan pengusaha muda satu ini mungkin menginspirasi usaha kamu. Berdua mampu melihat dibalik tren bisnis di Indonesia. Ketika musim bisnis waralaba keduanya malah membuka usaha jasa. Tetapi bukan sembarangan jasa, tetapi Wahyu Kharisma beserta istrinya, Dyas Ayu Anindya, membuka jasa pembuatan booth atau outlet waralaba.

Mengusung nama Rombongku, pria yang akrab dipanggil Nobby ini awalnya diminta memenuhi pesanan orang. Dia dan istri mendapatkan permintaan dari beberapa pengusaha lokal. Mereka diminta banyak sekali membuat jasa desain untuk berjualan minuman atau makanan. Awal mula cuma dibikin standar saja, tetapi berjalannya waktu semakin unik dan cocok bagi pemilik waralaba kembangkan.

Pembeli banyak datang dari pemilik franchise. Bahkan keduanya bisa mewaralabakan konsep usaha mereka sendiri. Pemesan pertama paling besar ialah pemilik Kebab Baba Rafi, Hendy Setiono. Dari gerobak bikinan Nobby itulah mengalir kisah ratusan cabang Baba Rafi. Kala itu, ia mengisahkan, Hendy masih berjualan lewat gerobak dorong dari kampung ke kampung.

Pemesan selanjutnya adalah Bakso Kepala Sapi dan Coffe Toffe. "Sekarang kami tidak hanya jual jasa pembuatan rombong saja, melainkan sekaligus konsultasi bentuk dan logo produk yang akan dijual," papara Nobby. Pria kelahiran Banyuwangi, 31 Juli 1979 ini, sepakat memperdalam konsep usahanya lebih lanjut. Ia tidak lagi sekedar membuatkan berdasarkan pesanan saja.

Di rumah berupa workshop desain, yang waktu itu kecil- kecilan, kedua orang ini memulai usahanya penuh semangat. Dimana tumbuh memiliki 10 orang desainer dan 20 tukang. Kalau bicara omzet tidak kalah dari pemilik waralaba yakni Rp.1 miliar per- tahun. Menyasar bisnis kuliner menjadi andalan pasangan pengusaha muda ini.

"Bisnis kuliner adalah bisnis tidak akan pernah ada habisnya, selalu ada dan makin banyak berkembang," jelasnya lagi.

Bisnis gerobak


Lulusan Jurusan Desain Produk Industri ITS, memang Nobby mempunya hobi mendesain ketika masanya di kuliah dulu. Terus berlanjut sampai ia menjadi pegawai di sebuah perusahaan digital printing. Dua tahun jalan hidupnya beralih ketika ia dan sang istri melihat tumbuh pesatnya usaha waralaba. Dan, satu fakta menarik, para miliarder baru ini adalah mereka yang berawal dari gerobak dorong.

Perhatian mereka ialah pedagang kaki lima. Mereka yang penjual makanan atau minuman. Mereka yang baru memulai jalannya di dunia pewaralabaan. Lambat laun workshop mereka yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, mulai dikenal oleh kalangan kaki lima sampai pengusaha menengah. Ia bermodal satu komputer miliknya ketika masih berkuliah dulu.

Modal uang sendiri didapat dari mengumpulkan honor membuka les privat gambar. Dia juga mengajar anak- anak melukis di Surabaya. Nobby dan Ayu mengakui mereka bermimpi. Usaha tersebut didasari hobi akan dunia desain. Sementara diliputi kesempitan dalam mengumpulkan uang. Awal mereka cuma membuat logo, maskot, kemasan dan brosur. Ditambah kerja keras, kreatitifitas miliknya mampu mencapai Sabang sampai Marauke.

Kecintaan akan desain serta kuliner melahirkan Rombongku. Brand usaha jasa yang ingin menggairahkan si usaha kecil lewat visual Maka grobak buatannya memiliki garis, warna, dan tesktur yang enak dipandang oleh mata. Berjalan waktu usahanya juga termasuk pembuatan media marketing seperti hal brosur, flayer, serta kemasan produk, maskot, sampai mereka mengkonsepkan usaha apa.

Tahun 2005 merupakan tahun modal dengkul pasangan suami- istri ini. Berbekal laptop (komputer) satu- satunya ditambah uang ngumpul Rp.5 juta jalan. Selama sebulan, berjalan waktu, mereka akhirnya mampu mencapai omzet rata- rata Rp.100 juta dan sampai tembus Rp.150 juta. Selama Ramadhan usaha mereka jadi meningkat karena banyak pedagang dadakan.

Pesanan bisa mencapai puluhan unit. Dimana jasa konsultasi desain dan logo, Nobby memberikan harga yaitu Rp.1,5 juta, Rp.2,5 juta, dan Rp.3 juta. Harga tersebut tetapi diluar harga pembuatan grobak. Untuk harga rombong bervariasi Rp.1,5 juta, sampai bisa Rp.20 juta. Rombongku pun telah memasuki sekala kafe dan restoran. Untuk gerobak sekelas kafe lebih mahal karena lebih rumit dan unik dibanding kaki lima.

Nobby dibantu 25 tukang kayu yang merupakan karyawan lepas dari Sidoarjo. Semua melalui proses kreatif juga ditambah bantuan 10 orang tim khusus desain. Satu rombong ukuran sedang akan dikerjakan seorang tukang dan selesai tiga sampai empat kali. Rata- rata permintaan akan rombong bikinan Nobby Rombongku mencapai 20 buah. Adapula yang sekalian konsultasi desaian sekaligus bikn di tempat, tambah Ayu.

Pemesan telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Paling jauh pesanan, wanita kelahiran Surabaya, 14 November 1983, ini menuturkan sampai ke wilayah Papua sana. Penawaran dilakukan awalnya lewat blog yang gratisan di www.rombongku.blogspot.com. Klien luar ada juga loh tetapi tidak seramai kebutuhan akan pengusaha lokal yakni dari Dubai meminta burger hotdog, jelas Ayu menambahkan lagi.

Total 400 desain telah dikembangkan siap dibikin. Tiap pemesan bisa beda desainnya, tetapi tidak juga lupa menyiapkan model rombong sebagai dasar. Kalau ada order, ya, tinggal pihaknya memasang merek dagang saja. "Tetapi mayoritas desainnya by order," ujar Ayu. Dibutuhkan desain unik dan cantik agar benar- benar mengangkat produk si pemesan.

Usaha macam pembuatan grobak waralaba ini mulai sengit. Aneka macam upaya dijalankan pengusaha agar menarik perhatian pengusaha waralaba. "Banyak anak muda kreatif yang bisa memulai dari sekarang. Tak perlu modal besar untuk usaha semacam ini karena yang dijual ide," papar Nobby. Bahan baku pun mudah ditemukan di dalam negeri seperi paku, papan, cat, dan pernak- pernik.

Website: www.rombongku.com

Artikel Terbaru Kami