Selasa, 29 Desember 2015

Raja Bengkel Berawal Sekedar Mimpi Tukang Las

Profil Pengusaha Heri Cahyono 


 
Ketidak berdayaan memaksanya terus berusaha. Kerja keras menjadi pilihan satu- satunya agar hidup Heri Cahyono bisa berjalan. Ini merupakan cambuk agar menguatkan tekad. Heri kecil sudah berbiasa membantu orang tua mencari kayu bakar, kemiri, ataupun hasil hutan lain. Menjadi pengusaha sebenarnya tidak pernah terbersit di benak laki- laki berkacamata ini.

Semenjak sang ayah berhenti berusaha praktis ekonomi keluarga kacau. Ditengah masalah tersebut maka Heri memilih ikut bekerja keras. Selepas lulus STM Negeri Malang, dia tidak mau membebani keluarga jadi mau langsung bekerja. Ia sadar tidak mudah keluarga membiaya sekolah diwaktu itu. Tetapi akhirnya dia pun harus mengubur mimpi berkuliah.

Pria kelahiran 1978 ini langsung bekerja menjadi tukang las. "Kesusahan yang melanda keluarga kamu justru membuat saya terpicu," jelas Heri. Sejak masih SD sudah keluar masuk hutan mencari apa saja. Dia lalu menjual itu dan uangnya diserahkan ke ibu. "...untuk membantu biaya keluarga," tuturnya. Pasca lulus dia menjadi tukang las di Kota Singosari, Malang.

Momen bekerja membuat hidup Heri gusar. Perasaan ingin lebih sukses lagi melanda batin kecilnya. Sadar diri, bahwa apa yang dimiliki sekarang tidak akan membantu. Dia ingin berkuliah tetapi bagaimana cara. Ia mempunyai cita- cita berkuliah di Jurusan Teknik Mesin tetapi belum. Hingga beasiswa Vocational Education Development Center (VEDC) disetujui.

Ini merupakan lembaga pendidikan kerja sama antara Indonesia dan Swiss. Tidak cuma beasiswa otomotif tetapi juga berbagai bidang ilmu. Cita- cita berkuliah Heri akhirnya terwujud tidak terduga. Dia mengambil bidang spooring dan balancing.

"Saya mengalahkan kandidat dari seluruh Indonesia," akunya bangga.

Meski bukan beasiswa kuliah tetapi sangat membanggakan. Karena dia belajar otomotif sebenarnya selama satu tahun. Dan, lebih beruntung lagi, Heri tidak perlu repot bekerja serabutan langsung ditempatkan. Ia pun bekerja menjadi mekanik di sebuah bengkel di Jakarta Pusat sejak 1995- 2000. Jabatan terakhir dienyam olehnya adalah Kepala Bengkel.

Kuliah berbisnis


Total lima tahun dia bekerja menjadi pegawai bengkel. Selama bekerja di bengkel, tidak lupa uang disisihkan buat ditabung untuk apalagi kalau bukan kuliah. Pria asli Malang ini akhirnya bisa berkuliah beneran yakni D3 jurusan Manajemen Bisnis di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan. Bingung kan? Ternyata Heri telah sudah melihat aspek lain akan hidupnya.

Tamat berkuliah membawanya ke dunia wirausaha. Bekerja menjadi pegawai bengkel cukup lama maka dia mungkin bosan. Menurut pengakuan Heri sendiri sudah banyak ide dikepala. Inilah saatnya dia menentukan nasib melalui cek kosong Tuhan. Keputusan terakhir nanti merupakan jalan mencapai cita- cita. Dia ingin hidup mapan selepas kuliah.

Dia tidak memilih kuliah otomotif tetapi bisnis. Merasa telah cukup bergelut dengan spooring dan balancing, terbersit pemikiran membuka peluang usaha. Dia lantas menggandeng dua orang teman. Uang setoran ketiga sekawan tersebut total Rp.15 juta atau Rp.5 juta masing- masing. Uang segitu dibelikan mesin spooring dan balancing.

Gerai pertama dibuka bermodal menumpang di toko ban milik teman. Tepat tahun 2000, usaha kecil tersebut dijalankan secara bagi hasil. Namun, berbisnis ternyata tidak mudah, tiga bulan pertama tidak menghasilkan apapun. "Saya seperti puasa," kenang Heri. Uang masuk cuma buat membayar gaji karyawan saja tidak ada lebih.

Pria 36 tahun ini mencoba menggali ide lain. Bagaimana cara meningkatkan pendapatan usaha. Maka dia mulai menawarkan jasa spooring dan balancing ke bengkel lain. Dia masuk ke pasaran lain yakni business to business. Hasilnya ternyata diluar dugaan ternyata menghasilkan sambutan cukup baik. Berkat layanan prima maka usahanya tersebar mulut ke mulut.

Sejak awal pemikiran bahwa lelaki harus bekerja seperti lelaki tertanam. Disis lain, dia memang suka akan berbau otomotif, jadi ketika ditawari sekolah ya masuk ke STM. Lain cerita ketika Heri harus memilih mau kuliah dimana. Dia sempat limbung memilih di jurusan bisnis atau otomotif. Tetapi karena otomotif sudah bisa maka dia memilih jurusan bisnis.

Tepatnya dia berkuliah mengambil Diploma Jurusan Finance dan Banking. Uniknya jurusan tersebut ternyata adalah merupakan jurusan yang paling dibenci. Keputusan tepat ternyata memilih sesuatu yang tidak disukai membuahkan hasil.

Bengkel baru


Heri mengorbankan uang tabungan Rp.5 juta. Sementara dua temannya total menyumbang uang Rp.10 juta. Ia lantas membuka bengkel menumpang. Bengkel pertama berada di daerah Cirendeu, Ciputat. Dia berani masuk ke bengke remi pemegang merek (ATPM). Yang biasanya memang soal spooring dan balancing itu diserahkan pihak ketiga.

Sejak 2004 bengkel milik mereka menempati tempat sendiri. Heri ingat memang pernah menginginkan punya usaha sendiri bernama PT. HRA. Itu secara tidak sengaja telah digagasnya sejak kelas 5 SD. Waktu itu dia mekihat sebuah truk berlabel nama perusahaan. Seketika Heri kecil menuliskan nama HRA singakatan dari Heri, Rudi dan Andri (nama kakak).

Kerja keras merupakan kebiasaan hidup. Dari tahun ke tahun usahanya telah meningkat signifikan. Heri tidak berhenti memberikan jasa spooring dan balancing. Kini, dia mentransformasi bisnis menjadi jasa outsourcing spooring mulai perangkat sampai SDM ke dealer resmi.

Satu per- satu bengkel ATPM memakai jasa Heri. Mereka juga termasuk deler resmi bekerja sama dengan mereka PT. Heriromadiali, Auto2000, Astra Daihatsu, Nasmoco, Tunas Group, Honda Mobil, Astra Isuzu, Plaza Toyota, Hyundai,dll. Total dia bekerja sama dengan 140 gerai di seluruh kota Indonesia. Total sudah memiliki enam bengkel miliknya.

Berekpansi Heri juga membuka usaha pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Malang. Karyawan HRA sudah mencapai 450 orang. Ia berpikir untuk mencari usaha lain beresiko rendah. Omzet bengkel saja sudah mencapai Rp.4,5 juta. Ia bahkan merencanakan membesarkan sampai autopilot yakni mempekerjakan tenaga profesional.

"€œSaya ingin, semua usaha ini bisa bertahan hingga puluhan tahun,"€ ujar Heri. Usaha lain termasuk ia membuka usaha soto dan sop Haji Moei. Usaha kuliner yang telah membuka dua tempat di Jalan Haji Nawi Jakarta Selatan dan Jalan Bukit Cirendeu.

Sosok Ken Arok menjadi inspirasi berbisnis Heri. Istilahnya "ongisnade" atau lengkapnya istilah Singo Edan. Memang di Malang terkenal akan bahasa walikan Singo Edan diwalik ya jadinya Ongisnade. Dimana istilah itu mempresentasikan orang Malang gigih mencapai kesuksesan. Mental dirinya telah terlatih hingga sukses mencapai sekarang.

Satu trobosan dilakukan oleh HRA Group yakni layanan edukasi. Mereka memberikan pengetahuan akan kerja si mesin juga. Heri meyakini selama manajerial baik. Maka usaha apapun yang kamu kerjakan akan maksimal tumbuh. "Proses yang baik akan mendatangkan hasil yang baik pula," paparnya. Bukan tanpa masalah sekali lagi berbisnis itu.

Heri cuma memilih fokus kepada proses. Masalah terberat dijalaninya adalah masalah permodalan. Ini bisa menyebabkan usaha kamu sulit tumbuh. Apalagi kesulitan tersebut datangnya justru disaat pelanggan tumbuh pesat. Dia ingat benar ketika segala pengajuan kredit ditolak. Ia pun mengedepankan silaturahmi sebagai jalan.

Ia bahkan sampai menjaminkan jabatan manajer waktu masih bekerja. Ini membantu untuk mulai mencicil aneka peralatan bengkel. Padahal pembelian mesin menurut aturan produsen harus bayak cash. Agar tetap mendukung setiap lini usaha juga ditingkatkan. Termasuk usaha Heri membuka salon motor Motorshop. Satu usaha berkonsep one stop servis.

Heri juga tidak segan membayar tenaga profesional. Ia menggabungkan bengkel motor kustom dengan salon motor. Motorspot terletak di Jalan Cirendeu Raya siap memanjakan motor kita. Disana tempatnya nyaman lengkap wifi, AC, serta berbagai sumber bacaan. Menyikapi persaingan ketat di bisnis bengkel maka ada dua kunci.

Paling pertama adalah bagaimana dia menjaga kualitas layanan. Maka kedua menurut Heri merupakan faktor objektif memberikan manfaat. Sisanya merupakan faktor subjektif yakni Tuhan. Disini tinggal kepercayaan masing- masing soal kepercayaan akan sukses.

"...karena apapun yang diberikan oleh- Nya adalah yang terbaik untuk kita," tutur Heri kepada pewarta dari Wartakota

Artikel Terbaru Kami