Sabtu, 05 Desember 2015

Usaha Kue Kacang Kediri Modal Lima Ribu Rupiah

Profil Pengusaha Teguh Poerwono Edi


 
Teguh jualan kacang baru ketika tahun 1989 -an. Dia bersama keluarga baru saja pindah ke Kediri dan ingin buka usaha sendiri. Hingga berjalan waktu, Teguh Poerwono Edi, menjadi pengusaha sukses kue kacang di daerah tersebut. Kisah ini dimulai 26 tahun silam, yang mana ia sekarang kantongi omzet sampai ratusan juta rupiah. Kebetulan dia dan sang istri punya hobi sama, yakni membuat aneka kue.

"Awalnya, istri saya suka membuat kue, terus resepnya saya ubah- ubah," beber Teguh. Hobi itu pula yang melahirkan resep kue kacang bermerek Tidar. Selepas matang kue kacang cukup ditawar- tawarkan ke para tetangga dan teman- teman.

Hasilnya ternyata enak sampai banyak orang berminat. Ia serius akan hasilnya dan mulai meproduksi lebih banyak lagi. Keberuntungan dipihak Teguh karena sekitar rumahnya dekat kawasan pabrik. Mereka pekerja di pabrik ketika sore hari bisa mampir membeli ke toko miliknya. Awal usahanya masih menghasilkan 300 buah kue per- hari.

Modal awal cuma Rp.5000,- ditambah peralatan seadanya. Uang segitu dibelikan terigu 3kg serta gula dan aneka bahan lain. Saat itu, Teguh mengingat harga terigu per- kilo masih Rp.750, dimana bisa diubah menjadi ratusan kue kacang. Untuk peralatan cetak cukup memakai tutup botol minuman anaknya. Roti kacang yang sekarang menjadi khas Kediri ini dijualnya Rp25 per- buah.

Berkat usahanya tanpa menyerah, Teguh mendapatkan penghargaan Bogasari SME Award 2012 lalu.

Resep rahasia


Dia dibantu anak dan seorang pembantu mengerjakan pesanan. Meski keterbatasan, Teguh masih optimis usaha kue kacangnya akan berkembang. Banyak tantangan memang dilaluinya setiap waktu. Hingga selama bertahun- tahun usaha kue kacangnya semakin dikenal luas. Kini, ia memperkerjakan 45 orang karyawan, yang mana sudah punya tempat produksi sendiri.

Dalam sehari, rumah produksi menghasilkan 67.200 kue kacang. Ukuran kue kacangnya sebesar kue bakpia atau donat mini berbentuk bulat. Kue tersebut lantas dikemas dalam toples. Satu toples kue kacang sekarang dijual seharga Rp.240 per- butir. Bahan baku dibutuhkan mancapai 20 sak sampai 22 sak per- hari. Omzet kue kacangnya telah mencapai angka Rp.300 juta per- bulan.

Selain Kediri, kue kacang milik Taguh bisa melalang buana ke penjuru Indonesia, semua berkat internet yang membangun resellernya di berbagai daerah.

Modal memang terbatas tetapi Taguh tidak memilih pinjaman bank. Sebenarnya ada keinginan meminjam ke Bank tetapi dirinya sadar. "Akses terhadap pinjaman modal bank itu tidak mudah," jelasnya. Modal satu- satunya bisa ia tawarkan cuma berhutang ke warung. Lewat cara inilah ia bisa mendapatkan bahan baku tanpa bayar dulu.

Karena salalu bayar tepat waktu dan tidak pernah meleset, Teguh bisa dipercaya oleh pihak pemasok bahan baku. Bahkan sang pemasok menawarkan bahan baku lebih banyak lagi. Jujur, Teguh nyeletuk tidak punya uang buat bahan baku lebih banyak. Pemasok bahan baku pun meyakinkan Teguh dengan kemudahan. Ia boleh mengambil tepung terigu dan bayar kalau sudah akhir pekan.

"...mereka membolehkan saya berhutang," papar Teguh. Semenjak itu, dia mulai mengambil bahan baku buat enam hari ke depan. Dimana biasanya dia memakai tepung terigu sebanyak tiga sampai lima kilogram per- hari. Kini, ia bisa membuat lebih banyak berkali- kali dan laku semua dijual. Karena dipercaya pula usahanya bisa mendapatkan kemudahan lain.

Ia juga dipercaya sama pedagang peralatan kue. Beberapa kali dirinya mengambi peralatan kue seperti oven, plastik, serta barang lain, dan soal pembayaran akan dilakukan belakangan. "Hampir seluruh bahan saya hutang dari pedagangan," ujar Teguh. Berkat bahan baku lebih banyak serta peralatan lebih baik, tentunya ia bisa lebih banyak berekspansi lebih cepat.

Hasil keuntungan beberapa ditabung setiap hari. Di akhir pekan, ia akan membayar semua hutang- hutang yang dimilikinya. Ia tidak mau menyia- nyiakan kepercayaan mereka. Teguh sadar jika kita pandai merawat kepercayaan maka bisnisnya berkembang. Kue kacang bermereka Tidar semakin bersinar. Sekarang, ketika butuh terigu, pemasok tepung akan mudahnya menyuruh Teguh ambil.

"Berapa pun saya ambil pasti dibolehkan pemilik toko," celetuk Teguh lagi, disambut tawa. Ketika sekala dari usahanya membesar baru bank datang menghampiri. Ia memperoleh pinjaman sampai Rp.220 juta dari sebuah bank untuk membesarkan usaha. Uang tersebut digunakan untuk membeli kedaraan buat distribusi kue kacang Tidar.


Ambisi terbesar seorang Teguh adalah memasarkan Tidar ke seluruh Jawa. Jangkauan kue kacang miliknya sejauh ini masih di kawasan Jawa Timur. Bukan dipasarkan dia sendiri tetapi dibawa lewat internet. Reseller lah yang membesarkan usaha kue kacang miliknya. Karena sudah ada reseller, dia optimis bisa menjangkau lebih luas ke seluruh Pulau Jawa. Untuk itupula kapasitas produksi digenjot maksimal olehnya.

"Saya ingin punya mesin cetak kue yang sudah canggih," terang Teguh.

Untuk sekarang pembuatan kue kacang masih buatan tangan. Jika diganti mesin tentu produksi bisa naik sampai seratus persen. Teguh ingin dari 67.200 per- hari menjadi 270.000 kue per- hari. Karena memang itu jumlah pesanan terbanyak yang diminta pasar terutama ketika Lebaran. Ia juga berencana merubah kemasan kue agar tahan lebih lama.

Untung sedikit menjadi prinsip seorang Teguh. Yang terpenting untung sedikit asal bisa berproduksi kembali. Ia sendiri sadar resellernya menjual lebih mahal. Tetapi dia tidak ambil pusing akan hal tersebut,"Tidak apa- apa pedagang lain yang bisa menikmati keuntungan lebih, yang penting saya jalan terus," tuturnya. Hitunganya semakin banyak reseller semakin banyak permintaan dan untung pasti semakin besar.

Artikel Terbaru Kami