Selasa, 01 Desember 2015

Pengusaha Sabut Kelapa Kaya Asal Kebumen Hasim

Profil Pengusaha Mahasim 



Memulai usaha sabut kelapa memang menggiurkan hasilnya. Seperti kisah Mahasim, pengusaha sabut kelapa asal Kebumen, Jawa Tengah, menghasilkan puluhan juta dari sabut kelapa. Alasan harga sabut kelapa yang murah ditambah ide seketika. Ia membayangkan menciptakan seni kriya dari sana. Inilah kisah pria bermodal Rp.100 ribu jaya, yang awalnya pembuat karpet aneka ukuran.

Harga satu butir kelapa Rp.180/butir saat itu, dan ketika musim hujan harganya cuma Rp.100/butir. Butiran kelapa lantas dimasukan Mahasim dalam mesin serat atau fiber sabut. Modal sepuluh butir bisa menghasilkan 1kg serat sabut. Nah, kalau sudah menjadi serat sabut, harganya naik menjadi Rp.2.600/kg. Cukup menjual serat saja sudah terlihat untung cukup besar.

Aneka produk


Apalagi kalau serat itu dijadikan aneka kerajinan kriya. Tentu pundi- pundi rupiah dihasilkan melonjak tajam. Mahasim membaca hal tersebut sejak 1997. Produk awal dihasilkan serabut adalah keset berbagai ukuran. Ia seiring waktu mulai membuat aneka produk, seperti tas, topi, sandal, pot, coconet, sampai bantal, guling, dan kasur serabut kelapa.

Agar lebih menjual, dikombinasi batok kelapa, kayu kelapa atau gelugnya, ia menghasilkan menghasilkan tas dan kursi. Kerangkan dibuat modal kayu kelapa sementara jok kursi dibuat dari sabut kelapa. Lalu, dia juga membuat aneka pot biasa atau gantung dari sabut kelapa. Ini namanya cocopot bisa menahan air menghemat proses penyiraman.

Selain itu, kalau menggunakan cocopot ada keunggulan lain, yaitu memindahkan bibit ke lahan tinggal kamu tanam tanpa lepas cocopot. Kalau dibandingkan polybag atau plastik, tentu cocopot lebih ramah lingkungan. Ia juga mengerkana cocopeat. Apa itu? Merupakan hasil olahan berupa serat fiber dan selanjutnya Mahasim olah menjadi pupuk organik. Untuk jumlahnya, Mahasim selama sehari menggiling 3.000 sampai 4.000 butir.

Jumlah sepuluh butir sabut menghasilkan 1 cocopeat. Kalau sudah diolah menjadi pupu organik, maka ia bisa menjual seharga Rp.450/kg di luar ongkos kiri.

"Pupuk organik itu dijual ke Kalimatan Timur, 10- 20 ton sebulan. Waktu mau lebaran mereka pesan 60 ton per bulan," tutur Mahasim.

Memang banyak tetapi Mahasim masih menyanggupi. Ia pernah diminta sampai 400 ton per- bulan loh. "...kami enggak sanggup," kenangnya. Warga Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen, Jateng, ini termasuk memproduksi sabutret atau sabut berkaret.

Sabutret adalah sabut berkaret yang biasa digunakan menjadi isi bantal, kasur, guling, maupun jok kursi. Dia menyebut pengolahannya berbeda dengan kaset atau coconet, yang merupakan anyaman dari sabut fiber. Ini merupakan serabut fiber diolah lebih lanjut. Sabut digiling dan dianyam menjadi tali. Lantas tali- tali tersebut diolah melalui oven.

Tali lantas diurai agar tidak keriting, lalu ditata di cetakan. Nah, Coconet ini lantas dijadikan isi bantal, guling, kasur, atau jok. Kasur setebal 5cm dijualnya menjadi Rp.600.000. Kasur akan dijualnya jadi Rp.1,5 juta setebal 15cm. Dan, untuk bantal dan guling dijual seharga Rp.50.000 per- buah. Ia bercerita pernah melayani permintaan kasur berisi sabutret dari Amerika. Tidak tanggung, Amerika memintanya mengirim 1 kontainer.

Tetapi, sayangnya, Hasim memilih mundur karena usaha miliknya masih kecil. Padahal kalau dilihat waktu itu, bisa dibilang usaha Hasim sudah cukup besar dimata awam.

Omzet ratusan juta


Usaha Hasim mempekerjakan 15 orang karyawan tetap. Ia juga mempunyai beberapa mitra tersebar di lima kecamatan di Kebumen. Mereka biasa membuat barang setengah jadi ataupun jadi yang dijual ke AKAS (Aneka Kerajinan Anyaman Sabut). Padahal, ketika memulai ia cuma memiliki dua karyawan saja. Lantas Hasim membangun Kelompok Usaha Bersama (KUB) bernama AKAS ini.

Setiap bulan Hasim mengirim ke Timika, Balikpapan, dan Medan. Coconet tali kecil akan dijual Rp.8000/m, sementara coconet besar dijual Rp.13.000/m. Untuk masing- masing daerah dikirim satu trongton atau berisi 200 rol. "Satu rol panjangnya 50m," papar Hasim. Omzet coconet ini total Rp.240 juta (Rp.8000 x 200 rol x 3kontainer). Itu pun masih dihitung pemasukan satu produk.

Pemasukan aneka produk kecil seperti keset kecil 5000 lembar, keset besar 2000 lembar. Masing harganya Rp.5.000 dan Rp.35.000. Melayani pengiriman ke Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Pontianak, dan Medan. Ia juga menyebut pengiriman pot gantung ke Australia sebanyak 200- 300 buah, seharga Rp.30.000/pot. Untuk Jepang permintaan tali sabut sebanyak 2500 ikat. Ikat panjang 10m dan setiap meter dijual Rp.5000.

Mahasim mengaku mengandalkan bahan baku asal Kebumen saja. Dia mempunyai 4 pemasok tetap setiap minggu mengirim 1-2 truk. Setiap truk berisi berisi 4.000 butir sabut kelapa. Hasim juga aktif memanfaatkan jaringan pedaganga kelapa mengirimi ratusan butir sabut tiap hari.

Satu kendala terbesar dirinya adalah tenaga kerja. Karena sebagian besar warga desa merupakan petani. Jadi kalau pas waktu bertani tiba, mereka akan fokus mengurusi sawah. Mahasim jadi cuma mengandalkan sedikit pekerja. Kendala lain ya musim hujan karena pengeringan. Ia menyebut coconet butuh lapangan luas. Kalau hujan ya pekerjaan akan berhenti sejenak.

Dia akhirnya meminta kelonggaran waktu. "Yang tadinya 10 hari, saya minta kelonggaran jadi 20 hari," tutur Mahasim.

Relasi kuat membuat usahanya berjalan sampai sekarang. Hubungan dengan pemasok, pelanggan, kendala akan bisnis tidak berpengaruh besar. Karena apa, karena pohon kelapa banyak ditemui di negara kepulauan Indonesia. Ini bisa diterapkan siapapun oleh orang Indonesia. Banyak lembaga pemerintah mulai memberi pelatihan membuat aneka kerajinan sabut kelapa.

Pengusaha satu ini pernah mendapatkan aneka penghargaan. Dia juga menjadi pembicara diberbagai waktu kesempatan. Ia pernah meraih Juara III Green Productivity tahun 2010. Ia sering diminta intansi pemerintah seperti dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Artikel Terbaru Kami