Rabu, 16 Desember 2015

Kaos Kaki Wudhu Soka Berbekal Keluhan Pelanggan

Biografi Pengusaha Aman Suparman


 
Punya hobi aneh malah menjadi usaha menghasilkan. Ini kisah Aman Suparman, yang sejak remaja hobinya mengumpulkan kaos kaki. Aneka bentuk dikoleksinya serta aneka motif menghiasi. Hobi mengumpulkan kaos kaki dari aneka bentuk, aneka motif, dimana Aman sendiri tidak tau pasti kenapa bisa begitu. Kenapa dia suka mengoleksi kaos kaki bahkan sampai kuliah.

Jika ditanya oleh pewarta kenapa hobi mengumpulkan kaos kaki. "Saya juga gak tau kenapa senang koleksi kaos kaki," jawabnya. Karena aneh dirinya kerap mendapatkan cemooh. Aneka ejekan berupa panggilan nyeleh datang dimasa- masa remaja, seperti sebutan Si Pengumpul Kao Kaki Bolong dan Bau. Atau lainnya, tetapi tidak membuat Aman menjadi berhenti.

Hobi Aman mendapatkan tempat malah ketika masuk ke dunia kampus. Tentu di kampus, anak muda bisa bereksperimen dengan penampilannya termasuk aneka jenis kaos kaki. Ia percaya diri saja memakai aneka kaos kaki bermotif aneh. Motifnya kadang berupa gambar kartun lucu, salur, atau pun motif lainnya yang tak biasa.

Setiap keluar negeri pun, dia akan mencari- cari koleksi kaos kaki terus. Perasaan membuka usaha kaos kaki muncul ketika memang susahnya hidup di kampus. Wajar saja, karena di kampus, dalam kehidupan di kampus membutuhkan banyak biaya.

Kaos kaki bolong


Pucuk dicinta ulam pun tiba dihadapan Aman. Waktu itu, ketika masih di kosan, kebetulan sekali salah satu penghuni mempunyai usaha kaos kaki. Dia tertarik hingga menyodorkan diri bergabung. Jadilah sejak Januari 2002, ia resmi menjadi distributor aneka jenis merek kaos kaki berbagai perusahaan. Namun, si patnernya ternyata harus pindah rumah, jadi lah dirinya harus memutar otak menjalankan usaha lagi.

Untuk pertama kalinya dia berpikir layaknya pengusaha. Memutar otak sendiri bagaimana melanjutkan usaha kaos kaki ini. Dia melihat peluang, pangsa pasar besar di bisnis kaos kaki, sayangnya dia tidak cukup buat menimba ilmu distributor cuma dua tahun. "Dan saya memanfaatkan peluang itu untuk dijadikan lahan usaha," paparnya.

Tidak menemukan jawaban akhirnya Aman nekat bikin sendiri. Modal Rp.2 juta dikeluarkan berbekal dari hutang ke orang tua. Uang tersebut dibelikannya kain di Cigondoweh, pusat grosir kain terkenal di Bandung. Soal jahitan diserahkan kepada orang lain lewat biaya produksi. Untuk motif dan desain pun dikerjakan dia sendiri berkaca dari hobinya.

Di 24 Mei 2004, resmi lah berdiri perusahaan bernama CV. Al- Amin. Usaha bernama sama dengan nama di kaos kakinya. Dia lantas jualin kaos kakinya lewat internet. Tetapi dia tidak lupa tidak berhenti dengan cara pemasaran konvesional dari orang- ke orang. Aman lantas menciptakan gebrakan lewat kaos kaki jempol yang terkenal itu.

Dimana kaos kaki bisa dikenakan buat dipakai dengan sandal. Kaos kaki yang punya lekukan diantara ibu jari dan jari kedua telapak kaki. Ini digunakan guna memudahkan kaum muslimin memakai kaos kaki tanpa mencopot jika tidak bersepatu. Kaos kaki Al- Amin namanya menggelora jualannya sampai tidak hanya di Bandung, tetapi menjalar sampai ke kota- kota lainnya.

Namun berjalannya waktu, ternyata banyak produsen kaos kaki meniru modelnya. Produk Al- Amin sudah memiliki banyak pesaing di pasaraan saat itu. "Modelnya hampir sama, tapi harganya lebih murah, dan kualitas dibawahnya," tutur Aman. Alhasil, dirinya mendapatkan keluhan dari agen resminya, tetapi berkah lain datang.

Ia sangat bersyukur karena menemukan keluhan. Berkat itulah usahanya bisa terevaluasi hingga tumbuh. Dia menyebut inspirasi, inovasi, kualitas produk. Ini semua didasarkan reaksi pengusaha terhadap lingkungan, ya termasuk dari keluhan mereka. Saat itu tahun 2004, keluhan datang dari seorang pelanggan bernama Ima, yang baru pulang dari berangkat haji.

Susahnya membuka dan memasang kaos kaki saat berwudhu membuat ide bisnis. Ia akan menciptakan saja kaos kaki wudhu. "Ada kaos kaki yang bolong gak? Jadi, kalau wudhu kaos kakinya gak perlu dilepas," kata Aman menirukan. Aman tidak membuang waktu merencanakan produk tersebut di dunia nyata. Pria asli Bandung, kelahiran 15 Januari 1982 ini, lantas melakukan serangkaian uji coba.

Kaos kaki Islami


Kaos kaki yang nyaman meski dipakai berwudhu sekalipun. Di tahun 2007, lahir lah produk bernama kaos kaki praktis, sayangnya nama tersebut kurang "ngeh" sehingga tidak laku. Sampai ia memutuskan memakai nama "kaos kaki wudhu". Inilah awal naiknya usaha miliknya kembali setelah sempat turun karena peniru- peniru produk Al- Aman.

Intinya kaos kaki dirancang sedemikian rupa hingga ada lubang di telapak kaki. Jelasnya, tinggal dilipat saja ke atas ketika mau mengambil wudhu. Sukses kaos kaki wudhu lantas dipakainnya brand kaos kaki Soka. Perusahaan mampu menghasilkan 12 ribu pasang setiap pemasanannya. Jika musim haji tiba maka akan naik sampai 3- 4 ribu lusin kaos kaki.

Jumlah sebanyak itu berkat para distributor, khususnya dari luar negeri, ya perusahaan Aman telah sukses di luar negeri menjual sampai Singapura dan Malaysia. Dua distributor saja sudah mampu sampai ke Kota Suci Mekah. "Saya dapat kabar dari teman yang pergi haji ke Mekah. Mereka melihat kaos kaki Soka sudah ada di sana," tututnya bangga.

Meski jumlahnya tidak banyak tetapi menjadi kebanggan sendiri. Tidak cuma musim haji, tren dari kaos kaki Soka bahkan tumbuh sejalan tren hijab, dan pada akhirnya kaos kaki Soka menjadi kaos kaki muslimah. Ya dimana banyak wanita mengenakan kaos kaki biar gampang ber- wudhu. Lalu di dunia haji, nama kaos kaki Soka juga memiliki tempat tersendiri yakni kaos kaki haji.

Aman senantiasa optimis meski usahanya mendapat masalah. Meski usaha perdana tetapi bisa langsung dia bikin sukeses, habat! Aman bahkan tercatat memiliki berbagai perusahaan bisnis, yakni ada PT. Mitra Niaga Internasional (MNI), PT. Soka Cipta Niaga (SCN), CV. Al- Amin, CV. Amini Sejahtera. Perusahaan kaos kaki tersebut memilik basis 55 distributor serta 144 agen tersebar di Indonesia dan luar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kaos Kaki Indonesia (APKKINDO) juga menjadikan ini ajang dakwah agar memudahkan kaum muslimin. Ia ingin kaum muslimin menutup aurat memakai pakaian yang nyaman. Lantas lewat distributor dan keagenan bisa dijadikan ladang Muamalah olehnya. "..menguntungkan dunia dan akhirat," tutup ketua III Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini.

Artikel Terbaru Kami