Jumat, 25 Desember 2015

Contoh Usaha Jus Buah Tanpa Bahan Pengawet Mama Roz

Profil Pengusaha Hendrik Setiawan 


 
Menjadi konsutlan IT sebuah perusahaan terkemuka tidak membuatnya berdiam diri. Dia masih ngebet bisa menjajaki apa itu dunia wirausaha. Untuk yang satu ini, Hendrik Setiawan tidak terburu- buru menanggalkan jabatannya, ada masanya. Sebenarnya Hendrik bukan lah orang biasa, terlahir dari keluarga mapan, memiliki bisnis keluarga di bidang kertas.

Dia ingin melanjutkan bisnis kerta milik keluarga. Hingga ia menanggalkan karirnya sebagai konsultan IT. Dia lantas terus berkembang berkat usaha keluarga. Melanjutkan bisnis keluarga membuatnya mencium tren di masyarakat metropolitan sekarang. Pria kelahiran 1969 ini, akhirnya memulai usahanya sendiri, melepaskan bisnis keluarga dan berusaha mandiri.

Hendrik menyerahkan urusan bisnis kertas ke anggota keluarga lain. Sementara itu, ia mengerjakan bisnisnya sendiri yakni berjualan aneka jus.

Jus sehat


Pasar jus menurutnya makin meluas. Apalagi pemahaman masyarakat akan pola hidup sehat. Karena sadar bahwa bahaya penggunaan bahan pengawet maka ini berbeda. Ia memulai bisnis pembuatan jus sehat tanpa bahan pengawet. Bukannya tidak sadar akan beratnya bisnis tersebut. Pemain bisnis jus sudah banyak dan bisa dijalankan siapa saja.

Maka Hendrik musti memutar otak memberikan pembeda. Itu sebabnya kami menulis dia tidak terburu- buru soal menanggalkan pekerjaan konsultan IT.

Ia menyusun matang rencana bisnis. Harus berpikir secara matang membaca pola pasar dihadapi. Apalagi di usaha jenis ini masih baru dipahaminya. Tahun 2005 merupakan tahun sulit bagi Hendrik membangun bisnsi jus premium. Tetapi bukan tidak mungkin, bermodal Rp.200 juta, ia lantas mendirikan perusahaan bernama PT. Adelphi Transasia.

Uang hasil tabungan tersebut dibelikan mesin pengolah jus impor dari Amerika Serikat dan Eropa. Dibantu sekitar 10 orang karyawan mengerjakan bisnis jus. Ia yakin bisnis jus premium akan sukses. Dia yakin telah menemukan celah diketatnya bisnis jus premium.

Dia juga ikut mendesain botol kemasan, menakar ukuran terbaik, serta target pemasaran tepat sasaran. Dia memilih pasar kelas menengah atas. Harga jus premium buatannya akan dibandrol seharga Rp.13.000 atau Rp.25.000. Tanpa bahan pengawet ataupun mengandung konsentrat. Jus buah bernama Mama Roz ini siap dipasarkan ke seluruh Indonesia.

Agar menarik perhatian masyarakat maka dipakailah sistem jemput bola. Ia bahkan "nekat" siap memberikan layanan pesan antar tanpa biaya tambahan ke seluruh Jakarta. Menurutnya sebagai pemain baru makalah dia wajib menangkap peluang. Ini menjadikan brand Mama Roz menjadi satu- satunya bisnis jus buah yang bisa pesan antar sampai rumah.

"Pesanan satu botol jus pun akan kami antar," jelasnya penuh percaya diri. Menjadi berbeda merupakan cara ampuh menghadapi persaingan ketat.

Ia menawarkan jus murni dari buahnya asli. Pasar jus premium pasti lah tidak terpikirkan. Mereka menyebut diri mereka memakai buah asli tetapi. Nah, Hendrik punya cara lain agar membuktikan keasilaan buahnya, yakni menawarkan konsep peras "sendiri". Pelanggan dibiayarkan dia memilih buah sendiri, pilihan juga nanti bisa diganti- ganti, sesuai permintaan saja.

"Mereka seperti membuat jus sendiri, sesuai dengan selera," jelasnya. Mama Roz akhirnya tumbuh pesat juga melalui konsep berbisnis ini. Dengan dibiarkan memilih buah sendiri, Hendrik bisa membaca buah apa yang tengah digemari masyarakat.

Ini lantas menambah akan kasanah rasa si Mama Roz itu sendiri. Dia membuat aneka variasi dari produknya. Di tahun 2011 permintaan akan jus premium Mama Roz naiknya 40%. Enam tahun berjualan Hendrik mulai menambah jumlah karyawan. Jikalau dulu dibantu 10 karyawan, kini, dia dibantu 160 karyawan serta mesin jus di pabriknya.

Soal ukuran botol, menurut Alumnus Southern California University ini, memilih menggunakan kemasan 600 ml yang memiliki berbagai pertimbangan. Salah satunya, ia inginkan botol tidak terlalu besar sehingga bisa jadi minuman pelepas dahaga ketika berolah raga. "Ukurannya memungkinkan botol mudah digenggam," ujar Hendrik.

Meski ada pembatasan buah impor bukan masalah. Ia sudah membangun hubungan baik dengan vendor di luar negeri. Soal pengiriman buah seperti kiwi dan lemon terjaga. Meski begitu dirinya tidak melupakan akan buah lokal selain impor. Pertumbuhan Mama Roz sampai dua digit alias puluhan juta. Hendrik juga mantap memasuki pasar ritel premium.

Meski masuk pasar ritel tidak lupa senjata andalan, "Direct delivery adalah business model kami sejak awal hingga hari ini," tergasnya. Jangkauan pengiriman mencapai Bandung, Surabaya, dan Medan. Ia memenuhi kebutuhan penjualan lewat membuka pabrik baru di Cikupa Maz, Tangerang. Pelanggan pun bisa senang dikirim Mama Roz setiap empat minggu ke depan.

Nama Merek


Guna mendekatkan brand Mama Roz ke masyarakat berbagai cara dilakukan. Termasuk mengisahkan awal mula Mama Roz ini. Ceritanya tentang asal mula segarnya kandungan jus Mama Roz. Dia memperkenalkan si Mama Roz sebagai cerita ibu berasal asal Tuscani, Italia. Yang mana si ibu senang memetik buah segar untuk disajikan ke anak- anak secara tradional.

Ia sengaja memberikan cerita tersebut dalam bahasa Inggris. Dia mencoba membangun brand image Mama Roz seolah itu sosok nyata. Tambahan saja, menurutnya masyarakat Indonesia masih lebih mempercayai produk makanan dan minuman asal Eropa sana.

"Bukan saya tidak cinta Indonesia, tapi ini merupakan strategi pengenalan brand," tutur Hendrik.

Sengaja produk miliknya memang berkesan kebaratan. Bahkan banyak masyarakat mengira ini adalah salah satu brand waralaba asing. Menurutnya penguatan brand melalui kemasan serta pelabelan itu penting. Mama Roz hanya punya satu kesempatan memberikan kesan pertama. Satu kesempatan menenangkan hati pembeli ketika melihat etalase toko.

"...karena itu, kita harus menyajikan kemasan yang menarik," paparnya. Sistem IT dan call center juga tidak lepas dari perhatian mantan konsultan IT ini. Hendrik menyiapkan infrastruktur yang baik jauh hari untuk melayani aneka pesanan. Dia siap ketika pelanggan Mama Roz dari puluhan menjadi ratusan bahkan menjadi ribuan.

Waktu tiga bulan berjalan semenjak peluncuran Mama Roz menjajaki pasar swalayan. Sudah berjualan jus buah premium selama enam tahun, setiap bulan Hendrik memproduksi tak kurang dari 50.000 botol per- bulan. "Saya ingin bisnis perdana saya sukses," ujar Hendrik.

Memilih jalur berbeda membuat Mama Roz masuk ke Negeri Jiran, Malaysia. Tidak ada kesuksesan tanpa keberanian. Bahkan ia mengibaratkan karena tidak tau sama sekali maka berani. Dia pernah berpikir apa bisa membuat jus segar tanpa bahan pengawet. Kalau tidak dia berani, mencari informasi dimanapun, maka tidak akan ada jus bertahan tiga hari.

Ide memberikan pesan antar juga keberanian. Satu langkah berani lain yakni membeli satu botol bisa diantar. Bagianya aset terpenting dalam bisnis adalah brand. Makanya dia getol membangun brand Mama Roz lewat penggambaran jelas. Membuatnya seolah brand mahal luar negeri hingga nyaman dihati. "...tiga hal penting itu kenyamanan, kemudahan, dan layanan Mama Roz."

Untuk melayani Mama Roz juga bekerja sama dengan pihak lain. Caranya ya melalui setiap terjadi transaksi pembelian produk tertentu gratis satu botol Mama Roz. Memenuhi kebutuhan masyarakat juga termasuk maka Hendrik pun membuka pabrik di Cikupa, Tangerang. Pabrik yang rencananya akan dibuka di tahun 2012 silam.

Melalui aneka rasa baru diharapkan menjadi penyegar. Pasar mampu merespon Mama Roz sampai kenaikan 50% sampai 100% pemesanan. Memperluas pasar maka dibutuhkan second brand. Dan, Hendrik sudah siap untuk satu hal tersebut. Ekspansi agar tidak cuma menyasar kalangan tertentu. Produk terbaru ini akan lebih murah 30% dari produk biasa Mama Roz.

Harga murah tetapi kualitas mutu tetap terjaga. Sekali lagi bukan produk jus dengan pengawet ataupun zat konsentrat. Ia ingin menjangkau pasar anak muda mengajak gaya hidup sehat. Pasar ekspor sudah dijajaki pria berkacamata ini yakni ke Malaysia. Pilihan membangun pabrik di Malaysia atau menjual langsung tengah digodoknya lagi.

Artikel Terbaru Kami