Kamis, 03 Desember 2015

Sukses Berkat Mertua Juragan Mi Basah Malang

Profil Pengusaha Mikno Ade dan Keluarga 



Ketika masih bujangan sudah bergelut di bisnis mi. Sayang nasib berkata dia harus gagal. Kegagalan tidak pernah membuatnya berhenti berusaha loh. Lepas berjualan mi, Mikno Ade memilih jualan permen gulali dan kembali berjualan mi lagi saja. Siapa Mikno? Bagi masyarakat Malang, Jawa Timur, dirinya dikenal sebagai juragan mi basah Mi Gloria.

Jangan berhenti berbisnis sedini mungkin. Berusahalah siapa tau nasib mendatang berakata lain. Seperti hal Mikno yang memulai jualan mi pangsit sejak lulus SMA. Unik dia membuat sendiri bahan- bahan termasuk soal mi mentah. Dia pernah gagal dan sepi sekali jualannya. Karena tidak ada biaya sekolah, selepas lulus sekolah menangah atas, dia memilih melanjutkan berjualan mi kembali pada 1963.

Ia melanjutkan lagi warung milik orang tua. Dia berjualan mi lagi di Sawahan Malang, Jawa Timur. Jangan bayangkan dia cuma mewarisi usaha keluarga. Karena faktanya: Kedua orang tua Mikno sebenarnya adalah pedagang kelontong. Entah mendapat ide dari mana dan bagaimana caranya Mikno membuat mi sendiri. Ia sendiri mengaku malu bertanya ketika memulai membuat mi pangsit.

"Yang penting, bahannya ada tepung, bumbu, telur, air, dan garam," tuturnya.

Sebagai awal usaha Mikno cuma menghasilkan dua kilogram. Dalam perjalanan setahun berusaha sendiri, ia menemukan aneka kesukaran, hingga tepat satu tahun menutup usahanya. Ia sendiri baru sadar kalau adanya pembeli datang ke tempatnya juga karena kasihan. Mereka adalah mantan guru dan teman- teman Mikno sendiri.

Usaha mertua


Ia pernah menjadi supir taksi, pedagang lotre, berjualan bakpao, hingga permen gulali. Nasib Mikno sendiri memang tidak kunjung membaik. Dia seolah pasrah tetapi tetap berjuang. Tahun 1970 -an, Mikno bertemu pujaan hati, Paula Chandrawati, anak penjual cui mi. Mikno lantas terjun membantu warung milik mertua di daerah Sawahan.

Mikno juga membantu mertua memindahkan warung ke dekat kontrakan Jalan Kawi, Malang. Pindahkanya warung sang mertua karena kasus rasial. Usaha ditutup oleh pemerintah di tahun 1966 karena sang mertua adalah keturunan TiongHoa. Padahal warung tersebut telah menjadi penopang hidup keluarga besarnya. Dia sendiri mengenang harus kembali bekerja serabutan.

Selepas warung dipindah usahanya terlihat membaik. Dia berjualan cui mi buatan sendiri. Dibantu sang istri, usaha ini nampak lebih baik dan banyak pembeli datang membeli. Berbeda dengan ketika jualan mi pangsit ini lebih menjanjikan. Melihat permintaan membesar, Mikno memutuskan membuka usaha pembuatan aneka mi basah. Ia lantas menyerahkan pengelolaan warung ke istri.

Karena usaha tersebut sudah berjalan cukup lama. Berbeda dengan sebelumnya, Mikno sudah punya modal usaha sendiri. Meski tidak banyak tetapi cukup buat membeli mesin. Ia tinggal memutar tangan dan mi akan keluar berbentuk memanjang. Berjalan waktu seorang kenalan tertarik akan usaha dijalankan Mikno. Teman itu berkata mi buatan Mikno memang lebih enak.

Sejak itu, secara berkala sang teman memasan, itupula yang mendorong Mikno lebih bersemangat. Alhasil, ia bisa berproduksi 10kg sampai 25kg memenuhi pesanan. Untuk hari raya pesanan mi bisa meningkat tajam dibanding hari biasa sampai 50kg.

Pesanan meningkat membuat semangat bekerja. Dia lantas membeli aneka mesin lengkap. Inilah cika bakal dari usaha basah Mi Gloria. Pabrik mi kecil bernama Gloria yang terinspirasi lagu gereja. Lagu berlirik kata- kata Gloria serta nama bengkel tempatnya mangkat. Mungkin takdir ya, nama tersebut sama halnya bengkel dulu ia mangkal berjualan es.

"Saya bermimpi untuk menjadi orang sukses seperti pelanggan bengkel mobil itu," kenang Mikno. Didukung kemampuan mekanik masalah seperti mesin rusak juga teratasi. Lengkap sudah bekal seorang Mikno buat menjadi pengusaha sukses -kerja keras, ketrampilan, dan cita- cita.

Ia memodifikasi mesin mi sendiri. Tujuannya agar menghasilkan tekstur lebih lembut dan kelenturan bagus. Selepas sepuluh tahun mengerjakan usaha mi basah terbayar sudah. Ayah tiga anak ini sudah bisa bersantai menikmati wisata bersama keluarga ke Bali. Ini menjadi pengalamn pertama berlibur ke tempat wisata bagi dia dan keluarga.

Puluhan tahun mengerjakan aneka mi basa membuatnya ahli. Dengan percaya diri, Mikno siap melayani tiap permintaan konsumen. Ukuran berapa saja, bahan apa saja, berapa banyak, dia yakin bisa membuatnya buat kita semua. Mi Gloria sendiri fokus membuat mi basah tanpa telur atau vegetarian. Juga mereka ahli soal membuat mi berbahan telur bebek.

Usaha keluarga


Mikno memang prinsip tidak memakai pengawet berlebihan. Itulah kenapa mi buatan Gloria tidak awet jika disimpan di suhu ruangan. Selain itu,dia menjelaskan mi Gloria memakai kemasan food grade loh. Pabrik pun buka dua kali sehari menjual mi seharga Rp.10.000 sampai Rp.25.000. Pabrik kecilnya telah memproduksi puluhan ton mi per- tahun.

Sekarang, puluhan tahun berjualan, Mi Gloria menjelma menjadi pabrik mi terbesar di Malang, yang mana segmen pembeli menengah atas. Usaha ini pun dilanjutkan oleh sang anak, Wiyono Gunawan, membuka banyak outlet mi dan depot cui mi di Malang. Permintaan naik setiap tahun didorong naiknya tingkat wisata di Malang.

Peningkatan harga BBM sendiri tidak begitu berpengaruh. Untung karena harga bahan baku stabil membuat Wiyono optimis. Dia menyebut cara mengatasi bukan menaikan harga. Mi Gloria lebih memilih mengurangi di ketebalan dan bobot mi. Usaha yang mendukung aneka penjualn grobak, depot, restoran, dan katering di penjuru Malang ini memang hebat.

Setiap tahun penjualan pun tetap meningkat meski BBM naik. "Malah semakin banyak turis yang semangat berkuliner di Malang, jadi penjualan aman," cetus Miyono. Kenaikan biaya produksi tidak sampai 5% dari kenaikan bahan baku telur, bahan baku terigu, ongkos angkut,dll. Kenaikan terjadi ketika upah karyawan dan biaya listrik saja.

Wiyono sendiri masih optimis membuka pabrik baru. Ia berlandaskan masyarakat Indonesia adalah pemakan mi no.3 di dunia. Membuka depot juga masuk opsi dipilihnya mengatasi kelesuan. Terutama jika pembelian dari pedagang lain menurun. Ia mengibaratkan perjalanan sang ayah, Mikno Ade, memulai berjualan lewat depot bakmi.

Lewat sana, selain tempat jualan ketika orderan menurun, juga sebagai sarana marketing. Nah, ketika orang datang makan mi juga sadar bahwa mereka juga jualan mi mentah. Siapa tau, pembeli akan memilih membeli mi mentah dan dimasak sendiri, atau mereka juga bisa berjualan sendiri dibantu Mi Gloria. Wiyon lanjut ini memang cukup sulit dijalankan.

Menjual mi basah dan mi matang membutuhkan nama besar. Kebanyakan pengusaha mi basah malang lebih memilih berjualan mentahan. Kalau juga membuka depot mi sendiri, hanya pemain besar, tentu salah satunya ya Mi Gloria yang dijalankan oleh Wiyono ini. Sementara itu pengusaha pemula akan memilih membanting harga saja.

"Kalau harga tepung naik, harga mi tak bisa langsung dinaikkan jadi harus pintar-pintar menjual produk," jelasnya lebih lanjut.

Artikel Terbaru Kami