Selasa, 15 Desember 2015

Biografi Priyo Hadisusanto Tionghoa Tanpa Jarak

Pengusaha Pemilik Jajanan Taro



Meninggalnya pimpinan Tiga Pilar Sejahtera memberikan perasaan sendiri. Pasalnya, sejak lama penulis ingin menulis kisahnya, tepat setahun lalu dia berpulang ke sisi Tuhan. Banyak yang menangisi kepergiannya seperti sang Istri, Tanti Inge Sutanto, dalam ruang persemayaman yang dihiasai dekorasi warna ungu. Sang istri saat itu terlihat tegar menerima ucapan belang sungkawa.

Seperti  artikel di Soloblitz, seklumit sosok Priyo memang dikenal bersahaja, hingga tidak tercatat- catatan buruk di masa hidupnya. "Kalau ada Pak Priyo itu suasana jadi cair, banyak joke," tutur Achmad Purnomo, Wakil Walikota Solo. Salah satu pendiri PT. Tiga Pilar Sejahtera Food ini memang tidak pernah marah. Dia selalu ramah termasuk kepada karyawannya sendiri.

Meski kaya raya tetapi suka beramal. Meski keturunan Tionghoa, ketika masa kerusuhan 98, usaha miliknya selamat dari amukan masa. Sang keponakan, Budhi Istanto, menjelaskan sang ayah memilih berbicara halus. Meski dalam kemarahan hanya akan dipanggil dan diingatkan baik- baik. "Selama mengenalnya tak pernah Bapak menunjukan kemarahan," jelasnya.

Dia selalu memberikan wejangan. Priyo selalu mengingatkan ketika berbisnis harus mengedepankan pikiran positif. Jangalah iri kepada kesuksesan orang lain menjadi kunci.

Pengusaha mandiri


Tiga Pilar Sejahtera Food awalnya merupakan bisnis milik ayah Priyo. Sosok Tan Pia Sioe, memulai usaha sejak 1959, usaha pertamanya adalah pabrik pembuatan bihun jagung di Sukoharjo, Jawa Tengah. Produk pertama perusahaan ini adalah produk bihun bermerek Cangak Ular. Lantaran tidak bisa berbahasa Jawa, maka Priyo lah yang maju didepan untuk berkomunikasi denga para karyawan.

Tanpa disadari kelebihan Priyo bisa menjadi senjata sendiri. Berkat itu, ia memiliki andil besar menjadi satu penghubung dengan karyawan. Lewat kamampuan melihat budaya lokal jadilah dirinya presiden direktur. Di tahun 1978 tepatnya, Tan Pia Sioe meninggal, digantikan sang putra melanjutkan usahanya. Waktu itu nama Tiga Pilar Sejahtera (TPS) baru muncul di tahun 1992, dimana presidennya Stefanus Joko Mogoginta.

Stefanus Joko sendiri merupakan putra dari Priyo Hadisusanto. Kembali ke sebelum digantikan sang putra, jauh disaat masih sekolah dasar, Priyo telah dikenal memiliki intuisi bisnis tinggi. Dia rajin membantu bisnis milik keluarga. Ia terlahir dari pasangan Tionghoa, yang merintis usaha makanan di Sukoharjo. Sebagai satu keturunan Tionghoa asli Sukaharjo; Priyo bangga.

Karena dia mendapatkan pengalaman berbahasa Jawa aktif. Alhasil dia dikenal bisa berbahasa Mandarin juga berbaha Jawa. Ini sangatlah membantu ketika memulai usahanya sendiri kelak. Digunakannya bahasa Mandarin sebagai bahasa Internasional. Sementara ketika bersosialisasi terutama kepada karyawan maka dia menggunakan bahasa Jawa baik.

Mental berbisnis muncul tanpa pendidikan khusus. Naluriah, dia memilih berkawan dengan karyawan di pabrik, bahkan dia tidak pulang ke rumah tinggal bersama tiga adik perempuannya. Kemampuan berinteraksi inilah menjadi andalah Priyo dan Tiga Pilar Sejahtera sendiri merintis. "Dari situlah saya bisa belajar budaya Jawa, mulai bahasa hingga budayanya," ujar Priyo.

Jadilah dia menjadi perantara tumbuh pesat usaha Tiga Pilar Sejahtera. Layaknya sudah menjadi pengusaha profesional, dia sudah berkeliling berbisnis menjajakan produk. Dia berkeliling sampai ke Solo, Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Cirebon, Tegal, Jakarta dan berbagai kota lain. Priyo membantu menjajakn mie itu keliling.

"Ya pokoknya nyetori dari pasar satu ke pasar lainnya," kenangnya.

Meski sadar anak pengusaha, dia sama sekali tidak merasa risih menjajakan sampai ke pedagang tradisional. Justru dia mengaku sangat senang bisa bersahabat dengan para pedagang pasar itu. Ia sadar mereka lah yang menentukan jalannya usaha milik kedua orang tuanya.

Usaha milik sang ayah bermetamorfosi ditangannya. Menjadi PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food.tbk sejak tahun 1992. Produknya meliputi aneka biskuit, mie, dan lainnya. Priyo sudah berumur 28 tahun ketika sang ayah meninggal. Dia diserahi tugas berat membesarkan perusahaan menjadi besar. Tetapi dia telah berhasil lebih dari itu, menjadi perusahaan multi- nasional.

Perusahaan yang berpusat di Jalan Raya Solo- Sragen Km16, Desa Sepat, Masaran, Sragen, menurut Priyo kapasitar produksinya telah mencapai 70.000 ton mi kering, 20.000 ton bihun kering, 1 juta bungkus mi instan, 3.500 ton permen dan 30.000 ton biskuit.

Dia sukses membesarkan nama produk turunan Cangak Ular sampai ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia, Timur Tengah, dan Amerika Srikat. Ciri kesuksesan seorang Priyo adalah kepercayaan akan potensi lokal. Ambil contoh produk permen asam, yang sukses lokal, dan bisa sampai ke luar negeri semua berkat bahan lokal.

"...permen asam, di luar negeri luar biasa permintaanya, karena rasa dari bahan lokal ini memang khas; tidak ada di sana," ujar Priyo.

Priyo memang pandai melihat kelebihan disekitar. Dalam mengembangkan bisnis pun berasa seperti karakter Semar. Dia mengibaratkan Semar,"...mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bersama." Tiga pilar sendiri memiliki arti sendiri; mengingat Tuhan, selalu bersosialisasi sesama, bersyukur kepada pemberi kehidupan.

Meski sukses merebut pasar impor, tetapi tetap, dia berprinsip lebih menekankan kepada pasar lokal. Dia ingat betul dan bersyukur kepada jasa pasar- pasar tradisional. Priyo mendukung majunya pasar termasuk di Kota Solo sendiri. Kebijakan pembatasan minimarket didukungnya, meski banyak produk Priyo terpajang rapi disana.

Sejak tahun 2001, Tiga Pilar Sejahtera Food sudah menggarap pangsa mie kering. Tetapi mereka juga masih mengolah mie bihun jagong loh. Dua tahun kemudian mereka berekpansif melalui akusisi perusahaan. Kala itu, pemegang jabatan direktur utama bukan lagi Priyo. Sang putra, Stefanus Joko Mogoginta, menggantikan tetapi masih Priyo, masih bekerja dibalik layar perusahaan hingga akhir.

Waktu itu, tahun 2003, TPS mengakuisisi perusahaan mie kering "Ayam 2 Telor" itu, ataupun PT. Asti Inti Selera (AISA). Nama perusahaan akhirnya tercatat dalam bursa mengikuti AISA. Maka tercatat lah nama perusahaan Tiga Pilar Sejahtera Food menjadi AISA di bursa. Usaha berjalan biasa- biasa saja semenjak akuisisi pertama tersebut.

Masuk tahun 2007, AISA berekspansi lebih giat, karena mampu meraup dana lewat saham sebesar Rp.327 miliar. Uang tersebut digunakan mengakuisisi tiga perusahaan sekaligus, yakni PT. Poly Meditra Indonesia (PMI); PT. Bumi Raya Investindo (BRI), dan juga PT. Patra Power Nusantara (PPN).

PMI merupakan perusahaan makanan ringan seperti biskuit, wafer, mie, dan permen. Sementara BRI juga PPN adalah perusahaan dibidang sawit dan listrik milik sendiri. Otomatis ini membuat perusahaan bisa hemat karena kebutuhan pengolahan tertangani mandiri. Alhasil pula, perusahaan bisa menjual produk makanan di angka kecil sesuai kantong masyarakat umum.

Tahun 2010, AISA mengakuisi lima perusahaan perkebunan sawit, semua untuk memenuhi kebutuhan dari BRI berproduksi. Tidak berhenti, langkah selanjutnya oleh AISA, adalah mengakuisisi perusahaan dagang beras, dan juga satu perusahaan penggilingan gabah petani. Jadilah jalan bagi perusahaan menjadi produsen beras yang menguasai 5% pasar lokal.

Di tahun yang sama, perusahaan mengeluarkan aneka produk makanan ringan. Sejalan perusahaan besutan Priyo akhirnya mengakuisisi salah satu merek jajanan terkenal itu, yaitu mengakuisis merek dagang Taro dari asalnya Unilever Indonesia.

Artikel Terbaru Kami