Rabu, 02 Desember 2015

Pengusaha Makanan Ringan Lidi Nanutz Mania

Biografi Pengusaha Riza Rizki Adhiyaksa 


 
Pengusaha satu ini bisa dibilang "mengekor" kesuksesan Maicih. Tetapi jangan salah, keduanya punya nasib berberbeda, meski keduanya sama- sama sukses menjadi cemilan mahal. Ditangan pengusaha Riza Rizki Adhiyaksa mampu mengubah uang senilai Rp.300 ribu menjadi ratusan juta. Bahkan omzet tertinggi pernah dihasilkan olehnya mencapai Rp.750 juta.

Pria kelahiran 4 November 1982, mencoba mengajak bernostalgia melalui aneka jajanan lokal. Dia sendiri mengakui tidak sengaja menghasilkan produk. Nanutz Mania menjelma menjadi brand usaha makanan ringan yang mahal. Dirintis sejak Mei 2011, ayah dua anak ini mengatakan dirinya terinspirasi lagu boyband yang berjudul Cinta Cenat Cenut.

Produk awal sebenarnya ialah nachos. Tetapi bingung memberikan nama biar eksis di pasaran. Katanya nih, ketika Riza tengah menggoreng jajanan, terdengar grup Smash tengah menyanyikan lagu Cinta Cenat Cenut. "Lalu saya satukan, Nachos Canat Cenut menjadi Nanutz," paparnya.

Dari reseller


Perjalanan seorang Riza tidak serta- merta sukses. Ia mengaku sempat menjadi reseller jajanan booming asal Bandung itu. Dia menjadi sekian dari ratusan penjaja Maicih. Riza lantas terdorong membuat jajanan khas miliknya sendiri, yaitu nachos. Melalui produk bertajuk Nanutz berusaha menguasai pasar makanan ringan yang tentu tak mudah. Aneka produk baru lantas dikeluarkan agar tetap eksis.

Dia mulai membuat nachos atau pangsit goreng. Lantas dijajakannya ke warung- warung terdekat di sekitar tempatnya tinggal, dan hasilnya mendapat respon positif. Nanutz juga ditawarkan kepada rekan kerja kakak dan adiknya. Tetangga Riza pun ketagihan atas cita rasa produk Nanutz. Permintaan akan nachos mulai naik sedikit- demi sedikit. Mereka empat bersaudara sepakat bekerja bersama membangun brand Nanutz.

Suatu hari, Riza seketika terinspirasi oleh keponakan- keponakannya yang suka membawa pulang mie nyere. Itu loh mie yang berbentuk lidi yang dijual di depan sekolahan.

"Disini kan kebetulan kawasan padat penduduk, ada sekolahan juga. Nah, keponakan saya kalau pulang sekolah bawa mih lidi. Dari situ kepikiran, bagaimana kalau kita kemas," paparnya.

Ia menjelaskan singkat mungkin penyuka makanan lidi ini sudah jadi pejabat. Namanya pejabat pastilah tak mau lagi turun ke jalan membeli lidi. Nah, tugas Riza ialah bagaimana mengemas jajanan lawa ini menjadi satu berbeda. "Mungkin dulu yang pernah makan mih nyere ini sekarang sudah jadi orang, atau jadi pejabat, dan segan untuk jajan langsung ke pasar," tutur Ikhie.

Pria yang akrab dipanggil Ikhie ini kemudian melanjutkan usaha. Ia mulai membuat sendiri mie nyere -nya tersebut, dibuat di dua rumah sederhana di Jalan Babakan Cipray No. 247. Dia dibantu delapan pegawai serta didukung keluarganya, mulai membangun pabrik mie lidi kecil- kecilan. Produk mie lidi ini bukan seperti mie jalananan karena kualitas bahannya beda.

Ia menyebut meski jajan jalanan. Ikhie menegaskan kualitas bahan dipakai benar diperhitungkan. Jadi jangan samakan mie nyere serupa yang di pasaran. Mie Nyere ala Nanutz tidak mengandung bahan pengawet atau MSG. Mie terbuat dari terigu protein tinggi dicampur tepung maizena melalui perhitungan khusus. Agar rasa itu berasa ditambahkan garam sebelum diuleni.

Adonan jadi siap dicetak dengan panjang 15cm dan tebalnya 0,3mm. Mie mentah tersebut lantas digoreng di wajan besar panas. Sepuluh kilogram nantinya menghabiskan enam liter minyak goreng. Selepas itu mie baru dikeringkan sampai tidak berminyak. Nah, setelah mie matang tinggal diberi aneka bumbu rasa hingga siap disajikan.

"Poses penggorengannya kurang lebih selama lima menit hingga mi bewarna kecoklatan," jelas Ikhie lagi. Dia juga menggunakna ebi agar gurihnya enak.

Untuk rasa mie nyere buatan Nanutz ada 12 varian rasa: original, pedas, keju, dan rasa manis. Kemudian ia menambahkan varian pedas seperti super pedas, sedang pedas, lada hitam. Rasa orginal rasanya ya asin tapi mempunyai aroma daun jeruk. Kalau mie lidi manis maka punya rasa strawberry, melon, anggur, dan rasa buah lain.

Aneka produk


Produk Nanutz Mania memang beragam bentuk, mulai dari nachos, mie lidi, keripik sosis, keripik kulit ayam, kemudian ada keripik bayem atau Mariyu Bayem dan belasan produk lain. Untuk varian rasa total memiliki 18 varian rasa. "Kami berusaha agar brand ini tetap fun dan aman," jelas Ikhie. Ketika orang ditawari aneka kripik singkong justru Nanutz asik menjual mie lidi.

Makanan khas Sunda dimodernisasi sedemikian rupa olehnya dari kemasan hingga cita rasa. "Kami pelopor mie nyere modern di Indonesia," tuturnya bangga. Penjualan sendiri memanfaatkan keagenan dan online. Dari berbisnis jajanan ini lantas dibukalah swalayan sendiri di Jalan Babakan Ciparay 243 pada Maert 2013 yang mana merupakan pusat penjualan offline.

Di daerah Mekarwangi juga sudah hadir gerai lain. Yang mana merupakan ide dari Ikhie lewat kerja sama kemitraan dengan 75 agensi di 28 provinsi, hingga juga di luar negeri, meliputi Jepang, Australia, dan juga Belanda Nanutz offline sendiri barulah sekarang, dulunya, penjualan aneka produk si Nanutz difokuskan di online.

"Saya sampai korbankan akun Facebook saya yang sudah ada 5.000 teman. Facebook saya diganti fotonya tiba-tiba dengan foto Nanutz, sampai orang pada kaget," kenang Ikhie.

Ini strategi marketing murah diawal- awal memulai. Kala itu, ia bahkan belum punya komputer sendiri hingga harus membuka lewat warnet modal Rp.2.500. Dia dibantu oleh 28 karyawan memasak mencapai 1.400- 2.000 produk. Ini disertai tahap kontrol kualitas tinggi. Pernah menggunakan masin agar produksinya lebih banyak tetapi hasil justru tidak seenak buatan tangan.

Ia kemudian mengandalkan dapur saja. Sampai sekarang Ikhie sendiri masih berkutat di dapur sendiri setiap pagi. Dia tidak mau seperti pengusaha lain ketika sukses meninggalkan dapur. Dua tahun perjalanan pertama bisnis Nanutz dirasa sulit. Awal dia berjualan di pinggir jalan merasakan hujan dan panas. Pernah pula Ikhie diusir Satpol PP. Tidak mau kehabisan akal, dijualnya di acara car free day dan pasar malam.

Hingga ia menemukan taktik jitu,"Teknik saya, saat MaIcih lagi ikut pameran, saya ikutan. Ma Icih di dalam booth, saya di luar tenda di tempat parkir. Nggak ikut bayar booth,"

Artikel Terbaru Kami