Minggu, 13 Desember 2015

Penerus Salon Itje Her Hair Berbagi Kesuksesan

Profil Pengusaha Rima Wira Sakti 



Mengerjakan bisnis salon ternyata susah yah. Sebersit kisah oleh Rima Wira Sakti, generasi kedua dari usaha salon Itje Her Hair. Didirikan sang ibu sendiri, Ibu Itje Herjadiono, atau kita akrab memanggilnya Itje Her. Juga  asal mula dari mana nama salonnya berasal. Rima memang sudah kenal dunia salon sejak masih SMP. Menjadi anak perempuan satu- satunya, sejak SMP, ia sudah mengurusi keuangan dan admin.

Bisnis dimulai sejak tahun 70 -an, menurut Rima dimulai dari rumah mereka di Cilandak, yang awalnya cuma iseng menawarkan jasa salon sambil menjahit. Pertama kali dijalankan pelayanan terbatas kebisaan Ibu Itje meliputi potong, sanggul, serta mewarnai rambut. Usaha dijalankan berjalan pesat sampai mama Rima jadi kerepotan sendiri.

"Semua dikerjakan Mama sendiri, lalu mulai kewalahan dan ambil karyawan hingga terus bertambah jumlah karyawannya," tuturnya.

Salon Itje pun cuma memeliki prabot seadanya, meliputi empat meja, kursi menunggu, serta satu kaca besar buat potong rambut. Salon sederhana yang melayani khusus perempuan, yang libur ketika hari minggu tiba. Sederhana tetapi memiliki kemampuan serta fokus. Salon khusus perempuan sesuai permintaan suami Itje, Herdjadiono, dimana sambil mengisi waktu luang kalo perlu sampai minggu.

Berbeda dengan beberapa pengusaha generasi kedua, Rima sama sekali tidak punya beban disini. Dia justru sangat terinspirasi bagaimana salon Itje tumbuh. Dia suka rela terjun mengerjakan keuangan, administrasi, sampai mendapatkan ilmu tata rias dari sang ibu. Melihat anaknya terlihat antusias, maka Itje dan suaminya, mereka memutuskan menyekolahkan Rima ke Jurusan Manajemen Universitas Indonesia.

Sebagai awalan ketika dikerjakan sang Ibu, Itje Her Hair, tumbuh menjadi dua salon berkonsep rumahan. Tetapi ia sendiri sudah memiliki 20 orang karyawan. "Salon kedua menempati rumah warisan nenek," papar Rima. Baru selepas kuliah resmi keduanya dipegang oleh Rima tahun 1999. Itje sendiri yakin sang putri akan mampu kendati barulah lulus kuliah.

Semangat kerja


Rima sudah tidak sabar selepas kuliah. Salon yang berumur 10 tahun ini sudah dikonsepnya menjadi modern. Wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1976 ini, memiliki segudang rencana, meliputi meregenerasi pegawai, lalu menciptakan struktur keorganisasian jelas, pembuatan standar operasional, serta mulai menambah layanan baru.

Awal sekali, dia mulai memisahkan pendapatan dua salon tersebut, memisahkan antara pengeluaran pribadi dan keluarga. Dalam benaknya dua pengeluaran ini, termasuk pengeluaran keluarga merupakan penghambat pertumbuhan salon. Kalau dua salon sebelumnya berada di daerah perumahan. Maka Rima berharap cabang berikutnya akan di kawasan bisnis yakni di Cipete Raya dan Bintaro Raya, Jakarta Selatan.

Dia sukses mengembangkan kedua salon baru tersebut. Namun, tidak pula lupa memperhatikan dua salon warisan sang ibu. Rima merenovasi total kedua salon lama tersebut. Salon dirubah menjadi semacam roko yang memiliki empat lantai. Itulah mengapa dia niat membeli dua rumah tetangganya, lantas ditambah sisa dari lahan warisan tak terpakai.

Regenerasi pegawai lantas dilakukan sambi berjalannya waktu. Pelatihan karyawan baru tidak dilakukannya sendiri. Ibu Itje sendiri lah turun gunung membantu bisnis Rima. Selain itu, adapula seorang karyawan yang sudah bekerja selama 20 tahun disana.

Menuju salon modern menurut Rima dibutuhkan standar layanan. Aneka perawatan dimunculkan, baik yang klasik maupun modern, dari kepala sampai kaki, perawatan klasik seperti potong rambut, cuci, dan cream bath. Adapun kalau bicara perawatan modern seperti manicure, pedicure, warna rambut, pijat, lulur, serta cukur seluruh badan, lantas totok aura, serta rias pengantin.

"Ada puluhan treatment saat ini. Tarif mulai dari Rp 25.000 sampai ratusan ribu," tambahnya.

Kunci sukses Itje juga termasuk konsep kerja sang pendiri. Yakni, salon akan buka lebih awal, tutup lebih akhir, dan juga buka ketika hari minggu. Itje Her Hair buka dari jam 7 pagi sampai delapan malam, dan juga libur di hari pertama dan kedua lebaran.

Tambahan bahwa konsep kusus wanita tetap dipertahankan. Mereka yang memegang juga adalah kapster wanita. Alasannya, Rima menyebut, bahwa masih banyak wanita merasa lebih nyaman dipegang wanita. Ia beralasan masih banyak rasa risih kalau bercampur dengan pria di satu ruangan. Ibu dari tiga putra ini lantas menambahkan lagi, Itje Her Hair tidak dipungkiri  menyasar pasar menengah atas.

Total 5.000 orang per- minggu datang ke lima gerainya. Semenjak ditangan Rima, pengunjung Itje Her Hair, mampu naik 50 kali lipat. Padahal selama 20 tahun berjalan itu cuma memanfaatkan promosi dari mulut- ke mulut. Promosi melalui media masa pun cuma sekali itupun cuma satu halaman. Waktu itu mendapatkan jatah satu halaman di majalah Gadis dan Femina.

"...sebagai sponsor tata rias untuk program wajah Femina dan Gadis Sampul," kenang Itje. Rima sendiri tak serta merta sukses. Ia telah mempelajari kisah- kisah sukses pengusaha lain. Meski kisah mereka bukanlah dibidangnya, dia tetap pelajari, tetapi inspirasi terbesarnya masih sosok Ibu Itje Herdjadiono.

Tidak mudah merubah konsep salon tradisional ke modern. Kalau dulu salon istilahnya kemewahan, kini, ia harus meyakinkan orang bahwa cantik merupakan kebutuhan. Salon dijadikan tempat me tima bagi wanita. Dia bahkan mengistilahkan salon menjadi rumah kedua. Bagaimana agar wanita itu nyaman cuci rambut dan juga potong kuku saja di salon.

Namun, tidak bisa dipungkiri, fakta bahwa usaha salon memang punya pesaing ketat. Juga fakta lain bahwa ini memiliki prospek bisnis menjanjikan loh. "Orang datang ke salon bukan hanya untuk di- treatment atau mempercantk diri. Mereka ingin dimanjakan," jelas Rima. Tidak cuma pemilik tetapi pegawai harus punya namanya cara berpikir memberikan servis terbaik.

Finalis Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2011 ini menjelaskan, pentingnya soft skill baik, yang meliputi etika dan interpersonal skills.

Artikel Terbaru Kami