Senin, 21 Desember 2015

Membuat Tempe Mentega Omzet 4 Juta Harian

Profil Pengusaha M. Rusyad Isnandi 



Ia hanya bekerja menjadi tenaga pemasaran. Tugasnya mengirimkan bahan- bahan pokok ke pasar. Selepas gempa Yogya, warga Dusun Wiyoro, Baturetno, Banguntapan, Bantul, ini akhirnya memutuskan membuksa usaha sendiri. Muhammad Rusyad Isnandi tidak pernah menyangka ide gila itu berhasil. Berkat itulah ia bisa menghasilkan Rp.400.000 per- hari.

Menjadi marketing memang melelahkan. Isnandi akhirnya memutuskan bekerja di tempat sang adik. Ia ikut membuat tempe bersama sang adik. Dia kebingungan mau bekerja apa. Hingga, tanpa terasa, tangannya sudah mulai mahir memproduksi tempe sendiri. Ia lalu memutuskan untuk keluar dan membuat usaha tempe sendiri.

"Kalau lama- lama ikut di tempat adik saya, takut menjadi beban," keluh Isnandi. Daripada menjadi beban ya mending membuka usaha sendiri. Keputusan diambil setelah benar- benar mahir membuat tempe. Awalan menjadi hal tersulit bagi setiap pengusaha. Begitu pula dirinya harus mengerjakan semua sendiri. Ia juga harus menjual -memasarkan sendiri tempe dari pasar ke pasar.

Meski dari tiga tempat, cuma satu saja yang mau dititipi daganganya tidak masalah. Banyak penolakan tidak membuatnya menyerah. Pengalaman diri menjadi bagian marketing perusahaan ternyata bermanfaat. Ini membuatnya tidak mudah berkecil hati. Singkat cerita, dua tahun telah berlalu, usaha Isnadi tidak mengalami perkembangan.

Kondisi inilah yang membuatnya penasaran. Bukan menyerah, ia masih memegang mimpi menjadi pengusaha tempe makmur. Lantas berkeluh- kesah lah si Isnadi kepada seorang teman, dan ditanggapi serius setengah bercanda.

"Teman saya menyarankan agar saya mencoba mencampur tempe dengan mentega," kenangnya. Ini memang terdengar ide konyol. Tetapi anehnya, Isnadi tetap mendengarkan, bahkan mempraktikan langsung. Mulai dari situs setiap berproduksi dicampur lah mentega.

Sebagai catatan mentega dicampur ketika proses peragian. Ditambahnya mentaga menghasilkan rasa gurih. Juga lezat tentunya jikalau kita menggorengnya. Respon pasar ternyata malah positif membawa kejutan. Ia semakin giat membuat untuk berbagai warung makanan. Tidak perlu jauh- jauh, pemesan datang dari warung dekat kos- kosan mahasiswa atau para penjual gorengan.

Prosesnya rumit


Sekarang, berkat tempe mentega, Isnadi mampu memproduksi 6 kuintal kedelai. Untuk segitu diperoleh lah 2.200 potong tempe siap dipasarkan. Harga tempe mentega berkisah Rp.3.000 per- potong. Memang itu lebih mahal dibanding harga tempe biasa. "Kalau tempe lain paling dijual sekitar Rp.2.000 per- potong," jelas Isnadi.

Meski lebih mahal toh buktinya tetap laku juga. Permintaan bahkan naik ketimbah awal pembuatan. Coba kamu bayangkan omzet dihasilkan Isnadi mencapai Rp.4- 5 juta per- hari. Maka dia mempekerjakan 31 orang karyawan yang kebanyakan tetangga sekitar. Menyerap tenaga kerja cukup tinggi membuatnya jadi idaman tetangga.

Pemasaran sendiri dilakukan oleh tim marketing. Isnadi memberikan untung sampai 10 persen harga jual. Ia juga menambahkan uang bensin Rp.2.500 per- hari, ditambah uang oli setiap bulan. "Tingginya permintaan membuat kami kwalahan memasok ke pasar- pasar tradisional," jelasnya. Tenaga pemasaran sudah punya pelanggan tetap masing- masing.

"...yang sebagian besar berupa rumah makan," aku Isnadi.

Proses pembuatan tempe mentega terbilang rumit. Pertama- tama, kedelai direndam dulu kemudian direbus. Hasil rebusan kedelai digiling memakai mesin khusus. Selepas itu, ia kembali merendam kedelai itu, selama semalam suntuk, dicuci, kemudian direbus kembali.

Proses terakhira merupakan proses peragian. Nah, disinilah mentega dimasukan, untuk peragian jika tidak pas maka akan busuk. Pria yang cuma lulusan SMA ini menjelaskan lebih lanjut. Ketika musim panas dimana matahari begitu terik maka pemberian ragi dikurangi. Sebaliknya disaat masuk musim hujan, maka ya ragi diperbanyak.

"Kalau sudah busuk, tempenya harus dibuang karena tidak bisa dijual lagi," ujarnya. Bahan baku sendiri dari kedelai impor yang harganya lebih murah, dimana ia cuma mengeluarkan biaya Rp.4.800 per- kilogram.

Bahan baku utama tempe mentega memakai kedelai impor. Alasannya, kedelai lokal kurang bagus, lebih bagus kalau dipakai tahu. Harga juga lebih murah yakni Rp.4.800 per- kilogram. Untuk kedelai lokal harga mencapai Rp.5.500 per- kilogram. Kapistas sendiri masih naik- turun mengikuti ketersediaan karyawan di tempatnya.

Misal, pada hari raya seperti Lebaran, kapasitas menurun 50 persen karena karyawan mudik. Para perajin tempe akan pulang ke kampung. Kebanyakan mereka adalah warga Pekalongan, Jawa Tengah. Stok tempe maka akan menurun drastis disaat musim libur. "Sebenarnya saya bisa saja menambah produksi sampai 100 persen, tetapi kapasitas mesin dan tenaga yang ada tidak mencukupi," katanya.

Sukses tempe mentega membawa berkah. Dia bisa membangun rumah sendiri, membeli mobil, dan punya pabrik sendiri. Ia berharap sangat usahanya ini bisa sampai ke anaknya. "Saya mulai terapkan pemahaman supaya anak tidak terpaku menjadi pegawai," terang Isnadi. Menjadi pengsuha harus dibangun semenjak masih kecil lewat keuletan dan kerajinan.

"...hasilnya jauh lebih menguntungkan," katanya. Sikap serta pandangan ini tidak lah salah sama sekali. Ia paham Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda. Menjadi wirausahawan berarti membantu orang lain, mambuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Artikel Terbaru Kami