Jumat, 25 Desember 2015

Dulu Pegawai Auditor Kini Kurir Miliaran

Biografi Pengusaha Budiyanto Darmastono


Tidak pernah bermimpi mau menjadi pengusaha. Meski sudah menempati posisi mapan, tepat 15 tahun sudah, ia menduduki jabatan auditor di Diners Club. Budiyanto mantap hengkang alias mundur dari pekerjaanya. Pria bernama lengkap Budiyanto Darmastono ini siap membangun bisnisnya. Ia adalah pendiri perusahaan usaha jasa kurir Nusantara Card Semesta (NCS).

Siapa sangka, kini, ia sudah mereguk omzet mencapai ratusan juta per- tahun. Apa si kisahnya yang perlu kita pelajari maka inilah kisahnya.

Hengkang dari pekerjaan mapan merupakan keputusan sulit. Tetapi, dia telah membulatkan tekat, atas keputusan ini dirinya resmi mundur dari jabatan auditor. Perusahaan bernama Nusantara Card tersebut berdiri pada Desember 1994 ini, hanya lah perusahaan kecil awalnya. Budi berbekal uang kurang dari 50 juta membuka usaha.

Dia mendirikan NCS bermodal rumah kontrakan. Disaat itu, ia masih merangkap pekerjaan di Diners Club, sampai benar- benar bisnisnya berjalan. Pria yang dulunya juga guru mengajar SMA ini. Menjadi pengusaha merupakan pilihan berani alias nekat. Tidak banyak pegawai dia pekerjakan cuma 8 orang. Pria kelahiran 8 April 1966 ini yakin.

Kantor itu beralamatkan di Jalan Tali, Jakarta Barat. Budi butuh waktu menyusun pengorganisasian kantor sampai hal kepengurusan ijin. Saat itu pemain di bisnis jasa kurir masih sedikit tidak seperti sekarang. Fokus usahanya pertama kali adalah jasa card center. Yakni jasa pengiriman kartu terutama kartus kredit dari pihak bank.

Sarjanan akuntanis Universitas Gaja Mada ini memang sadar menjadi pegawai tidak selamanya. "Kalaupun punya gaji, paling begitu- begitu saja," aku Budi. Putra seorang guru asal Karanganyar memang bermimpi punya usaha mapan dan bertahan lama. Perusahaanya ini mulai mengirimkan kartu dan surat dalam jumlah banyak.

Pekerjaan selesai


Sebenarnya dia sendiri tidak didukung menjadi bankir. Apalagi berwirausaha tidak didukung sulit diterima. Pria kelahiran 5 April 1966 yang harus memulai jalan yang berliku. Dia tidak punya cita- cita jadi pengusaha. Bahkan sejak kecil cita- citanya memang menjadi bangkir. Semua muncul dibenak si kecil Budi lantaran satu lingkungan.

Waktu itu dia berkenalang beberapa karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di desa. Cita- cita anak ke empat dari enam bersaudara ini tidak mulus. Orang tua nya memilihkan Budi menjadi guru. Keluarga asal Karanganyar, Jawa Tengah itu tidak mau Budi jadi bankir. Mereka menginginkan dia menjadi PNS menjadi guru.

Apalagi secara turun- temurun, dari nenek, orang tua, serta kakak- kakaknya itu guru. Memang lah menjadi PNS menjanjikan. Tetapi dia memilih pekerjaan yang benar menjanjikan kepastian penghasilan. Tetap ngotot menjadi bankir hingga akhirnya masuk Universitas Gajah Mada (UGM) bukannya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

Menjadi bangkir itu karirnya sulit. Tidak semudah menjadi guru terang kedua orang tua Budi. Selain itu juga menjadi bangkir mengeluarkan banyak biaya. Namun, ia tetap meyakini menjadi bangkir lebih menjanjikan, dan dia mencoba membuktikan hal tersebut. Untuk menambah biaya kuliah maka Budi berdagang. Setiap di akhir tahun dia menjual kalender.

Ia menawarkan kalender ke beberapa sekolah di kampung halaman. Hal lain, dia menjadi kepala di koperasi UGM, hasilnya tidak cuma beruapa uang. Secara tidak sengaja dia telah belajar menjadi pengusaha. Selepas dia lulus kedua orang tua masih menginginkan Budi menjadi PNS. "Orang tua saya masih memaksa menjadi pegawai negeri sipir (PNS)," kenangnya.

Dia lalu memilih berkarir di Jakarta. Empat bulan bekerja, dia mendaptkan panggilan di Dinner Club, inilah puncak karir dicitakan seorang Budi. Dimulai dari karir menjadi staf biasa, setalah empat tahun bekerja jadi lah dia manajer. Budi bekerja menjadi pegawai auditor setelahnya. Tetapi, tidak berpuas hati, ia masih aktif berjualan baju dan sprei ke teman kantor.

Mimpinya paling tinggi ialah menjadi direktur, jalan- jalan keluar negeri, dan sukses di usia muda. Hanya saja jalan itu tidak ditemukan di karirnya sekarang. Tahun 1984, ia memutuskan keluar, membuka usaha sendiri dan menjadi direktur sendiri.

Ide bisnis muncul ketika Dinner Club mengeluarkan banyak tagihan. Terutama tagihan biaya pengiriman surat tagihan ke nasabah. Pemain jasa pengiriman paket dokumen masih sedikit. Itulah sasara mata Budi ketika kesempatan itu datang maka tidak disia- siakan. Sang istri sempat menentang keputusan Budi untuk menjadi pengusaha.

Untuk itulah mungkin, di awal usaha, ia menyerahkan kepengurusan perusahaan kepada sang istri. Ialah Reni Sitawarti Siregar yang menjalankan usaha ini. Walau begitu soal urusan presentasi serta memperkenalkan layanan masih dipegangnya. Maka ia harus pandai mencari waktu agar tidak bentrok jadwal kerja.

"Yang penting kan, pekerjaan saya bisa kelar," ujar ayah dari Gina Audrini (5 tahun), yang mana memilih di hari sabtu mengantar anaknya ke sekolah.

Pertumbuhan di dua tahun pertama tidak begitu fenomenal. Cuma Budi masih melihat potensi dimiliki oleh usahanya. Ditangan sang istri usahanya menggaet dua bank swasat yakni Bank Bali Mercantile Club, serta beberapa restoran. Perorangan juga banyak menggunakan jasa NCS. Total transaksi menyentuh angka di jutaan tetapi dibawah 10 juta.

Akhir 1996, Budi memutuskan keluar dari Dinners Club dan terjun bersama berbisnis NCS. Saat itu dirinya yakin bahwa jika terjun berbisnis maka hasilnya akan lebih besar. Selepas keluar dari perusahaan, Budi mulai melakukan serangkaian pembenahan. Termasuk melakukan komputerisasi data klien. Tujuannya tentu agar efisien dan cepat.

Proses komputerisasi meyakinan pelanggan tau status pengiriman. Apalagi kalau pengiriman berjumlah sangat banyak membutuhkan kecermatan. Waktu itu Budi berada di jaman yang tepat ketika cuma segelintir pemain menerapkan sistem IT, seperti DHL dan T&T. Dia merasakan sendiri bagaimana perusahaan konvensional kesusahan.

Mereka, pesaing NCS, sibuk mencari rekap data ketika dirinya langsung klik. "Proses manual seperti itu bisa memakan waktu," ujarnya. Ini juga dijadikan nilai tambah ketika jamannya. Sedikit bertambah banyak para pelanggan bergabung menggunakan jasa NCS. Kendati berumura dua tahun ketika Budi bergabung, bisnis ini menghasilkan Rp.100 juta.

Budi selalu berusaha melakukan pendekatan. Semua perusahaan dari perbankan, asuransi, telekomunikasi, sampai elektronik digaetnya Kini, semua perusahaan memiliki divisi card center, dan dijalankan oleh siapa lagi kalau bukan NCS. Agar menggaet banyak perusahaan dia rajin mengupgrade IT NCS. Bahkan berani berinvestasi sampai Rp.2 miliar.

Ia mampu membuat kebutuhan klien terpenuhi cepat. Inilah daya tarik dari Nusantara Card Semesta. Hal lain adalah keberanian NCS menawarkan software gratis. Mereka buka- bukaan memberikan data tentang pengiriman produk. Misalnya distribusi 100.000 dokumen bisa dicek setiap hari perkembangannya.

Merupakan hal baru ketika itu memberikan perubahan. Ternyata, kelebihan dibidang ini tidak cukup, maka ia mencari inovasi terbaru yakni layanan sebulan gratis lima tahun sekali. Tawaran menarik yang meyakinkan para klien bahwa layanan NCS berbeda. Strategi tersebut terbukti sangat efektif mengikat pelanggan agar tetap setia.

Bukan cuma apakah barang itu sudah sampai tetapi juga waktu tempuh lebih tepat. Jikalau ada dokumen dikirimkan harus dua minggu, maka H+1 sudah pelanggan ketahui laporan kongkret. Termasuk status per- satuan dokumen bukan cuma satu paket. Meski si klien punya kerja sama denga jasa kurir lain, Budi tidak menurunkan layanan.

Perkembangan NCS yang membesar, membuat Budi berani mengembangkan layanan. NCS melayani jasa kurir dalam kota, tetapi juga kurir antar kota bahkan internasional, kargo udara dan laut, moving, trucking, werehousing, logistik juga distribusi. Untuk paling diminati ya layanan kurir dalam kota dan antar kota atau domestik.

Komposisinya, bahkan menurut Budi, 70% merupakan kurir dalam kota dan sisanya lain. Dimana total bisa mencapai 6- 7 ton logistik dikirim. Total jumlah kurir juga naik sampai 2.500 orang dan bisa bertambah. Dia menyebutkan omzet bisnisnya Rp.700- 800 juta. Ia mengandaikan NCS memiliki 3-4 kurir di satu kelurahan mengantarkan 200- 300 dokumen setiap hari.

Artikel Terbaru Kami