Kamis, 24 Desember 2015

Jualan Kambing Raja Aqiqah Keuletan 400 Juta

Biografi Pengusaha Andi Nata 


 
Sosok penambah kasanah dunia usaha itu bernama Andi Nata. Ia sukses berkat peternakan kambing dan katering akikah. Padahal, pemuda kelahiran 7 Januari 1989 ini adalah lulusan Teknik Mesin loh, hingga suatu hari pristiwa penting merubah pola pikirnya menjadi wirausaha muda. Dia menjadi pengusaha karena rasa cinta bukan keterpaksaan.

Andi terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya, Sumari, seorang pegawai bengkel furnitur dan ibunya , Roaenah, ibu rumah tangga biasa. "Mayoritas keluarga saya bertani di Plered," jelasnya.

Anak kedua dari enam bersaudara yang penuh tanggung jawab. Dimana setiap hari, hidup Andi dipenuhi sifat tekun di bidang akademis. Tak ayal, nilai akademisnya tidak pernah turun, meskipun setiap hari dia mungkin capek bersepeda dari rumah ke sekolah.

Sampai di SMA, berkat ketekunan dia mendapatkan banyak beasiswa pendidikan. Sampai kuliah beasiswa itu mengalir membantunya hingga lulus menjadi sarjana. Dia sampai bisa berkuliah di Universitas Indonesia berkat beasiswa. Sembari kuliah kegiatan lain hanyalah memberikan les privat. Andi memang telah melakoni kegiatan ini sejak sekolah menangah atas.

Berkat itu pula uang saku buat sekolah tidak perlu dipikirkan lagi olehnya. Karena ia selalu mengingat pesan nenek,"...enggak boleh takut dengan keadaan, karena kami tak punya apa- apa," tuturnya.

"Saya incar beasiswa," jelas Andi. Semenjak berkuliah lebih banyak waktu kosong. Dia mengisinya lagi bukan bersenang- senang, tetapi kembali mengajari anak les privat. Kali ini, Andi juga memberikan kurus matematika dan fisika, tidak cuma sendiri tetapi ikut beberapa lembaga bimbingan di Depok.

Andi selalu berpikir mengisi waktu menambah koceknya. Berkat usahanya dalam tiga bulan saja, ia berhasil mengumpulkan uang 12 juta. Hanya saja, dipertengahan 2007, sang ayah mendapatkan musibah di tempat kerja dan diharuskan operasi. Inilah titik balik yang penulis ceritakan diatas. Pristiwa ini membuatnya habis- habisan.

Biaya operasi mencapai Rp.35 juta. Tentu uang hasil bimbel belum mencukupi. Mata Andi lantas menatap ke saudara- saudaranya yang masih kecil. Ia harus melakukan sesuatu. Termasuk mau meminjam uang ke salah satu orang tua murid. Bahkan untuk melunasinya, ia rela tidak digaji sebagai guru les privat sampai beberapa tahun ke depan.

Apapun usaha dilakukan bahkan termasuk mengikuti karya ilmiah di Kampus. Pokoknya apapun dilakukan selama menghasilkan uang. Hingga, akhirnya, ia berhasil mengumpulkan biaya buat operasi sang ayah senilai Rp.35 juta tersebut.

Titik balik


Ayah Andi mulai berangsur sembuh pasca operasi. Di titik ini, pemuda 26 tahun ini, mulai kepikiran tentang membuka usaha sendiri. Awalnya usaha beternak kambing ditujukan buat sang ayah. Maksudnya selain buat menambah pemasukan juga mencari kesibukan. Mulai dari sana, Andi mulai mencari tau segala sesuatunya tentang usaha beternak kambing.

Dia mencari tau tentang kambing sampai ke Jakarta Utara. Dari informasi teman, Andi lantas bertemu sosok peternak besar. Yang lantas dijadikannya sosok guru masalah kambing. Begitu sampai disana, tanpa malu ia mengutarakan keinginan untuk beternak kambing. Dalam beberapa bulan selanjutnya, Andi melewati hari- harinya dengan belajar tentang kehidupan peternak kambing.

Dia tinggal disana dan menemukan fakta menarik, "...dalam bisnis, kuncinya tekun dan tahu diri. Selama di sana, saya bantu dengan bersih- bersih juga." Dia selalu bercerita bagiamana niatnya menjadi peternak. Dan, ini ditanggapi teman- temannya dengan mengajak ke komunitas peternak. Ketekunan seorang Andi sampai membuat teman lain ikut merasakan ketertarikan serupa

Bermodal Rp.8 juta hasi tabungan dimulai lah peternakan kecil. Ia merintis peternakan kambinya di Plered. Uang tersebut lantas dibelikan empat kambing betina dan satu kambing jantan. Perawatan kambinya dibantu orang tua dan beberapa sanak saudara. Tidak mudah karena beberapa kambing akhirnya mati. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat Andi.

Teman Andi mulai tertarik akan kesuksesannya dan ikut bergabung. Sedikit- demi sedikit usahnya membesar sampai memiliki 258 ekor kambing di tahun 2009. Total 20 orang teman ikut ambil bagian menjadi investor di peternakan Andi. Sayangnya, usaha tersebut mengalami puncak penjualan hanya ketika Idul Adha saja, sisanya tidak terlalu menghasilkan.

Kambing Akikah


Tidak berpuas hati merupakan salah satu sifat pengusaha. Untuk itulah, ia tidak bisa tinggal diam, jadinya ia memutar otak bagaimana cara agar selalu laku. Penjualan meningkat stabil meski hari besar kurban telah dilewati. Andi pun mencari guru lagi, dan mendapatkan masukan untuk berbisnis katering. Disini mulai nama katering akikah Raja Aqiqah terdengar.

Memulai bisnis akikah ternyata tidak mudah. Karena Andi tidak bisa memasak katering sendiri. Jadi usaha katering tersebut dijalankan lewat bekerja sama dengan seorang rekan. Dimana dia mengurusi hal tenaga dan keungan. "...masakan dikirim oleh Pak Haji, pemilik peternakan itu," celetuknya.

Sejalan waktu nama Raja Aqiqah mulai dikenal. Pasti lah, karena Andi memang ulet keluar- masuk gang, dan menempelkan brosur tiap malam. "Biar enggak malu, kalau memasang brosur pakai helm," kelakarnya. Ia menyadari berbisnis akikah lebih menghasilkan. Usaha ini untungnya lebih banyak sampai Rp.250.000 -an per- kambing.

Kebetulan sekali, tepat di akhir 2012, seorang investor tertarik membeli kambing dari tempat Andi. Investor itu tengah menjajaki bisnis penggemukan kambing. Tidak berpikir lama, melihat peuang, dia segera baralih fokus pembiakan kambing serta merambah bisnis katering. Untuk yang satu ini, Andi kembali memutar otak karena dia tidak bisa selamanya bergantung.

Dia memutar otak menghasilkan masakan sendiri. Meski tidak bisa memasak Andi tetap nekat. Ia kini fokus mencari juru masak. Berkeliling ke berbagai tempat, lagi- lagi masalah dihadapinya, para tukang masak enggak bekerja untuknya. "Saya punya niat besar untuk membuka bisnis akikah, namun tidak bisa masak,... maka ide saya tidak lain mencari juru masak handal," jelasnya.

Kalau pun mau diajak bekerja sama rasa masakan tidak cocok dimulut. Berbagai trik dilancarkan sampai si tukang masak mau. Salah satunya ialah menggunakan pendekatan bersilaturahmi ke orang yang diincar. Dia menjelaskan kalau bersilaturahmi maka tidak mungkn diusir, kan? Sambil berkunjung tidak lupa dibawakan aneka jajanan, seperti coklat, biskuit,dll.

Gunanya buat anak si juru masak agar senang. Istilahnya sih "menyogok" tetapi apa mau dikata. Dua minggu sudah dirinya mengadakan pendekatan. Akhirnya, sang juru masak itu luluh hati, mau mendengar penjelasan dari Andi. Kelebihan Raja Aqiqah terletak di kualitas kambing diternakan. Selain itu, ia menjaga kualitas dari masakan lewat aneka bumbu kualitas.

Ekspansi bisnis


Bahan baku dijelaskan olehnya adalah kambing persilangan Afrikan F-1 dan kambing Jawa Barat. Hasilnya itu daging terasa empuk, tidak amis, terutama ya tidak mengandung kolestrol tinggi. Lewat kualitas maka lah berita tersebar dari mulut ke mulut. Dalam dua hari saja sudah memotong 2- 5 domba sembelihan. Atau, ia rata- rata bisa memotong 100 ekor kambing.

Tahun 2011, ia makin berani membenamkan uang ke bisnis katering- akikah ini. Uang Rp.150 juta diinvestasi ke bisnis tersebut. Dia dibantu si juru masak membangun bisnis tersebut lebih besar. Perhitungan kotornya ia melayani 1000 acara akikah di penjuru Jakarta. Cukup 2% saja sudah begitu menggiurkan hasilnya dirasa oleh Andi.

Sibuk menekuni hobi barunya, berbisnis membuat kuliah Andi sempat terbengkalai. Maklum lah dia sudah bisa merasakan bagaimana mencari uang dan menghasilkan. Dari mulai memberika les privat, menghasilkan sampai Rp.4 juta per- bulan, kini dia meraup omzet mencapai Rp.400 juta per- bulan. Usaha ini juga sudah berkembang menjadi perusahaan bersekala nasional.

Permintaan meningkat sejak awal dimulai berusaha sendiri. Ia juga membina 10 kelompok peternak domba yang sudah tesebar di Cirebon, Depok, dan daerah lain. Kerja sama dibagi 50:50 dari keuntungan dibagi rata olehnya. Tidak berhenti di bisnis kambing, Andi merambah ke bisnis properti, yang mana membeli rumah seken, diperbaiki, lalu dijualnya kembali.

Ia ingat bagaimana dirinya membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Awal sekali dia harus membagi waktu antara mengajar lalu dilanjutkan kuliah. Sampai dia terburu- buru mengejar waktu buat mengajar murid. Saat itu salah seorang orang tua murid mengingatkan akan pentingnya pendidikan. Dia pun harus mengulang 10 mata kuliah.

Mayakini pendidikan juga penting mendukung pengusaha. Dia tetap berusaha membagi waktu. Oleh karena dia masih kuliah juga, teknik marketing terbilang sederhana, dia memanfaatkan jaringan teman serta promosi lewat mulut ke mulut. Barulah selepas kuliah selesai dirinya bernafas lega. Disamping pendidikan formal juga didukung pendidikan lain.

Ia hobi membaca buku motivasi. Menyelesaikan S- 1 ditambah sukses berbisnis, Andi memilih melanjutkan berbisnis sampai jenjang S- 2 di Teknik Industri, Universitas Indonesia. Bahkan siap mencapai jenjang yang lebih tinggi yakni S- 3 Manajemen. Semua dilakukan sambil menjalankan perusahaan bernama PT. Andinata Sumari, bisnis dibidang perjalanan umroh dan haji.

Artikel Terbaru Kami