Minggu, 06 Desember 2015

Memanfaatkan Garasi Menjadi Usaha Kue Bakery

Profil Pengusaha Suteja Salim Wijaya dan Istri 


 
Ingin membuka usaha roti sendiri awalnya. Nanik Sumiyati lantas nekat membuka toko kue sendiri berbekal hobi membuat kue. Usaha roti bermodal rumah pribadi pada 1999, bermodal uang tabungan sebesar 25 juta untuk menyewa rumah sekaligus toko. Garasi rumah dijadikan toko roti sekaligus tempat jadi produksi. "...di belakang untuk tepat produksi," papar Nanik.

Modal segitu mampu menghasilkan aneka roti enak. Nani menawarkan pesanan tetangga serta kenalan di sekitar pemukiman Tlogosari, Semarang. Pesanan semakin banyak kian waktu lantaran layanan prima. Juga sudah termasuk rasa enak dan harga terjangkau menjadi daya. Itulah dua aspek sukses toko roti kecil yang kemudian dinamai Virgin.

Bersama sang suami, Suteja Salim Wijaya, keduanya menjual sedikit saja buat awalan. Teja menjelaskan ia sendiri cuma coba- coba. Tidak begitu ambisus, tetapi dikerjakan sebaik mungkin dan penuh tanggu jawab. Inilah kenapa setiap permasalah dilampaui dengan ketekunan. Tahun ke- empat terlampaui dimana toko kue Virgin telah nampak prospeknya.

Sebuah garasi rumah disulap menjadi toko roti. Keduanya menjual aneka roti manis yang dipajangnya rapih di etalase. Awal produksi cuma membuat 100 potong roti sehari. Dan, keduanya cuma bermodal 10 varian rasa, pokoknya beda dengan toko roti terkenal.

"Awalnya memang hanya iseng mengisi waktu saja sambil menyalurkan hobi dan telenta istri saya yang bisa membuat roti," papar Teja.

Keduanya bekerja sendiri dibantu seorang pembantu. Mereka melakukan segala proses produksi, dari mulai belanjar, menyiapkan bahan baku, sampai mengolah dan menjualnya ke orang- orang. Dalam wawancara bersama Pakaroti.com, Teja menjelaskan usahanya mulai berjalan baik, sedikit- demi sedikit maka jumlah karyawan meningkat.

Teja sendiri sampai tahun ke empat masih fokus bekerja. Dia masih tercatat menjadi pemasok toko bahan bangunan. "Saat itu, saya melihat perkembangan Virgin lebih cepat daripada bisnis saya," tuturnya. Alhasil gajinya sendiri terlampaui oleh sang istri. Peputaran uang pun lebih cepat dibanding usaha bahan bangunan yang sering menunggak pembayaran.

Pensiun dini


Iseng menjadi bisnis serius itulah Teja. Ia pun memutuskan pensiun dini menjadi suplier bahan bangunan. Dia sendiri kagum bagaimana istrinya bekerja. Teja ingin turun tangan membantu Nanik yang kewalahan. Modal ilmu marketing menjadi andalannya memajukan bisnis bakery. Sengaja dibidiknya pasar menengah ke bawah meski untung sedikit tetapi banyak. Strategi tersebut terbukti efektif diterapkan oleh Virgin Bakery.

Produk berkualitas ditambah harga murah meraih kelas bawah. Teja lantas menerapkan konsep swalayan. Ini akan mempermudah orang memilih kue berdasarkan rasa dan harga. Kue- kue disusun disediakan di rak- rak kue. Semenjak 2003 -an namanya toko kue Virgin terkenal dan menjadi buah bibir, yang mana pembeli datang juga dari luar Semarang, seperti Ungaran, Kudus, Jepara, Pekalongan, sampai Tegal.

Kekaguman datang tidak cuma penikmat roti tetapi produsen bahan baku. Mereka berbondong berlomba agar bisa menjadi pemasok. Bagaimana tidak selama lima belas tahun, usaha bakery mereka selalu riuh oleh pembeli. Para produsen ini juga memberikan pelatihan mengolah bahan baku mereka. Bukan lagi disebut toko kecil karena tingkat produksi mencapai 10 ribu potong hingga 15 ribu per- hari.

Mereka banyak memasan untuk aneka kesempatan. Taja selalu mengamati prilaku konsumen agar tepat di marketing produk. "Itu penting untuk menekan jumlah produk yang mubazir, karena roti memiliki umur," ujar Teja.

Dia tidak segan memberikan layanan antar. Langsung ditangani sendiri ketika memasan banyak. Sambil itu, ia mengirim pesanan, termasuk melakukan pemasaran dan informasi soal produk. Menurutnya banyak orang memilih praktis. Orang lebih memilih kue buat buah tangan selepas hajatan. Ketika musim hajatan maka toko kue Virgin selalu ramai permintaan.

Untuk produk terlaris, ia menyebut nama kue berbentuk cincin bulat atau donat. Mendukung kebutuhan dari pasar lebih luas maka dibukalah cabang. Dia mencoba menangkap pembeli luar Semarang dari Ungaran. Ya cabang kedua Virgin Bakery di Ungaran, Jawa Tengah. Karena memang banyak pembeli datang dari ujung selatan Kota Semarang.

Garasi yang dulu menjadi pusat kini menjadi besar. Toko besar yang sudah mirip minimarket khusus buat roti memanjakan pengunjung. Permintaan cukup tinggi ditambah dari cabang Ungaran, yang tanahnya seluas 1,1 hektar. Teja mempekerjakan 200 orang karyawan, ditambah pembangungan pabrik roti kedua. Jika bicara mengenai omzet sudah mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Teja sendiri masih punya hasrat membuka cabang di kawasan Semarang Barat. Sudah 15 tahun berbisnis di bidang roti, hal paling andalan adalah ketekunan itu sendiri. Apalagi sekarang usaha sejenis telah menjamur di berbagai tempat. Marketing kuat melalui pemahaman akan pelanggan menjadi andalan lain. Melalui cita rasa enak membuat Virgin Bakery juga tersebar dari mulut ke mulut.

Artikel Terbaru Kami