Kamis, 05 November 2015

Sukses Boneka Akar Wangi Bulu Domba IPB

Profil Pengusaha Tatang Gunawan 



Tau kah kamu bahwa Indonesia merupakan salah satu penghasil akar wangi. Bahkan tak tanggung- tanggung tanaman bahan baku minyak wangi ini sangat banyak. Menurut penelitian Indonesia menempati tiga negera terbesar untuk bahan mentah ini, selain Bourbon dan Haiti. Di daerah Jawa Barat pada khususnya, tepatnya di daerah Garut, nama Tatang Gunawan tersohor berkat akar wangi.

Sejak kuliah dirinya bersama rekan yaitu Larasati Widyaputri, Istiq Farila, dan Ihwan Nul Padli, punya tujuan yakni membangun bisnis hijau sendiri. Lewat green entrepreneurship memanfaatkan sumber daya alam lokal dan akhirnya menemukan akar wangi. Kesuksesan para alumni mahasiswa pertanian IPB ini, adalah produk bernama Ecodoe. Atau, buat kamu warga Jawa Barat, pasti sudah familiar akan ikon boneka bulu domba wangi ini.

"Produk pertanian tidak selalu identik berkutat dalam hal pangan saja," tuturnya.

Proyek Ecodoe bertujuan mengambangkan budaya lokal. Apa tanaman komoditas pertanian lokal yang bisa menjual. Selain itu disisipi misi menghijaukan. Memang banyak limbah pertanian bisa dikembangkan menjadi aneka kerajinan. Inovasi dibutuhkan disetiap sentuhan termasuk akar wangi. Oleh Ecodoe, akar wangi akan diangkat menjadi tanaman pertanian produktif.

Tak sadar


Jujur Tatang Gunawan tidak sadar akan akar wangi. Dia bahkan tidak tahu akar wangi itu banyak tumbuh di tempat kelahirannya. Ia juga baru tau kalau akar wangi bisa diambil minyaknya. Itupun baru tau ketika sudah masuk jurusan pertanian. Disaat kuliah di IPB itulah, dia menyadari kalo akar wangi bisa disuling menjadi bahan baku kosmetik, pelumas senjata, obat- obatan, dan lain- lain.

Sayangnya, menurut pendapat Tatang masih sedikit pemrosesan limbahnya. Akar wangi lebih dominan oleh masyarakat disuling minyaknya bukan akarnya. Padahal bau akar wangi masih tersisa meski minyak telah disuling. Ini menggelitik ide bisnis Tatang. Ia mencoba memanfaatkan konsep zero waste. Artinya tidak ada satupun tersisa dari tanaman ini menjadi limbah.

"Kami kemudian mengumpulkan bulu domba itu dan mengolahnya menjadi Ecodoe," terangnya.

Dia mencoba mengambil aspek akar wangi segar. Memilik harus yang masih kuat khas dan tahan lama. Ia lantas bertemu tiga sekawan sesama mahasiswa IPB. Bersama mereka kemudian mengkonsep bulu domba dan akar wangi. Seperti halnya akar wangi, lain hal di negara seperti Australi dan Selandia Baru, Indonesia justru meliha bulu domba menjadi limbah. Padahal senyawa keratin yang ada didalamnya sulit terdegradasi.

Ini akan mencemari lingkuhan loh, jikalau tidak ditanggulangi bisa berbahaya. Dan, seperti hal bisnis online lainnya: Ecodoe mengkonsep matang marketingnya lewat online. Mereka berjualan lewat Facebook dan Instagram. Mereka juga punya toko online sendiri di www.ecodoe.com. Minim modal itulah kehebatan dari empat sekawan asal IPB ini. Menarik minat pembeli online, menarik investor datang menawarkan kerja sama offline.

Mereka resmi mendirikan toko offline di Bogor. Mereka juga bermitra gerai di SMESCO Jakarta dan juga di Kaliunda Gallery di Bali. Tim Ecodoe menyasar para turis dalam negeri maupun manca negara. Visi dari bisnis mereka pun semakin jelas "menjadi brand green souvenir andalan Indonesia. Tujuan mereka tidak lain sampai ke manca negara.

"Kami juga ikut bermacam-macam kompetisi bisnis untuk tambah modal, hingga yang kemarin di Singapura. Intinya, masalah modal karena ketidaktahuan jaringan," kata Tatang lagi.

Sempat ditentang orang tua ketika membangun usaha, Tatang dan kawan tidak menyerah. Mereka terus saja membuktikan bahwa peluang bisnis terbuka. Ecodoe bahkan memerkan diri mereka ke orang tua bahwa ini bukan sekedar berwirausaha. Buktinya ialah mereka bisa memberdayakan peternak asal Wonosobo. Bisa membuka lapangan pekerjaan, belum lagi ibu- ibu pengrajin akar wanginya di Garut.

Untuk pengemasan mereka bekerja sama dengan masyarakat Bogor. Banyak pihak terlibat dalam bisnis ini. Ia meyakinkan bahwa bisnis Ecodoe merupakan bisnis bersama. " Kami making money tak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ada benefit buat masyarakat sekitar," tambahnya.

Hasil karya Ecodoe meliputi bros kupu- kupu seharga Rp.12.000. Kemudian paling mahal yaitu replika dari akar wangi seharga Rp.150.000. Bentuk nan- cantik ditambah wangi khas, membuat souvenir karya mereka begitu digemari. Pesanan pun sudah datang merata di kota- kota besar se- Indonesia. Bahkan merambah Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Italia. Tim Ecodoe lewat kerja kerasnya berhasil meraih banyak penghargaan.

Penghargaan meliputi emas dan perak di tahun 2014, untuk prestasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional oleh DIKTI di Universitas Diponegoro, Semarang. Kemudian pernah menjuarai juara 1 Sociopreneur Expo di UIN Syarif Hidayatullah tahun 2014. Terakhir ini bahkan mereka memenangkan ajang internasional Singapore International Foundation. "Kami akan ekspansi pada beberapa pekan ke depan," tutur Tatang kepada SWA.

Usaha yang dirintis sejak Februari 2014 ini, telah membuktikan ke kita bahwa berwirausaha tidak cuma lah soal berjualan. Tetapi anak muda berwirausaha juga berarti bisa menyelamatkan lingkungan. "Kami senang tiasa merubah desain agar lebih modern," tambah salah satu anggota Ecodoe, Ihwan Nul Padli mahasiswa dari jurusan peternakan IPB. Nilai ekonomis keduanya bisa diangkat setinggi- tingginya lewat aneka inovasi.

Untuk reseller Ecodoe sendiri masih dalam perencanaan. Banyak tawaran kerja sama yang sayang kalau dilepaskan. "Kami punya cita- cita turis asing yang datang ke Indonesia tak lengkap kalau tidak membawa pulang oleh- oleh dari Ecodoe," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami