Senin, 23 November 2015

Membuat Kaos Muslim Modal 3 Juta Saja

Profil Pengusaha Sukses Warsandi


  
Pemuda 23 tahun ini adalah pengusaha muda. Sejak kecil merupakan keharusan baginya agar bekerja keras. Ia sempat tidak melanjutkan sekolah. Tetapi dia tidak menyerah, malah pemuda bernama Warsandi ini makin gila bekerja saja. Akhirnya, Warsandi sukses di pendidikan, menjadi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga.

Perjalanan Warsandi memang terbilang unik. Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa di Kaliurang. Semenjak kecil, Sandi bekerja mandiri mengumpulkan biaya sekolah sendiri. Keinginan tetap sekolah membuatnya tetap bertahan. Ia memang sempat berhenti satu tahun lebih ketika lulus sekolah dasar (SD) mau ke menengah pertama (SMP). 

Selepas cukup biaya, ia melanjutkan sekolah menengah atas sendiri (SMA), kemudian berhenti sejenak dan masuk perguruan tinggi.

"Lelaki sejati datangi ayahnya, bukan putrinya," seloroh Andi menunjukan bisnisnya sekarang. Sebuah kata- kata unik yang terlahir dari pengamatan dan pengalaman hidup.

Bisnis kaus


Andi langsung hijarah ke Jogja ketika lulus SMP. Masuk ke SMK, semua biaya merupakan hasil kerja, salah satunya bekerja menjadi pembersih kuburan. Ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan tinggal di sebuah panti asuhan. Disana dirinya bekerja agar bisa menopang biaya sekolah. Pemuda asli Karawang, Jawa Barat ini, lantas menatap hidupnya dalam kewirausahaan.

Aneka usaha telah dijalani seorang Warsandi. Pertama kali berjualan buah- buahan, jualan gorengan keliling, berdagang asongan, kerja di penggilingan kopi, dan juga membersihkan kuburan. Untuk soal membersihkan kuburan ternyata dilakoninya pas tamat SDN 03 Rengasdengklok, Karawang, dan juga lagi selepas lulus dari SMP Terbuka 1 Rengasdengklok.

Ketika kuliah lantas Warsandi berjualan sendiri. Modal Rp.50.000 disulapnya menjadi bisnis jual Snackdes. Atau, lebih jelasnya jualan panganan ringan asal desa yang di kampusnya menjadi favorit. Ketika sore telah tiba, Sandi berangkat ke Kaliurang membeli aneka snack, yang kemudan dijualnya kembali. Usaha satu ini berjalan sejak masih siang hingga larut malam.

Untuk malamnya, ia gunakan sebaik- baiknya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ia kembali ke makanan desa itu. Dibungkusinya satu per- satu untuk dijualkan besok. Tidak jarang Sandi bekerja larut sampai pukul 02:00 WIB dini hari.

"Lumayan, dari asalnya hanya berjualan snack seharga Rp3.000 per bungkus hingga pernah menjual snack yang seharga Rp10.000 per- bungkus," papar Sandi.

Untung berjualan aneka jajanan desa itu sampai Rp.100.000 per- hari. Sedikit- demi sedikit usaha jualan itu berhasil bahkan bisa mengirimi kedua orang tua. Tetapi usaha itu tidak memuasakannya, sejak 2012, usaha lain sudah digenjotnya sebagai usaha utama. Matanya tertuju kepada tren usaha clothing di Indonesia sendiri. Dia lantas membuka usaha clothing bernama Naidu Positive.

Bermodal awal Rp.3 jutaan sudah bisa berjualan. Ia terus kembangkan sampai menghasilkan omzet Rp12 juta per- bulan. Sandi mengaku tidak punya pengetahuan sama sekali soal clothing. Semua dijalankan sambil berjalan dan belajar dari berbagai sumber. Salah satunya ya ia pernah mengikuti seminar wirausaha mandiri.

"Selain dapat uang saku, saya juga dapet coaching, pemahaman soal visi- misi, pelatihan marketing, dan membuat laporan keuangan," aku Sandi.

Usaha clothing memang baru bagi pemuda kelahiran 1991 ini. Kios sederhana, namun rapih tertata, ukuran 3 m x 3,5 m memamerkan aneka kaus buatan sendiri. Di ruangan tersebut lah, Sandi melayani sendiri pembeli yang berkunjung. Namun, ia menjelaskan, usahanya lebih banyak menerima pesanan via online. Tidak kurang ratusan kaus diproduksi dan dipesan lewat internet sampai 1.000 -an.

Keuntungan menjadi pengusaha muda?

Ia sudah bisa meminang gadi impiannya awal tahun 2015. Dia juga mendapatkan pengakuan masyarakat luas lewat ajang Wirausaha Baru Bank Indonesia 2012. Andi juga bisa bersekolah kembali berkat beasiswa Uno Foundation (MRUF) periode 2013- 2014. Meski sibuk, ia tetap melanjutkan kuliahnya dan tengah mengerjakan skripsi.

"Pintar- pinta membagi waktu saja," katanya.

Selain itu berkat kerja kerasnya, Sandi sudah punya satu unit rumah di Kaliurang. Rumah yang rencananya akan ditinggali ayah dan ibunya, adik- adiknya, dan istrinya. Visi besar Warsandi pun akan tetap diuji dalam hal berwirausaha ini. "...impian saya mendirikan usaha tingkat internasional," lanjutnya. "Tapi saya mencoba dari hal- hal kecil dan lokal seperti usaha clothing dulu," tutup Sandi.

Artikel Terbaru Kami