Rabu, 25 November 2015

Menjadi Tukang Cuci 24 Jam Waroenk Laundry

Profil Pengusaha Kukuh Ginanjar



Mempelajari bisnis lain terlebih dahulu bisa menjadi senjata. Seperti halnya Kukuh Ginanjar, pengusaha muda jasa cuci asal Bandung. Pasalnya usaha laundry sudah menjamur ketika dirinya memulai. Kukuh rela jauh- jauh mempelajari pasar ke Yogyakarta. Dari sana strategi bisnis pun ditemukannya yakni memberi garansi. Tetapi bukan garansi biasa karena ia menjanjikan garansi setrika pakian satu hari jadi.

Ia pelajari betul seluk- beluk usaha laundry di Yogyakarta. Cara unik tersebut ternyata efektif apalagi di Bandung belum begitu ramai. Pengunjung berdatangan meminta dia cucikan langsung ketika mendengar.

"Saat itu, di daerah kampus memang sudah ada laundry, tapi banyak yang mengeluh soal pelayanannya," kata Kukuh kepada Republika.

Kukuh mahasiswa Semester tiga STT Telkom Bandung, Jawa Barat, ini membuktikan. Kamu perlu banyak mengamati sebelum memulai berbisnis. Agar tidak mengecewakan pelanggan maka muncul ide kuota. Inilah cara lain Kukuh mengakali menumpuknya pesanan pasca marketing. Jika sudah melebih kuota maka dengan sangat terpaksa ditolak.

Dalam tempo sebulan usahanya menjaring dua ton pakaian kotor. Pemuda asal Klaten ini mengaku semua itu bermodal pas- pasan. Modal awal seorang Kukuh cukup 300 ribu di kantong. Tekatnya bulat memulai satu usaha sendiri. Ia menyisihkan 200 ribua buat sewa tempat. Sisa uang kemudian digunakan sebagai biaya buat promosi mulai spanduk dan lain- lain.

Kalau peralatan?

Ia ternyata punya cara tersendiri. Dia rajin menemui teman- teman menawarkan satu proposal bisnis. Berkat keahlian melobi Kuku bisa mendapat Rp.5 juta. Uang patungan tersebut barulah digunakan sebagai modal buat peralatan. Memang sedari dulu dirinya dikenal sebagai pengusaha. Jiwa entrepreneurship terasah oleh pengalaman mulai dari usaha pulsa, donat, kaus, hingga susu murni.

"Saya sadar sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana mau tak mau harus kreatif mencari tambahan biaya," tutur Kukuh.

Bisnis 24 jam


Ia sendiri tidak sebebas kita. Meski begitu bisnisnya tetap melejit sambil menjalankan ikatan dinas. Ya, betul, dia kala itu tengah menempuh pendidikan ikatan dinas, dan ini memberinya bebas biaya kuliah. Akan tetapi ayahnya yang cuma guru SD tidak memberi banyak. Alhasil, Kukuh tetap banting tulang mencari tambahan untuk hidup di negeri rantau.

Sang ayah beristri ibu rumah tangga biasa dan memiliki empat orang anak. Kukuh sadar merasakan betul kekurangannya dalam keuangan.

Keprihatinan membawa dia serius menjalankan bisnis. Dalam waktu lima tahun, Waroenk Laundry mampu melebarkan sayap ke berbagai wilayah. Cabang tersebar dari Sumedang, Jombang, Bangka Belitung, dan juga Palembang. Tarif laundry cukup Rp.5000 per- kilo untuk mahasiswa. Untuk umum Rp.6000 saja tidak terlalu jauh. Sistem komputerisasi mempermudah jalannya perusahaan milik Kukuh ini.

Sistem komputer termasuk dalam hal pelayanan. Sistem pengecekan via SMS bisa langsung diterima oleh administari sejak diterima dan proses packing. Ini memungkinkan pelanggan memantau cucian setiap saat lewat sistem notifikasi. Orang tidak perlu bolak- balik datang mengecek cucian. Lain fungsi, sistem ini juga berlaku dalam pengawasan pegawai di tempat kerja.

Menerapkan banyak strategi dan model manajemen membuat Kukuh yakin. Ia meyakinkan bahwa usahanya ini akan berkembang bagus, dan terbukti. "Kami siap menjadi barometer laundry Indonesia," tuturnya.

Lantas bagaimana strategi marketing mumpuni. Maka, Kukuh memperkenalkan konsep bisnis 24 jam. Ini menjadi yang pertama buat bisnis laundry Indonesia. Dia juga menggalang konsep go green melalui produk detergen ramah lingkungan. Waroenk Laundry tidak pula menyediakan pembungkus plastik. Tidak cuma itu ternyata, soal limbah pun sudah Kukuh pikirkan, dimana melakukan proses filterisasi ketika menggunakan air.

Bisnis besar


Promosi lewat SMS dikembangkan olehnya. Ia lantas menawarkan menyisihkan Rp.100,- untuk yang tidak mampu. Terakhir adalah menawarkan konsep kemitraan alias waralaba. Kukuh menawarkan paket investasi Rp.49 juta paket mini. Paket standarnya senilai Rp.79 juta dan medium Rp.107 juta. Untuk perbedaan itu terletak dijumlah mesin cuci dan pengering.

Jika paket mini satu mesin cuci dan dua pengering, paket standar dua mesin cuci dan tiga mesin pengering. Ia menambahkan paket renovasi tempat, komputer, training karyawan, dan furnitur. Di luar investasi tersebut buat kamu yang tambahan Rp.6 juta sebagai biaya pengiriman. Asumsi balik modal jika semuanya terpenuhi adalah enam bulan sampai 11 bulan.

"Tarif terjangkau menjadi kelebihan kami," paparnya.

Sukses berbisnis waralaba membawa Kukuh jauh melompat. Bayangkan pemuda 25 tahun ini sekarang bisa membuka banyak cabang dan terakhir membuka anak perusahaan. "Waroenk Laundry menawarkan sistem waralaba agar jangkauan outlet dapat merambah ke berbagai pelosok," ujarnya. Lompatan itu tidak serta- merta membuat hatinya sombong.

Dia bahkan menyempatkan mengerjakan pesanan alamemeternya. Pria yang juga lulusan SMAN 1 Klaten ini, dipercaya mencucikan pakaian mahasiswa di asrama. Total 4.000 pakain kotor mahasiswa dari 16 tower dipegangnya sendiri. Kembali ke anak usaha, masih berhubungan dengan bisnis utamanya, ia membuka satu usaha kebutuhan laundry berupa diterjen dan pewangi.

Anak perusahaan kedua menjual alat- alat cuci, seperti mesin cuci dan pengering. Buat kamu konsumen bisa melihat di www.pusatlaundry.com dan www.bospengering.com. Usaha lain yakni menciptakan alat konverter mengurangi daya mesin 2.200 watt menjadi 150 watt. Ide mendirikan perusahaan dimulai saat dirinya pernah ditipu oleh suplier mesin cuci dan pengering. Ia kehilangan 30 juta tetapi tidak menghasilkan apapun.

"Saya hanya mendapatkan alat- alat kualitas rendah," sebut finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010 ini.

Menjadi pengusaha muda bukan perkara mudah. Ia sempat ditentang ayah dan ibunya. Berbekal ilmu kuliah dari satu kampus terkenal, harapan mereka Kukuh menjadi pegawai perusahaan bonafit. Apalagi sosok sang kakak adalah dokter lulusan UGM.

Artikel Terbaru Kami