Minggu, 01 November 2015

Bakul Sate Laka Laka Lika Liku Mantan Wartawan

Profil Pengusaha Sunarto


  
Sukses menjadi wartawan cetak tingkat nasional tidak membuatnya puas. Ketika karirnya tengah menanjak, pria alumni Universitas Diponegoro, Semarang ini, malah memilih untuk menjadi bakul sate. Sunarto namanya memilih pensiun dini dan mendirikan warung sate Tegal sejak 2003. Dia mengaku sendiri bahwa rasa tertarik sudah muncul sejak masih meliput. Semenjak meliput aneka bisnis kuliner membuatnya tertarik mencoba.

"Saya tertarik bisnis kuliner antara lain dorongan saat sering liputan dan menangangi rubrik soal kuliner," terang Narto, nama panggilanya ketika masih menjadi wartawan.

Namun, siapa sangka berbisnis itu tidak mudah, jalan terjal langsung menghadang ayah dari Raidha ini. Narto menghadapi masalah langsung sehari setelah buka. Pasalnya tanah di Cibinong, yang dibeli olehnya ternyata adalah jalur hijau. Jadilah tanah tersebut langsung kena gusuran. Padahal Narto tengah senang- senangnya punya warung permanen dua tingkat.

Mau diapakan lagi dia harus mengalah. Bersama anak semata wayang dan istrinya, Narto sempat melihat sendiri proses perobohan. Sakitnya tuh disini ketika mereka sudah keluar dana puluhan juta. Dia mengaku itu satu kesalahan. Narto mengaku kena tipu. Dari masalah tersebut ternyata solusi Tuhan lebih utama. Ia malah kelak sumringah mendapatkan ganti rugi.

Jalan tengah yang diberikan salah satu petugas trantib. Dia ditawari mendirikan tenda jualan di depan Kantor Pemkab Bogordi Cibinong. Tawaran tersebut ditangkapnya sebagai peluang. Awal membuka warung malah bukan sate loh. Ia malah membuka usaha bebek goreng "Bego". Tetapi disela- selanya juga ada menu sate kambing. Nah, inilah cikal bakal usaha utama Pak Narto. Usaha tersebut langsung diminati pengjung begitu buka.

Hanya selang dua bulan, Narto sudah punya cabang masih di daerah yang sama. Tidak lama kemudian ada satu warung tenda lagi. Total tiga warung tenda bisa dibuka dalam setahun. Merasa terlanjur basah maka ia pun mandi sekalian. Ia tak segan ikut membantu meski punya 20 orang karyawan. Bahkan selesai dari menutuo warung, subuhnya ia bisa langsung pergi ke pasar. Narto sendiri yang membeli sayuran kebutuhan warung.

Ia punya prinsip, "terpenting adalah mencari lokasi yang tepat." Berkat pernah ditipu langkah kerja Sunarto semakin mantap. Prinsip kehati- hatian diterapkan disetiap usaha. Bahkan dia sukses membuka cabang di kawasan pinggir jalan Parung- Bogor. Tempat yang kini semakin ramai pengunjung setelah dibukanya tol luar bogor. Tanah seluas 200 meter persegi yang disewanya selama 10 tahun kedepan.

Warung Sate Laka- Laka merupakan warung permanen di atas tanah sendiri seajk 2010. Butuh 7 tahun mengembalikan apa yang hilang dulu. Pilihan seorang Narto tidak lah salah. Warung baru itu ternyata banyak dikunjungi pembeli. Soal menu sudah bervariasi. Andalan mereka kini adalah sate kambing. Dia juga menjual bebek goreng, ayam goreng, sop sapi, sop ayam, sop kambing, salain itu juga berbagai minuman.

Ia lantas mengajak keluarga pemilik tanah itu ikut berjualan es kelapa muda. Dan, untuk sate kambing dalam sebulan rata- rata menghabiskan lima ekor. Tahun 2012 dibukalah kembali satu cabang sate Laka- Laka di Kota Bogor. Sebuah langkah strategis lain di wilayah terkenal kuliner itu. Modal investasi bebernya mencapai Rp.750 juta. Uang tersebut ia gunakan untuk menyewa tanah dan mendirikan restoran (bukan warung.red).

Kini, dia cuma fokus di dua restoran saja. Sedangkan tiga warung tenda miliknya telah ditutup. Alasannya karena karyawan pada tidak mau datang ke tiga warung tendanya. Mereka tidak mau capek pulang- pergi dari restoran ke warung tenda. Ia kini dibantu 40 karyawan yang dibagi dua: bagian produksi dan pelayanan. Untuk bagian kasir melapor kepadanya selama tiga kali sehari.

Artikel Terbaru Kami