Kamis, 12 November 2015

Penulis Maria Jualan Keripik Singkong Rasa Gadung

Profil Pengusaha Siti Mari Ghozali 



Nama Siti Maria Ghozali memang tidak familiar di telinga. Atau, kamu akan lebih kenal nama penanya Maria Bo Niok. Meski kamu tidak mengenalnya, penulis meyakinkan dia adalah sosok wanita hebat. Dia dikenal oleh kalangan aktifis sebagai wanita vokal. Khususnya menyuarakan hak buruh migran wanita di Hong Kong. Wanita berumur 40 tahun, seorang novelis, hal lain adalah dia seorang pengusaha wanita asal Wonosobo.

Mari telah menulis sejak 2002, ketika dia tinggal di Hong Kong. Seorang teman mailist menyadarkan dirinya menulis merupakan bakatnya. Sosok teman itu selalu mendukung, menyemangati, bahkan seolah menjadi guru jarak jauh Mari. Hasilnya ia telah menulis tidak kurang dari 20 judul cerita pendek. Dan kebanyakan dipublikasikan oleh tiga majalah Indonesia yang diterbitkan di Hong Kong.

Tiga majalah yang dikhususkan untuk buruh migran, seperti Intermezo, Berita Indonesia, dan Rose Mawar. Kebanyakan ceritanya tidak jauh dari pengalaman pribadi. A Ne Ge , contohnya, merupakan cerita pendek tentang kehidupan buruh migran Hong Kong. Utamanya bagaimana kesulitannya mereka berkomunikasi satu sama lain.

"Mereka menggunakan tiga kata A, Ne, Ge yang menjelaskan 1001 kosa kata dengan pekerja migran," tuturnya.

Karya lainnya meliputi Embun Pagi di Hong Kong (A Morning Dew in Hong Kong), Desah Keluh Pejuang Devisa (Grievance by Foreign Exchange Fighters), Batik, dan Kelobot Tembakau Kasih (Love of Klobot Cigarette).

Sekembalinya ke Indonesia, Maria memutuskan tidak kembali ke Hong Kong. Tepatnya waktu itu, tahun 2004, dia kembali ke kampunya di desa Pasunten, Lipursari, Wonosobo Jawa Tengah. Disana pula ia bisa menemukan cara lain untuk hidup. "Saya tidak mau jauh dari anak- anak saya lagi," jelasnya kepada pewarta the Jakarta Post. Ibu enam anak ini memiliki jiwa entrepreneurship. Inilah yang coba dituangkannya selepas di Indonesia.

Seniman Wonosobo


Lahir dari keluarga sederhana pasangan Siti Ngaisah dan Muhammad Ghozali, Maria membuktikan dirinya merupakan sosok tangguh. Dia menjalankan bisnis kecil- kecilan di 2004 yakni sebuah wartel. Dia juga jadi guru bahasa Kanton di sekolah lokal. Untuk tambahan dia (saat menjadi migran) juga pernah belajar Kanton di Abraham Collage di Hong Kong.

Dia masih sempat menulis novel Ranting Sakura Dalam Bingkai Abstrak. Sambil menunggu kembalinya ke perusahaan penerbit. "Saya selesai menulis dalam sembilan bulan tetapi ide telah ada selama empat tahun. Beberapa cerita dalam novel berdasarkan pengalaman saya sendiri. Beberapa yang lain dari teman-teman saya," kata Maria.

Umur 12 tahun, Maria pergi dari rumah kedua orang tuanya, ke Bandung bekerja menjadi pembantu. "Saya harus pergi dari rumah karena saya harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada waktu buat saya bermain," pungkasnya. Tetapi kemudian ketika diperjalanan, hidup merantau jauh dari orang tua justru malah membuatnya kesepian. Dia dibayar kecil dari pekerjaanya di Bantung. Selepas dua bulan malah pulang ke rumah.

Sekembalinya, ia bersekolah kembali hingga lulus sekolah menengah atas. Dia lantas dinikahkan diumur 17 tahun. Untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sehari- hari yang bisa dilakukan adalah menjual burung di pasar. Suatu hari pasar tradisional Wonosobo tersebut terbakar habis -membawa semua barang dagangan. Api besar menghanguskan segala modal Maria. Tetapi yang terberat adalah ketika itu membuatnya harus bercerai.

Tidak cuma bercerai tetapi ia (sang suami) meninggalkan hutang menumpuk.

Itulah Maria memilih menjadi buruh migran di negara orang. Dia meninggalkan anaknya kepada keluarga. Ia mempunya lima orang anak. Dimana yang termuda masih bayi empat bulan, dimana Maria meminta bantuan seorang babysitter untuk menjaganya di Jakarta. Pergi jauh dari orang tuanya membuatnya menjadi sedih, bosan, dan kesepian. Menulis merupakan bentuk penyaluran luapan tersebut.

Hingga, suatu hari di 2002, dia bertemu sosok Stevi Yean Marie, seorang penulis puisi asal Yogyakarta. Dimana semenjak itu ia menjadi guru Maria Bo Niok secara online.

"Dia adalah orang yang menemukan bakat menulis saya. Dia selalu berani mengoreksi saya ketika saya membuat kesalahan," kata Maria.

Menulis pengusaha


Setahun sudah Maria mendapatkan pelatihan wirausaha. Pelatihan bagaimana merubah ketela menjadi kripik gadung di Balai Latihan Kerja, Wonosobo. Usaha yang didasari bahwa ketela memang banyak di daerah itu. Maria sendiri langsung mempraktikan pelatihan tersebut. Prosesnya memang cukup rumit tetapi akhirnya ia bisa. Ia lantas memberi nama usahanya UD Mari.

Keripik ketela rasa gadung yang dikemas dengan merek. Warga desa Lipursari ini lantas menitipkan produk tersebut menjadi oleh- oleh khas. "Banyak toko mau menerima keripik buatan saya," ujarnya bangga. Kian lama usahanya semakin berkembang. Bahkan keripik gadung Mari sudah tersedia di toko oleh- oleh dan juga supermarket. Ia tak sanggup lagi mengerjakan sendiri. Usaha keripik tersebut lantas dibantu 4 orang karyawan.

"Bahan bakunya gampang dicari, kok. Di sekitar desa saya banyak ketela," celetuknya. Jikalau kurang pun, ia bisa membeli dari desa lain. Perbulan usaha UD Mari memproduksi satu ton ketela. Usahanya ternyata bisa menjadi rezeki buat warga sekitar. Pasalnya dia mengajak warga memasok bahan ketela siap masak. Yaitu ketela yang sudah dikupas, dirajang, dan dibersihkan, ia bahkan berani membeli seharga Rp.1.500 per kilo.

Harga normal ketela di daerahnya Rp.200 per- kilo. Maria memberikan nilai lebih bagi petani di kampunya. Alhasil usahanya terus tumbuh sebagai jawaban kebaikan hati Maria. Harga jual dari keripik rasa gadung adalah Rp.45 ribu. Memang relatif mahal diakuinya dibanding produksi rumahan lain. Ia meyakinkan produk UD Maria benar- benar berkualitas. Mereka sendiri tidak saling bersaing karena sudah punya pelanggan.

Meski sederhana Maria senang usahanya berjalan. Dia bahkan sudah siap berjualan lewat Facebook. Lewat nama Mari Singkong Rasa Gadung. Disela- sela berbisnis sendiri Maria masih aktif menulis. Selain itu ia juga aktif mengajar anak- anak di kampung. Ia mendirikan Rumah Rumbia, sebuah taman bacaan yang gratis buat anak- anak sekitar. Dia sendiri dibantu kawan- kawan soal pengedaan buku.

Artikel Terbaru Kami