Senin, 16 November 2015

Pembuat Madu Amfoang Mantan Kontraktor

Profil Pengusaha Roby Manoh 


 
Melihat potensi sumber daya alam sekitar kita. Sukses itulah yang bisa dipetik dari kisah Roby Amfoang. Dia sukses melihat hal tersebut di Kota Kupang khususnya, dan juga Nusa Tenggara Timur umumnya. Poteni tersebut ialah madu hutan menyehatkan. Yang terkenal akan khasiatnya khusus untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.

Sayangnya, produksi madu hutan ini jumlahnya masih terbatas, belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.

"Saat itu nama madu Amfoang sedang meledak. Saya pikir mengapa saya tidak kembangkan anugrah Tuhan ini," tuturnya.

Roby Manoh melihat potensi besar sumber daya alam untuk Indonesia Timur. Sumber daya yang menurutnya terabaikan selama ini. Mereka para wisatawan disuguhkan madu tetapi dengan konsep tak profesional. Hati kecilnya terpanggil untuk merubahnya. Bayangkan madu- madu itu hanya dikemas dengan botol bekas air kemasan. Padahal wisatawan itu jauh- jauh ke NTT untuk menikmati dasyatnya madu hutan ini

Ia tercatat pernah menjadi karyawan  sebuah perusahaan kontraktor di Kupang dari 1990- 2002. Sampai persaingan antar kontraktor semakin ketat, yang membawanya memilih menjadi pengusaha. Sebagai awalan, Roby langsung pergi magang di pengelolaan madu Balai Besar Industri Nasional di Bogor, Jawa Barat. Hingga tahun 2002, sekembali dari Bogor, ia aktif mengunjungi sumber- sumber potensi madu hutan yang ada.

Sejumlah kawasan di Amfoang dan daratan Timor Barat dikunjunginya. Tahun 2003, Roby mulai membentuk kelompok pengumpul madu. Pertama kalinya cuma ada 10 orang yang bersedia bergabung. Satu kelompok yang diberinya nama Kelompok Amfoang. Kini, sudah banyak orang mengikuti, total sudah 43 kelompok mengikuti jejak Roby, mulai dari kelompok Amfoang, Amarasi, dan sampai ke penjuru daratan Timor Barat lain.

Nama Amfoang sendiri terinspirasi atas nama sebuah daerah meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Kupang. Sampai tahun 1990 -an, penyebutan nama Amfoang, maka akan identik akan madu hutan asli khas Nusa Tenggara Timur. Madu Amfoang sendiri memiliki khasiat beragam, dari cuma menyebuhkan luka terbuka, sampai mengatasi tuberkulosis, masuk angin, jantung, darah tinggi dan menambah kecantikan perempuan.

Madu bunga asli


Amfoang merupakan kawasan hutan seluas 1.000 hektar. Hutan yang didukung beragam kekayaan hayati berkualitas seperti cendana, kayu putih, dan kenari. Bunga- bunga aneka ragam yang dihinggapi lebah hutan pencari makan. Lebah ini asli dari hutan sengaja tidak diternakan. "Jika diternakan, berpotensi menggunakan bahan kimia," tuturnya. Madunya alami, mulai dari hutannya, proses pengambilan, proses penyimpanan, dan penjualan.

Madu standar ekspor memiliki kadar air 18 persen, panasnya 40- 60 derajat celcius, kadar air maksimal di 21 persen, dan debu atau abu 1 persen. Madu Amfoang memiliki kadar air 16- 17 persen, panas 50- 60 derajat dalam kandungan madu, dan debunya cuma 0,6 persen. Pendiri CV. Amfoang Jaya ini mengatakan madunya tersebut sudah diseleksi ketat.

Cakupan madu Amfoang sudah mencapai Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Timor Leste. Ada laboratorium dan tabung pendeteksi memastikan keaslian madu. Dibeli dari 43 kelompok binaan, yang jumlah anggotanya mencapai 1.500 orang. Dimana setiap kelompok beranggotakan 25 orang. Harga per- botol Rp.25.000 (650ml). Dan, rata- rata tiap kelompok menghasilkan 25 botol per- pekan atau 600 botol per- bulan.

Madu biasanya bersumber dari madu gantung di pohon. Tetapi tidak ada perbedaan antara madu gantung atau batu. Kualitas bukan ditentukan tempat tetapi kualitas serbuk bunga. Pengambilan madu dilakukan berdasarkan kearifan lokal, tidak menebang pohon, ataupun merusak hutan. Jumlah 43 orang kelompok bisa menghasilkan 2.000- 10.000 liter madu per- bulan. Roby akan membeli madu mereka seharga Rp.40.000 per- liter.

Kelompok binaan menghasilkan 40- 250 liter madu per- bulan. Tidak mencolok kecuali kelompok tersebut rajin mengamati ke hutan. Proses standarisasi dijalankan lewat showroom. Diberinya kemasan menarik, dan diberi lebel Madu Amfoang Timur, kemudian dikirim ke Jakarta, Surabaya, dan Timor Leste. Dimana Per- bulan perusahaan mengirim 4.000- 5.000 botol ke Jakarta dan Surabaya. Timor Leste sendiri mendapatkan jatah 3.000 botol.

"Permintaan dari Jakarta 12.000 botol, tetapi kami hanya mampu 5.000 botol per bulan," jelas Roby lagi. Kemudian 1.000 botol dipajang di showroom dan didistribusikan ke toko, pusat cendramata, souvenir, dan swalayan 2.000 botol per- bulan. Harga madu ini di kupang Rp.100.000 per- botol (650ml), Jakarta Rp.120.000 per- botol, dan Surabaya Rp.150.000 per- botol. Untuk inovasi ada madu yang diberi ramuan khusus.

Madu vitalitas tersebut dijualnya seharga Rp.100.000 per- botol, tetapi isinya cuma 350ml. Kekuatan dari produk Amfoang sendiri adalah keasliannya. Mampu memberikan alternatif suplemen sehari- hari. Memang CV. Amfoang Jaya dikenal getol mempertahankan keaslian madu. Lima liter madu yang dibeli cuma hasilkan tiga liter saja. Karena namanya madu hutan maka dibuat di hutan, sudah tercampuran air hujan, kotoran, dan lainnya.

Semua unsur sudah dibuang terlebih dahulu dalam proses deteksi. Kepercayaan akan kebersihan memang sangat dijaga CV. Amfoang Jaya. "Madu tidak boleh disimpan di dalam bahan plastik berupa jeriken dan bekas botol air mineral seperti kebanyakan dilakukan masyarakat," jelas Roby. Ada fakta menarik kalau madu disimpan di botol. Katanya akan meledak jika dimasukan ke bekas air mineral, buka karena gas tetapi higenitas.

"Madu di dalam jeriken atau botol plastik sering meledak bukan karena panas, melainkan karena wadah itu kotor," imbuhnya.

Madu baiknya disimpan di wadah tabung gelas atau bekas botol minuman dan sejenisnya. Kelompok binaan tidak cuma diajarkan bagaimana mencari madu tetapi juga menjaga hutan. Karena jika makin rimbun hutan maka semakin potensial madu hutan banyak disana. Ia menjelaskan prospek madu juga karena ini minuman segala usia.

Artikel Terbaru Kami