Jumat, 20 November 2015

Aplikasi Caviar Bermodal Seratus Ribuan

Profil Pengusaha Jason Wang

 

Jason Wang salah satu lulusan terbaik Y Combinator. Sedikit tentang Y Combinator, adalah sebuah sekolah bagi entrepreneur mengembangkan startup. Salah satu alumninya, ya, si Jason Wang ini bermodal startup bernama Caviar. Kisahnya bukan sembarangan karena diakun banknya, Jason cuma memiliki $10 dan punya tunggakan sewa selama dua minggu. Ajaibnya dia tetap survive menghasilkan startup baru dan masuk Forbes 30 Under 30.

Ia mendirikan Caviar karena kelaparan. Bukan kelaparan akan makanan enak seperti tema startup miliknya. Dia kelaparan akan kesuksesan. Jason termasuk sosok aktif menghasilkan rangkaian startup. Bicara yang pertama, dia pernah membuat website tentang Cardcaptor Sakura. Lewat website tersebut ditumpahkan lah segala sesuatu yang ia ketahui. Hasilnya? Website ini menghasilkan 30.000 visitor unik setiap bulan dan $30 dari iklan.

"Beberapa bulan kemudian pencipta Cardcaptors mengemail saya dan menahan nama domain saya, itulah jadi akhir bisnis pertama saya," ungkap Jason kepada awak media Hyperlush.com

Hal selanjutnya dilakukan adalah membuat aplikasi sendiri. Kali ini, Jason menciptakan alat yang mampu menarik data dari Craiglist -salah satu situs promosi terbesar di dunia. Itu sangat menghasilkan tetapi lagi- lagi tindakannya dilawan balik. Pihak Craighlist memaksanya berhenti dan tidak melanjutkan.

"Itulah awal saya memutuskan mencoba bisnis besar," tuturnya. Seperti halnya para entrepreneur muda lain di bidang internet, Jason juga melihat "booming". Salah satunya ketika tengah naik daun situs daily deals maka jadilah dia ikutan nimbrung. Hasilnya sangat memuaskan karena memang dia benar memilih. Dia mengamati langsung dari sang juara Groupon.

Situs juara


Jadi kami memutuskan membuat situs tentang 100% makanan. Itulah awal mula MunchOnMe. "Kami mulai meluncurkan itu di UC Barkley karena mahasiswa suka deal. Peluncurkan MunchOnMe sendiri bertepatan dengan datangnya Paul Graham penggagas Y Combinator. Ini kesempatan bagi mereka merubah posisi di startup mereka. Hasilnya tidak lah buruk, dalam acara tersebut mereka mendapatkan 3.000 pengunjung pertama.

"Setelah peluncuran, kami segara mendapatkan 3.000 mahasiswa untuk deal kami, yang tidak lain adalah free taco," kenang Jason.

Kala itu usaha Jason mendapatkan suntikan dana $18.000. Selepas acara tersebut, mereka mendapatkan satu kesempatan memerkan usaha mereke ke investor. Pitching pertama mereka selam tiga menit dan dilihat banyak investor.

Sayangnya, setelah beberapa tahun berlalu, Jason sadar akan satu hal: Bisnis daily deal bukan bisnis yang bertahan lama. Jugalah tidak menguntungkan menurutnya kala itu. Rangkaian pencarian restoran untuk jadi patner sudah tidak berarti. Faktanya pemilik restoran sudah merasa mereka sudah punya "jalur marketing" -nya sendiri.

Disaat itu, mereka tengah menghadapi kesulitan keuangan. Tidak menghasilkan apapun cuma bertahan dari uang pemodal untuk bertahan. Tetapi tidak, mereka tidak bisa bertahan, dan memutuskan untuk tidak tinggal lama di MunchOnMe. Mereka juga butuh waktu hingga menemukan ide bisnis baru. Butuh waktu sekita satu tahun setengah hingga Caviar ditemukan.

"Pada satu titik waktu, kami hanya memiliki $10 di rekening bank bisnis kami. Biaya sewa sudah menunggak 3 minggu. Dan kita harus membayar $ 600," kenangnya kembali.

Menyimpan. Menjual barang- barang. Meminjam uang. Dan hidup dengan amat sangat sederhana.

Itu adalah masa paling galau penuh keputus asaan. Bayangkan jika tidak dalam tiga minggu membayar $600, mereka akan menutup perusahaan. Jason dan kawan belajar bagaimana caranya bertahan selama tiga minggu tersebut. Hingga Jason Wang menemukan ide bisnis tiba- tiba:

"Suatu hari kami benar- benar ingin makan sandwich yang kami cintai. Tetapi kami tidak ingin pergi ke sana restoran, yang mana butuh berjam- jam karena kemacetan, lalu menunggu dalam antrean untuk satu jam lagi, dan kemudian mengambil satu jam di lalu lintas untuk kembali ke tempat. Kami menelepon dan meminta mereka untuk pengiriman, tapi tentu saja, mereka tidak memberikan," jelasnya mengenai apa itu Caviar.

"Jadi kami mau makanan, tetapi kami tidak mau kehilangan 3 jam untuk mendapatkannya," paparnya lagi. Ini menjadi konsep matang dalam waktu beberapa jam. Jason menyebut konsep layanan pengiriman makanan. Dan menyasar restoran yang enak tetapi tidak memberikan layanan tersebut. Itulah ketika mereka menyadari suatu kesempatan.

Titik balik

Ketika memulai jasa pengiriman makanan, awal sekali, Jason dan kawan- kawan lah yang menjadi tukang kirim barang. Hingga mereka cukup modal mempekerjakn orang lewat Craigslist. Restoran pertama yang ia ajak kerja sama yaitu HRD. Jason menjualkan kimchi burtio mereka.

"Kami hanya memiliki satu item yang Anda bisa membeli di situs pada waktu dan kami hanya beroperasi selama 2 jam," kenangnya kembali.

Mereka memutuskan menjadi perantara mereka. Banyak restoran enak yang tidak mempunyai waktu dalam hal pengiriman. "Saat itu kami hanya bermodal $10," tutur CEO Caviar ini. Mereka menggabungka nilai di dunia maya ke dunia nyata. Hal yang mereka pelajari dari usaha sebulmnya di MunchOnMe. Mereka sadar bahwa situs daily deal mereka berguna, tetapi tidak menggenjot pemasukan perusahaan.

Fakta lain, situs daily deal tidak bukan 24 jam, padahal Jason sudah bekerja 24 jam penuh dari pagi sampai ke malam. Ada kendala logistik yang lantas mereka temukan. Kenapa harus bekerja pagi sampia malam jika masalahnya di logistik. Biaya logistik mahal dan rumit dimanfaatkan perusahaan mereka. Inilah nilai tambah yang coba dikerjakan olehnya. Jason membangun Caviar menjadi jaringan pengiriman lebih baik.

Restoran kemudian sadar bahwa ini bukan soal daily- deal lagi. Mereka menyadari maksud Jason, "kami pun membuka layanan di sejumlah titik di San Fransisco dan terus memperluasnya."

Mereka aktif lagi sendiri sebelum membangun staf. Ada empat orang dalam tim Jason, mereka mengerjakan seperti website, desainer, pengiriman makanan dan dukungan konsumen. Namun, ia masih kekurangan orang berpengalaman. Karena kekurangan orang, meski tidak punya pengalaman soal logistik, Jason turun tangan menjadi bagian pengiriman pesanan.

Ia bahkan mencantumkan nomor pribadinya. Jason ingin menjadi yang pertama tau jikalau kesulitan mungkin terjadi. Dia fokus dikendala mitra restoran dan konsumen. Hal terbaru adalah menambahkan fitur lebih baik soal costumer service ini. Mendirikan aplikasi Caviar berarti mengajak lebih banyak restoran. Awal sekali, mereka baru mendapatkan 2 restoran sudah bahagia setengah mati. Kini, mereka ingin lebih agresif merekrut mitra.

Caviar juga getol merekrut staf dan pekerja. Mereka juga mencoba melihat aspek lain. Tidak mau monoton di bisnis yang sama. Caviar merupakan aplikasi berbasis website. Kemudian tumbuh dijadikan oleh mereka menjadi aplikasi berbasis Android dan iOS. Mereka mencoba memperkenalkan layanan logistik lebih cepat. Alhasil Caviar sendiri tumbuh di 15 kota berbeda di Amerika.

"Meski kami mencapai hal banyak dalam waktu singkat. Kami terus berkomitmen pada mitra- mitra restoran kami dan pelanggan dengan prinsip yang sama yang kami miliki sebelumnya saat memulai bisnis ini," papar Jason. "Kami terus memberikan makan lebih banyak orang," tambahnya. Caviar masih terus memberikan kemudahan menyantap makanan.

"Dan saya bahkan kadang masih menerima pertanyaan konsumen," tutup Jason.

Alamat Twitter @jwang815

Artikel Terbaru Kami