Sabtu, 28 November 2015

Ingin Menjadi Pengusaha Muda Kue Cubit Eropa

Profil Pengusaha Edi Hartono



Edi Hartono memang ingin menjadi pengusaha muda. Pemuda 25 tahun ini tidak berhenti meski telah gagal berulang kali. Ia pernah bekerja di perusahaan, tetapi tidak bertahan lama. Edi memilih membuka usaha jualan keset unik hingga agen telur. Meski gagal, ia tidak kapok meski usaha agen telurnya merugi puluhan juta.

Aneka ragam jajanan dijajakan di jalan. Edi pun tergiur akan untung ditawarkan usaha ini. Pertama kalinya, di tahun 2012, ia membuka usaha makanan krepes. Tidak kunjung juga berhasil usahanya yang disusul oleh kegagalan usaha kentang crispy. Namun, semua berubah, ketika Edi memutuskan mengajak beberapa teman bekerja sama. Salah satunya adalah Melanie Safitri mengerjakan bisnis kue cubit.

"Kita mengangkat kelas kue cubit yang tadinya original saja," tutur Melanie. Kue cubit biasa kini diberi aneka toping enak, seperti choco hazelnut, red velvet dan lain- lain. Modal usaha dikumpulkan Edi bersama teman cuma Rp.6 juta tetapi menghasilkan omzet Rp.10 juta per- bulan.

Tentu ini semua berkat konsep waralaba. Sukses kue cubit yang diberinya nama Kue Cubit Eropa tidak bisa terbendung suksesnya.

Waralaba murah


Walau tidak memiliki latar belakang kuliner tidak membuatnya surut. Ia mencari banyak referensi soal kue ini diberbagai tempat. Contohnya yaitu membeli kue cubit yang katanya enak di sekitaran Jabodetabek. Juga ia mencari ke seluruh penjuru Internet. Satu bulan sudah Edi mencoba resep tersebut satu per- satu. Sampai ia menemukan rasa yang tepat seleranya.

"Kita mau angkat kue cubit jadi camilan berkelas dengan sentuhan rasa-rasa Eropa seperti ini. Sisi Eropanya dari warna, tekstur, rasa dan toping-nya," jelasnya.

Kerja keras membawa hasil maksimal bagi bisnisnya. Edi mulai menjajakan Kue Cubit Eropa dan menuai respon baik dari masyarakat. Kue cubit ini memang modifikasi dari kue cubit tradisional. Total ia membuat 8 varian rasa: taro, original, cappucino, vanilla late, red velvet, green tea, sampai black forest. Untuk topingnya ada ceres, silver queen, kit kat, sampai toblerone.

Awalnya Edi berniat berbisnis untuk dirinya sendiri. Ia lantas mengikuti beberapa pameran produk. Dari mengkuti aneka pameran itulah sampai suatu hari seseorang menanyakan waralaba. Nah, sejak itulah konsep dibikin, Edi menawarkan satu paket investasi terjangkau: paket ekonomis Rp.9,9 juta ketika pameran dan normanya Rp.13 juta dan paket exclusive Rp.20 juta.

Cuma modal mengikuti aneka pameran peminat waralabanya sudah meledak. Total 30 mitra bisnis langsung terjaring seketika pertama kali dari 53 mitra. "Kebanyakan beli yang ekonomis," paparnya. "Beberapa bulan kita buka secara mandiri, lalu ada permintaan franchise. Akhirnya kita buka franchise. Nggak sampai satu tahun bisa di-franchise-kan."

Banyak ibu- ibu rumah tangga tertarik memutar uangnya. Mereka mau berbisnis tetapi tidak merepotkan soal menjalankan. Adapula guru dan anak muda yang menjajal pengalaman berbisnis. Edi lantas menawarkan satu diskon kepada pengusaha muda dibawah 25 tahun. Ia bahkan menyediakan booth gratis kepada tiga orang setiap tahunnya. "Tinggal kirim proposal saja," imbuhnya.

Fasilitas didapat oleh mitra waralaba adalah booth, kompor, loyang, banner produk, seragam kerja, bahan baku awal, kemasan sampai SOP cara pembuatan. Selepas mandiri, mitra waralaba bisa melanjutkan lewat pembelian bahan ke Edi. Gambarannya Rp.9,9 juta menghasilkan laba bersih per- bulan Rp.3 juta. Lantas ia memakai asumsi omzet Rp.350.000 per- hari selama 30 hari.

"Harga per kotak kue cubit Rp 10 ribu isi 10 kue. Omzet per bulan bisa Rp 9-10 juta per bulan. Tanpa franchise fee dan royalty fee," tuturnya.

Bahkan menurut cerita Edi, ada seorang mitra sukses untung Rp.1 juta per- hari, atau balik modal dalam waktu kurang dari satu bulan. Semua itu tergantung kepada tempat berjualan jelasnya. "Saran kami buka di perumahan, pertigaan, food court, dekat sekolah atau dekat kampus," kata Edi. Menanggapi soal karyawan jutek maka ia menawarkan konsep mystery guest.

"...ngecek karyawan. Kita ada tim dibagi per- wilayah, salah satu tugasnya untuk cek kualitas pelayanan," tutup Edi.

Artikel Terbaru Kami