Minggu, 22 November 2015

Usaha Konveksi Mahasiswa Modal Kartu Sakti

Profil Pengusaha Fadliansyah Nasution


 
Seorang wirausahawan muda kelahiran Medan, 21 Februari 1989, yang mana usahanya dibidang konveksi dan fotografi. Menjadi wirausahawan muda memang selalu membawa kisah menarik ditiru. Alkisah, di suatu hari, Fadli mulai menuturkan pengalamannya kepada Koran Sindo Medan. Ia bercerita awal mula masuk ke dunia ini. Dimulai dari mengkover pesanan baju seragam sekolah di SMA 1 Rantauprapat tahun 2006 lalu.

Fadli belum berpikir jauh untuk memulai usaha sendiri. Dia masih fokus mengerjakan kuliahnya apalagi masih semester pertama. Memasuki semester tiga, barulah Fadli merasakan panggilan berwirausaha kembali. Tepat di tahun 2008, mahasiswa semester tiga Ilmu Komputer Universitas Sumatra Utara ini memulai, dimana ia memulai lewat usaha pembuatan baju.

Awal sekali bahkan usahanya tanpa modal. Fadli mengkisahkan cuma bermodal kartu mahasiswa. Dirinya bisa masuk ke dunia konveksi. "Kebetulan, adik saya kuliah di Bogor, dekat dengan Bandung. Jadi, saya mulai kepikiran, kenapa enggak saya memulai usaha sendiri?," jelas Fadli. Nah, disanalah ia mulai akali itu, memberikan pesanan pembuatan baju seragam sekolah.

Bermodal kepercayaan itulah semua usahanya akan dimulai. Dia menggunakan model pembayaran dimuka dan ditambah kartu mahasiswa. Ia menjelaskan kembali, "jadi, saya bisa minta tolong dengan adik saya untuk buat baju di Bandung." Sukses mendapatkan pesanan dari dua sekolah, uang untung tidak dipakai buat kepentingan pribadi. Fadli memilih memutar modal kembali. Modal digunakan untuk membuat aneka baju selanjutnya.

"Niatnya untuk menambah uang jajan kuliah, saya musti jemput bola ke sekolah- sekolah," jelasnya kepada Okezone.com. Ia sadar akan batasan usahanya tersebut. Usaha yang bernama FAN (Focus and Network) ini memilih digerakan dari sekolah- ke sekolah. Hingga, tahun 2010, ia membuka usaha baru yakni dibidang fotografi. Sasaran utama adalah foto pre- wedding dan wedding.

"Selain itu juga menerima percetakan spanduk dan brosur," akunya.

Di tahun 2010, dia mengajak teman- teman bergabung mengerjakan usaha. Namun, sayangnya, usaha milik mereka malah kandas ditengah jalan.

Usaha bersama itu sempat jatuh bangun dan akhirnya kandas. Tetapi keadaan tidak lantas membuatnya jatuh terpuruk. Ia masih bersemangat membangun usaha itu kembali. "Saya kan masih punya simpanan hasil usaha saya yang lama," ujar Fadli. Dia pun gunakan untuk membuat usaha baru dan brand baru. Ia juga mulai aktif meningkatkan kualitas layanan.

Kalau dulu konsep bisnis business- to- costumer, kini, Fadli memilih business- to- business dan hasilnya mengejutkan. Fadli menemukan titik terang lewat konsep B2B ini. Pesanan menjadi semakin banyak saja berdatangan. Bahkan beberapa perusahaan besar di Medan memesan kepadanya. Tidak cuma dalam kota, tetapi bahkan Aceh, Kalimantan, dan lain-lain, ikut memesan. Perbulan FAN miliknya menerima 500- 1000 potong.

Berkat itula omzet usahanya juga naik mencapai puluhan juta. Sukses dalam berbisnis, ternyata, Fadli juga adalah seorang kepala sekolah loh. Dia kepala sekolah SMK Islamic Technology Mariana AL Hidayah. Ia mengaku meski sibuk tetapi FAN selalu menjaga kualitas. Fadli bahkan rela mengawasi sendiri disela- sela kesibukan. Ia juga rela menjemput bola menawarkan ke aneka instansi.

"Kalau sudah begitu, kita enggak akan takut dengan persaingan, karena orang akan percaya dengan produk yang kita buat," tutup presiden chapter wirausaha mandiri di Sumut ini.

Artikel Terbaru Kami