Kamis, 26 November 2015

Jual Kerajinan Bonggol Jagung Jutaan

Profil Pengusaha Eddie Juandi 




Menjadi pegawai sebuah perusahaan pipa terkemukan tidak membuat Eddie puas. Dalam dirinya terdapat satu jiwa kreatifitas tinggi butuh penyaluran. Eddie Juandi memiliki penghasilan lebih dari cukup. Penghasilan rutin tidak membuatnya berhenti dan duduk nyaman. Pria 57 tahun ini benar menginginkan lebih dari sekedar asik mengerjakan laporan.

Ia mulai memutar otak keras. Semenjak tidak bekerja di perusahaan, aneka usaha sudah dilakukan Eddie di rumah. Hingga takdir membawa hidupnya kepada bonggol jagung. Perjalanan mencari usaha berbahan baku mudah dan murah, tetapi menghasilkan produk elegan. Dia menemukan bonggol jagung menjadi solusi tepat usaha. Pasalnya, Bogor tempatnya tinggal, adalah tempat dimana jagung menjadi komoditi.

Sayang, ketika jagung banyak diolah menjadi manisan, maka bonggol jagung terbengkalai seperti sampah. Ia memungut boggol jagung tersebut. Dia teringat suatu hari ketika berkunjung ke rumah teman. Dia memberi Eddie sebuah hiasan dari tempelan bonggol jagung. Eddi tergelitik untuk mengutak- atik bonggol jagung itu menjadi aneka produk.

Imajinasi mengembara membawa pikiran produk dari bonggol jagung. Kebetulan memang di Bogor, jagung menjadi komoditas utama sebagai bahan manisan. Namun bonggolnya terbuang menjadi limbah. Eddie bisa kapan saja menggunakan itu cuma- cuma. Kecintaan akan seni kriya terekspresikan lewat aneka produk dari bonggol jagung.

Hambatan usaha


Awal usaha tersebut terbentur akan fakta: Bonggol jagung itu rapuh mudah rusak. Dia pun tidak tau caranya bagaimana mengeraskan bonggol jagung. Solusi pertama lewat cairan formalin, tetapi, setelah ia pikirkan ini sangat berbahaya untuk dirinya. Tidak puas membawa dirinya ke teman- temanya di Institut Pertanian Bogor (IPB). Lewat mereka lah Eddie mendapatkan campuran kimia yang relatif aman.

Hingga pada suatu titik, perasaan tidak puas kembali menyeruak akan zat kimia tersebut. Dia meyakini pasti ada cara alami mengeraskan dan mengawetkan bonggol jagung. Jawaban baru ditemukan ketika ia bertemu Suku Dayak Kalimantan. Kearifan lokal memperkenalkan ia dengan pengawetan alami, seperti menggunakan garam, pinang, pasak bumi, serta bahan lainnya.

Kerja keras Eddie terbayar mendapatkan hasil seperti diinginkan. Usaha kerajinan bonggol kayu Eddie pun dilanjutkan kembali. Dalam perjalanan sudah tidak terhitunga berapa kali dirinya gagal. Bahkan sang istri mulai meragukan apakah bonggol jagung tersebut laku. Lewat marketing mulut ke mulut usahanya mulai bisa menampakan hasil. Pesanan mengalir selama perjalanan waktu tersebut.

Ia semakin bertekat menaikan nilainya. Eddie bersemangat mengikuti aneka pameran kerajinan. Tidak cuma di dalama negeri tetapi sampai ke luar negeri. Optimisme bertambah ketika mengetahui bonggol jagung jadi satu- satunya. Kini aneka produksi bonggol jagung bisa ditemui di Singapura, Jepang, Belanda, dan Prancis.

"Amerika Serikat saja sebagai negara penghasil jagung terbesar di dunia hanya mengolah bonggol jagung sebatas menjadi pipa rokok," tutur Eddie.

Eddie bisa menghabiskan 40- 50 karung bonggol jagung. Ini cukup bersumber dari satu pasokan pasar saja. Itu saja masih berserakan di jalanan menjadi limbah. Hasil karya Eddie meliputi kap lampu, khususnya kap lampu duduk, kemudian tatakan gelas, tempat tisu, anyaman tas, cooler laptop, sampai tas laptop.

"Waktu itu kalau nggak salah tahun 2008, ada teman ngasih vas bunga. Saya kaget, ternyata vas bunga itu terbuat dari bonggol jagung," kenang Eddie.

Untuk satu kap lampu bisa dikerjakan sampai 4 hari. Karena butuh ketelitian dan waktu lama tak ayal harga bisa mencapai Rp.350 ribuan. Meski karya bonggol jagung sudah dikenal, soal bisnis masih belum tumbuh signifikan. Eddie sadar gairah saja tidak akan mendatangkan modal tetapi prospek bisnis. Sementara kalau modal investasi dari pemerintah menurut Eddi masih kecil dari harapan.

Pendekatan sosial coba dijalankan Eddie. Seperti mengajukan aneka proposal pembiayaan lewat Pemerintah Kota atau Kabupaten. Banyak pemerintah daerah tertarik menjadikan bonggol jagung sebagai sarana. Ia pun lantas mulai mengajar di daerah- daerah. Eddie bersama pemerintah berhasil menginisiasi bengkel- bengkel kecil kerajinan bonggol jagung.

Bertempat di showroom milik pribadinya di Jalan Pembangunan 2 No. 42 Kedung Halang, Bogor, Jawa Tengah, setiap harinya Eddie menghasilkan berbagai produk bonggol jagung. Usahanya cukup disuplai dari pasar- pasar tradisional di sekitar Bogor. Bonggol tersebut dibersihkan terlebih dahulu, baru itu kemudian dikeringkan. Lantas dia akan menambahkan cairan khusus pengawet disana hingga masuk cetakan.

Bonggol dibentuk lingkaran kecil melalui cetakan kayu. Setelah itu disusun menjadi landasan bentuk aneka kreasi bonggol jagung. Meski manual tetapi hasilnya ternyata sangat rapih. Untuk dijual harga kreasi bonggol ini bahkan bisa saharga Rp.1 juta sampai Rp.3 juta tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Artikel Terbaru Kami