Rabu, 18 November 2015

Usaha Penyamakan Kulit Besarnya Miliaran Rupiah

Profil Pengusaha Muchammad Yusuf Tojiri


 
Jumlah penyamakan kulit di Kabupaten Garut mencapai 400 usaha. Dimana mereka mensuport bahan baku untuk industri turunanya, seperti memproduksi tas kulit, sepatu, jaket, dan aksesori lainnya. Sayangnya, beda dengan industri turunannya, usaha penyamakan kulit biasanya masih level rumahan. Tidak ada perkembangan berarti dikehidupan mereka pula.

Sejak tahun 1992, sosok Muchammad Yusuf Tojiri mencoba merubah paradikma usaha penyamakan kulit. Seorang sarjana ilmu agama yang diplot ibunya menjadi guru. Bukannya menjadi guru saja, pria 46 tahun ini malah memilih banting stir menjadi pengusaha penyamakan kulit. Alasannya karena merasa terpanggil fakta usaha penyamakan kulit keluarga tidak berkembang.

"Bisnis penyamakan kulit sangat menjanjikan. Besarnya permintaan selalu dua kali lipat dari kemampuan kita berproduksi," terangnya.

Keluarganya memang punya usaha penyamakan kulit turun- menurun. Tetapi tidak bisa mengaplikasikan apa itu manajemen perusahaan. Yusuf sendiri bukanlah seorang sarjana ilmu bisnis. Tetapi dirinya punya konsep, inovasi, dan kemauan untuk selalu belajar.

Modal ratusan


Untuk menaikan kemampuan usaha kecil keluarga, Yusuf rela merogoh kocek sendiri. Dia mengambil uang dari beasiswa Supersemar 23 tahun lalu. Modal Rp.600.000 tersebut lantas digunakan sebagai modal awal dari nol. Usaha yang dijalankan sambil tetap berkuliah di UIN Bandung. Uang receh yang ia gunakan untuk membeli 60 lembar kulit.

"Kemudian saya samak kulit itu dan dijual. Ternyata untungnya lumayan," kenang Yusuf.

Ia sendiri tidak langsung menikmati hasil jerih payahnya. Uang hasil jualan langsung diputar kembali sebagai modal awal. Bertahap dari keuntungan membuat jumlah kulit meningkat. Kulit yang disamak oleh Yusuf mulai mengikuti jumlah permintaan pasar. Pada 2006, ia sukses membeli tanah di Sukaregang, tujuannya adalah membuat pabrik penyamakan kulit.

Sistem memutarkan keuntungan terus dilakoninya. Sedikit- demi sedikit namun pasti usahanya menyentuh level tertinggi. Yusuf mulai membeli mesin penyamakan kulit. Dibantu modal dan konsultasi oleh PT Sarana Jabar Venture, impian seorang Yusuf tentang usaha berkelas mulai tercapai. Akhirnya, berkat kerja keras tak kenal berhenti, usaha Endies Leather Company menyentuh nilai aset Rp.28 miliar dan beromzet Rp.800 juta.

Yusuf memulai dari mengamati tantangan terbesar dari usaha milik keluarga. Ia pun mulai mengikuti berbagai macam pelatihan dari Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik Yogyakarta. Dari pelatihan tersebut lah ditemukan ramuan pas buat menciptakan kulit terbaik. "...misalnya untuk ketebalan kulit untuk jaket, sarung tangan, dan aksesoris lain," papar Yusuf.

Kelebihan Endies Leather Company ialah inovasi produk tidak monoton. Bahkan menyentuh produk turunan bila dibutuhkan. Seperti baru- baru ini memproduksi sarung tangan kulit sendiri. Produk yang menjadi buruan para pecinta olah raga golf ataupun baseball. Ia sudah melihat pasarnya dan banyak industri meminta dirinya memproduksi. Namun, mengingat permintaan lain juga menumpuk, Yusuf memilih menahan diri untuk tidak jor- joran.

"Jujur saja, saya kwalahan. Dan tidak berani memasok kepastian bahan bakunya. Misalnya, dari Amerika ada merek Timberland pernah meminta saya memasok kulit, namun saat ini masih saya tolak karena pesanan lokal saja kadang masih kwalahan," ujarnya.

Usaha Elco (singkatan) memang dikenal akan kualitasnya. Bahan kulit yang dihasilkan terbilang lebih rapih dalam hal ketebalan. Selain itu adapula kelebihan dibidang warna, dimana Elco memiliki warna yang tidak dimiliki oleh usaha sejenis.

Pengusaha sederhana


Saat ini, perusahaan milik Yusuf mempekerjakan 200 orang karyawan. Dimana laba bersihnya mencapai 120 juta per- bulan. Usaha lain yaitu 12 gerai penjualan jaket kulit dan produk turunan lain. Mereka tersebar yakni di Bali ada 7 gerai, dan sisinya ada di Yogyakarta, Surabaya, dan Garut. Soal pengelolaan ia serahkan kepada masyarakat dimana dia tinggal menyetok barang. Produksi Elco sudah mencapai 120 square meter kulit.

Yusuf sendiri berharap bisa mencapai angka 200 square meter. "Saya mempekerjakan 100 orang, padahal dulu cuma mempekerjakan 3 orang karyawan. Tidak menyangka, padahal orang tua saya dulu inginya saya menjadi guru agama," paparnya. "Ternyata menjadi pengusaha lebih menguntungkan," canda anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Proses finishing memang dioptimalkan. Dimana semua disesuaikan akan permintaan konsumen. Selepas dari pengolahan kemudian diserahkan ke perusahaan leather garment lain atau leather tailor. Agar tidak menjadi layanan buruk maka kulit rejeck akan diolah sendiri. Mereka dijadikan aneka tas kulit, jaket, sabuk, atau aksesoris lain, yang kemudian dipajang di showroom. Hasil produksi sendiri kemudian dipasarkan sampai ke Bali.

Mesin sendiri baru memenuhi kapasitas 30%, jadi masih ada sisa 70% kapasitas terisisa yang sebenarnya sayang kalau tidak dimanfaatkan. Masalah ketersediaan bahan baku dan pengolahan limbah sama menjadi hambatan utama. Dibutuhkan biaya sekitar Rp.5 miliar cuma untuk mengolah limbah produksi. Menurutnya ini sudah mendesark. Oleh karenanya diharapkan pemerintah bisa menyediakan lahan pengolahan limbah ini.

Hal lain, Yusuf juga mencoba mengembangkan tempat pengolahan limah sendiri. Bekerja sama dengan pihak Universitas Islam Bandung diharapkan bisa menciptakan solusi bersama.

Sebagai pengusaha yang tengah maju usahanya. Ia memang "gatal" untuk berekpansi jauh bahkan sampai ke lini bisnis lain. Tetapi hal tersebut selalu ditahan- tahan, semua berkat konsultasi PT. Sarana Jabar Venture yang selalu mengingatkan. Ia mengatakan,"banyak pengusaha tidak bisa menahan diri melakukan ekspansi usaha... Akhirnya banyak yang kolaps."

Artikel Terbaru Kami