Kamis, 19 November 2015

Juragan Bawang Goreng Bapeda Bukan Papeda

Profil Pengusaha Dewi Rahmaniati 

 

Kegemaran suami dijadikan bisnis oleh ibu satu ini. Dewi Rahmaniati, suatu hari, membawa bawang goreng yang sedap untuk suaminya. Ia lantas mecoba meniru cara membuatnya. Hasilnya, bukan cuma enak, tetapi jauh lebih enak dan diakui oleh sang suami langsung. Tak terburu- buru ditawarkan bawang goreng tersebut ke keluarga. Lagi- lagi respon positif diterima oleh Dewi, jadilah awal mula bisnis bawang goreng Bapeda.

Teman- teman datang juga berpendapat sama. Mereka bahkan tertarik memesan ke Dewi. Hingga ia lantas memutuskan menjual bawang goreng racikan tersebut. Produk bernama Bapeda bukan Papeda. Artinya itu kepanjangan dari Bawang Goreng Pedas Bunda. Panggilan Bunda merujuk kepada panggilan sang anak pertamanya. "Biar berbeda dengan panggilan ibu lainnya," ujarnya.

Dengan variasi rasa menggoda membuat Bapeda bukan bawang goreng biasa. Ada rasa teri, pedas, original teri dan orginal bawang. "Permintaanya dalam jumlah sedikit," ujar Dewi. Namun, itu tidak membuatnya jadi patah arah. Bahkan Dewi menyanggupi Bapeda rasa teri Medan spesial. Itu semua untuk menyenangkan satu pelanggan saja.

Di Agustus 2011, bisnisnya mulai berkembang dari 1kg, 2kg, hingga maksimal memproduksi 5kg.

Jujur kualitas bawang yang dihasilkan Dewi masih rendah. Menurutnya masih berminyak dan terkadang ada rasa pahit. Pada awalnya, ia pun menggunakan bungkus plastik biasa, kesemuanya merupakan proses yang berjalan. Hingga permintaan semakin banyak menumbuhkan asa. Sekali produksi, kala itu, ia mengaku sudah menghasilkan 2kg atau omzet Rp.600.000.

Ia bertekat memperbaiki kualitas produknya. Sang ibu mertua sempat merasa tidak nyaman dengan kegiatan baru tersebut. Alih- alih meminta Dewi berhenti, sang mertua malah memberikan solusi berupa alat pengiris bawang. Dia juga membangunkan dapur sendiri. Tiga bulan kemudian, Dewi membeli alat penyaring, hingga hasil bawangnya tidak terlalu berminyak.

Dewi juga mengganti kemasan dengan toples. Serta memulai menjual Bapeda nya melalui Facebook. Sukses Dewi didukung kerabat dan saudaranya. Ia juga dibantu oleh sang suami, yang kebetulan merupakan Ketua Suzuki Jeep Indonesia (SJI) wilayah Bandung, yang kerap aktif mempromosikan Bapeda ke komunitasnya. Teman- teman sang suami menyambut baik dan mengajak istri mereka menjadi reseller.

"Paling banyak Jakarta 30 orang," pungkasnya.

Makanan unik satu ini sudah mempunyai 50 reseller yang tersebar di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Batam, Palembang, dan Sumatra Utara. Bahkan sudah merambah jauh lewat tangan teman- temanya sampai ke Malaysia, Singapura, Dubai, Kuwait, dan California. Di Malaysian sendiri, ia punya kerabat sekaligus pelanggan tetap. Ia setiap sebulan sekali membeli 100 toples. "Teman- teman saya suka ternyata," paparnya.

Untuk musim lebaran permintaan bisa melonjak sampai 1.200 toples. Kemasan rapi serta terdapat hiasan pita membuat Bapeda menarik dijadikan parsel. Ia lantas berpromosi bahwa Bapeda cocok jadi pelengkap kupat sayur dan opor. Ketika musim Haji, Bunda akan berpromosi bahwa Bapeda bisa menjadi bekal kamu ke tanah suci.

"Terkadang reseller tidak kepikiran," jelas Dewi. Meski terkesan mulus dan tanpa hambatan ketika memulai usaha; faktanya tidak demikian. Dia bercerita pernah suatu ketika alat pemotongnya rusak. Ia pun langsung ke Maxindo buat reperasi. Sayangnya, itu membutuhkan waktu lama, padahal Dewi sudah ditunggu banyak pelanggan. Dalam ingatannya lagi waktu begitu sempit, ditambah jasa pengiriman akan tutup H-1 minggu.

"Kalau mau nangis, saya mungkin nangis darah," kenang Dewi. Disaat mendesak muncul sosok yang juga seorang pengusaha. Ia pemilik usaha nasi liwet instan. Dengan senang hati, ia menawarkan pinjaman Dewi alat pemotong bawang miliknya. Dia bahkan mau mengantarkan langsung ke tempat. "Ini benar- benar jalan dari Tuhan," kenangnya haru.

Alat tersebut disebutnya lebih bagus ketimbang mesin. Jika mesinya menghasilkan 20 toples maka pakai alat potong ini bisa 25 toples. Alat tersebut lantas menjadi andalan Dewi menghadapi permintaan pelanggan. Kekurangan dibanding mesin, ya apalagi kalau bukan pedih dimata, karena tidak ada penutup maka aroma bawang menyebar. Untuk kedepan, harapanya menambah mesin lagi, itupun kalau permintaan nambah.

"Biar jadi 'Juragan Bawang Goreng' sebenarnya," candanya. Dewi sendiri memang dikenal kalangan teman- teman sebagai Juragan Bawang Goreng.

Artikel Terbaru Kami