Sabtu, 28 November 2015

Outlet Gian Pizza Renyahnya 100 Persen Mozzarella

Profil Pengusaha Gian Singh Sekhon 



Munculnya Gian Pizza tidak serta merta sukses. Ada kisah Gian Singh Sekhon, pria asing yang lantas jatuh cinta dengan Indonesia dan menetap. Dia mantan teknisi sebuah perusahaan penerbangan Arab Saudi. Nah, dari pekerjaan di perusahaan Aerogulf inilah, ia terpaksa berpindah- pindah tempat tinggal. Hingga pekerjaan itu membawanya menetap cukup lama di Kanada. 

Disini lah, keahlian Gian dalam mengolah pizza krispi khas Kanada ini terbentuk. Kamu sudah merasakan enaknya Gian Pizza -kan? Kreasi Gian Pizza memang menggoda karena keringnya 100 persen terbebas minyak. Selain itu restoran Gian Pizza dibuat sederhana mungkin tidak seperti halnya restoran lain.

Pizza krispi


Ia tinggal cukup lama di Kanada sekitar 7 tahun. Hobinya memasak membawanya berbisnis sendiri. Ia lantas membuka Bella Pizza disana. Usaha pertama tersebut ternyata mendapat sambutan positif. Hingga akhirnya, Gian harus berpindah lagi ke negara lain, dan kini giliranya untuk tinggal di Indonesia. "Saya pikir suatu hari saya harus buka resto disini," paparnya. 

Memulai bisnis dari nol tidak semudah dipikirkan. Sejak menetap di tahun 2000, baru empat tahun kemudian Gian bisa membuka restoran lagi. Sebelum berbisnis dirinya meminta ijin ke usaha Bella Pizza. "...mereka "no problem"," tutur Gian kepada Okezone.

Pertama kali dibuka langsung mengusung selogan pizza khas Kanada. Respon positif masyarakat pecinta pizza pun langung diterima. Pasalnya makanan ini memang berbeda dari pizza kebanyakan. Gian Pizza beda cita rasa dibanding kompetitornya mulai teksturnya. Pizza memiliki ketebalan sesuai, adonan wangi, serta ada keju mozarella berkualitas hingga saus resep rahasia.

Makan pizza Kanada berarti tidak memakai pisau karena disana memang makanan rakyat. Kesan makanan mahal sudah tidak berasa sama sekali ketika kamu masuk ke outletnya. Enaknya Gian Pizza serta suasana inilah menjadi alasan pelanggan setia tumbuh. Untuk mereka yang tidak terbiasa tangan disiapkan pisau dan garpu ketika akan makan.

"Kami memasak pizza menggunakan teknik hand toast. Alatnya kami datangkan dari Kanada," jelas Afifah Sekhon, Direktur Gian Pizza.

Makan pakai tangan memang seolah menjadi aturan Gian Pizza. Tetapi tidak juga memaksa kita melakukan hal tersebut. Pizza Kanada mencerminkan kerakyatan dibanding pizza Italia. Dipastikan tidak adanya unsur minyak melekat di dough begitu tipis dan krispi ketika masak. Meski begitu masih berasa lembut tidak sangat kering seperti leker.

Gian Sekhon memang bukan ahli kuliner. Tetapi kecintaanya dalam memasak pizza membawa jauh. Usaha ini dibuka pertama kali di kawasan Depok, Jawa Barat, di tahun 2004. Kualitas keju didatangkan dari luar agar benar- benar enak. Kemudian ditambah saus berbahan 11 rempah berbeda asli Kanada. "Sausnya kami buat home made, tidak ada ready made," jelas Afifah lagi.

Meski gerai kecil tetapi kejunya benar 100 persen mozzarella. Roti bundar asal Italia ini lantas dikonsep jadi berbagai pizza negara lain. Mulai pizza Jerman berbendera Jerman dan bertoping sosis khas negara ini. Lalu ada pizza asli Italia bertoping standar keju mozzarella. Kemudian Gian Pizza juga mempunyai pizza Greek yang bertoping black olive dan fetta cheese khas Yunani.

Untuk khas Indonesia sendiri pernah dibuat pizza bakso. Sayangnya, kala itu, terasa masih asing terlalu cepat dirasa dikeluarkan sebagai menu utama. "Ke depan nanti, kami akan kembali membuatnya," jelas Afifah lagi.

Seiring berjalannya waktu sampai sekarang sudah memasuki tahun ke sepuluh. Gian Pizza masih konsisten dan bahkan berekspansi dari segi rasa dan menunya. Mereka punya lasagna, spageti, salad ayam dan tuna, cheese bread, chicken wings, garlic bread, bruschetta, salad buah, dan submarine. Nama submarine sendiri adalah yang terspesial dibanding lainnya.

Ini adalah roti home made berlapis- lapis beraneka toping. Menarik karena cuma disajikan di 10 cabang asli bukan lisensi waralaba. Yah semenjak 2015, setelah 10 tahun, lewat pimpinan baru barulah Gian Pizza mulai melirik lezatnya sukses waralaba. Dengan modal omzet Rp.60 juta sampai Rp.100 juta siapa tidak tergiur. Ini belum momen tertentu seperti bulan puasa omzetnya Rp.150 juta per- bulan.

"Per- hari kita bisa jual 40 loyang. Weekend 80 loyang," jelas putri dari Gian Sekhon ini.

Paket investasi waralaba Rp.195 juta, Rp.295 juta, dan Rp.395 juta. Tipe investasinya disesuaikan dengan konsep kios, restoran mini, atau restoran besar. Untuk waralabanya tidak serta- merta agresif tetapi memilih investora yang benar- benar serius tertarik.  "Saya cari orang yang mau turun tangan, orang yang mempunyai passion dan sabar," tutup Gian Sekhon.

Artikel Terbaru Kami